15 Januari 2011

Sejarah Sunda

Sundapura: Tarumanagara, Sunda, Galuh dan Pajajaran
Sebentar lagi Bandung berulang tahun, tanggal 25 September yang ke-195. Bandung identik dengan etnik Sunda, Priangan atau Parahyangan. Bagaimana ceritanya? Panjang!
Tadinya saya hanya mencari-cari asal-usul nama jalan di seputaran Dago, yaitu jalan Purnawarman, Sawunggaling, Mundinglaya, Ciungwanara, Ranggagading, Ranggamalela, Ranggagempol, Hariangbanga, Geusan Ulun, Adipati Kertabumi, Dipati Ukur, Suryakancana, Wira Angunangun, Ariajipang, Prabu Dimuntur, Bahureksa, Wastukancana, Gajah Lumantung, Sulanjana, Badaksinga, Bagusrangin, Panatayuda, dan Singaperbangsa. Tidak banyak yang saya dapat dari pencarian Google, juga tidak punya buku referensi untuk saya dongengkan kembali. Jadi hanya saya tulis asal-usul Sunda saja, mungkin nanti saya temukan juga dongeng atau pun sejarah tentang nama-nama jalan di atas.
Disadur, diringkas, dipotong dan didongengkan kembali oleh saya dari situs catatan sejarah kota Bogor. Silakan baca langsung sumbernya jika anda berminat membaca lebih detil.
Nama Sunda mulai digunakan oleh Maharaja Purnawarman dalam tahun 397M untuk menyebut ibukota kerajaan yang didirikannya, Tarumanagara. Tarusbawa, penguasa Tarumanagara yang ke-13 ingin mengembalikan keharuman Tarumanagara yang semakin menurun di purasaba (ibukota) Sundapura. Pada tahun 670M ia mengganti nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda (selanjutnya punya nama lain yang menunjukkan wilayah/pemerintahan yang sama seperti Galuh, Kawali, Pakuan atau Pajajaran).
Peristiwa ini dijadikan alasan oleh Kerajaan Galuh untuk memisahkan negaranya dari kekuasaan Tarusbawa. Dalam posisi lemah dan ingin menghindarkan perang saudara, Maharaja Tarusbawa menerima tuntutan Raja Galuh. Akhirnya kawasan Tarumanagara dipecah menjadi dua kerajaan, yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh dengan Sungai Citarum sebagai batas (Cianjur ke Barat wilayah Sunda, Bandung ke Timur wilayah Galuh).
Menurut sejarah kota Ciamis pembagian wilayah Sunda-Galuh adalah sebagai berikut:
  • Pajajaran berlokasi di Bogor beribukota Pakuan
  • Galuh Pakuan beribukota di Kawali
  • Galuh Sindula yang berlokasi di Lakbok dan beribukota Medang Gili
  • Galuh Rahyang berlokasi di Brebes dengan ibukota Medang Pangramesan
  • Galuh Kalangon berlokasi di Roban beribukota Medang Pangramesan
  • Galuh Lalean berlokasi di Cilacap beribukota di Medang Kamulan
  • Galuh Pataruman berlokasi di Banjarsari beribukota Banjar Pataruman
  • Galuh Kalingga berlokasi di Bojong beribukota Karangkamulyan
  • Galuh Tanduran berlokasi di Pananjung beribukota Bagolo
  • Galuh Kumara berlokasi di Tegal beribukota di Medangkamulyan
Tarusbawa bersahabat baik dengan raja Galuh Bratasenawa atau Sena. Purbasora –yang termasuk cucu pendiri Galuh– melancarkan perebutan tahta Galuh di tahun 716M karena merasa lebih berhak naik tahta daripada Sena. Sena melarikan diri ke Kalingga (istri Sena; Sanaha, adalah cucu Maharani Sima ratu Kalingga).
Sanjaya, anak Sena, ingin menuntut balas kepada Purbasora. Sanjaya mendapat mandat memimpin Kerajaan Sunda karena ia adalah menantu Tarusbawa. Galuh yang dipimpin Purbasora diserang habis-habisan hingga yang selamat hanya satu senapati kerajaan, yaitu Balangantrang.
Sanjaya yang hanya berniat balas dendam terpaksa harus naik tahta juga sebagai Raja Galuh, sebagai Raja Sunda ia pun harus berada di Sundapura. Sunda-Galuh disatukan kembali hingga akhirnya Galuh diserahkan kepada tangan kanannya yaitu Premana Dikusuma yang beristri Naganingrum yang memiliki anak bernama Surotama alias Manarah.
Premana Dikusuma adalah cucu Purbasora, harus tunduk kepada Sanjaya yang membunuh kakeknya, tapi juga hormat karena Sanjaya disegani, bahkan disebut rajaresi karena nilai keagamaannya yang kuat dan memiliki sifat seperti Purnawarman. Premana menikah dengan Dewi Pangreyep –keluarga kerajaan Sunda– sebagai ikatan politik.
Di tahun 732M Sanjaya mewarisi tahta Kerajaan Medang dari orang tuanya. Sebelum ia meninggalkan kawasan Jawa Barat, ia mengatur pembagian kekuasaan antara putranya, Tamperan dan Resiguru Demunawan. Sunda dan Galuh menjadi kekuasaan Tamperan, sedangkan Kerajaan Kuningan dan Galunggung diperintah oleh Resiguru Demunawan.
Premana akhirnya lebih sering bertapa dan urusan kerajaan dipegang oleh Tamperan yang merupakan ‘mata dan telinga’ bagi Sanjaya. Tamperan terlibat skandal dengan Pangreyep hingga lahirlah Banga (dalam cerita rakyat disebut Hariangbanga). Tamperan menyuruh pembunuh bayaran membunuh Premana yang bertapa yang akhirnya pembunuh itu dibunuh juga, tapi semuanya tercium oleh Balangantrang.
Balangantrang dengan Manarah merencanakan balas dendam. Dalam cerita rakyat Manarah dikenal sebagai Ciung Wanara. Bersama pasukan Geger Sunten yang dibangun di wilayah Kuningan Manarah menyerang Galuh dalam semalam, semua ditawan kecuali Banga dibebaskan. Namun kemudian Banga membebaskan kedua orang tuanya hingga terjadi pertempuran yang mengakibatkan Tamperan dan Pangreyep tewas serta Banga kalah menyerah.
Perang saudara tersebut terdengar oleh Sanjaya yang memimpin Medang atas titah ayahnya. Sanjaya kemudian menyerang Manarah tapi Manarah sudah bersiap-siap, perang terjadi lagi namun dilerai oleh Demunawan, dan akhirnya disepakati Galuh diserahkan kepada Manarah dan Sunda kepada Banga.
Konflik terus terjadi, kehadiran orang Galuh sebagai Raja Sunda di Pakuan waktu itu belum dapat diterima secara umum, sama halnya dengan kehadiran Sanjaya dan Tamperan sebagai orang Sunda di Galuh. Karena konflik tersebut, tiap Raja Sunda yang baru selalu memperhitungkan tempat kedudukan yang akan dipilihnya menjadi pusat pemerintahan. Dengan demikian, pusat pemerintahan itu berpindah-pindah dari barat ke timur dan sebaliknya. Antara tahun 895M sampai tahun 1311M kawasan Jawa Barat diramaikan sewaktu-waktu oleh iring-iringan rombongan raja baru yang pindah tempat.
Dari segi budaya orang Sunda dikenal sebagai orang gunung karena banyak menetap di kaki gunung dan orang Galuh sebagai orang air. Dari faktor inilah secara turun temurun dongeng Sakadang Monyet jeung Sakadang Kuya disampaikan.
Hingga pemerintahan Ragasuci (1297M–1303M) gejala ibukota mulai bergeser ke arah timur ke Saunggalah hingga sering disebut Kawali (kuali tempat air). Ragasuci sebenarnya bukan putra mahkota. Raja sebelumnya, yaitu Jayadarma, beristrikan Dyah Singamurti dari Jawa Timur dan memiliki putra mahkota Sanggramawijaya, lebih dikenal sebagai Raden Wijaya, lahir di Pakuan. Jayadarma kemudian wafat tapi istrinya dan Raden Wijaya tidak ingin tinggal di Pakuan, kembali ke Jawa Timur.
Kelak Raden Wijaya mendirikan Majapahit yang besar, hingga jaman Hayam Wuruk dan Gajah Mada mempersatukan seluruh nusantara, kecuali kerajaan Sunda yang saat itu dipimpin Linggabuana, yang gugur bersama anak gadisnya Dyah Pitaloka Citraresmi pada perang Bubat tahun 1357M. Sejak peristiwa Bubat, kerabat keraton Kawali ditabukan berjodoh dengan kerabat keraton Majapahit.
Menurut Kidung Sundayana, inti kisah Perang Bubat adalah sebagai berikut (dikutip dari JawaPalace):
Tersebut negara Majapahit dengan raja Hayam Wuruk, putra perkasa kesayangan seluruh rakyat, konon ceritanya penjelmaan dewa Kama, berbudi luhur, arif bijaksana, tetapi juga bagaikan singa dalam peperangan. Inilah raja terbesar di seluruh Jawa bergelar Rajasanagara. Daerah taklukannya sampai Papua dan menjadi sanjungan empu Prapanca dalam Negarakertagama. Makmur negaranya, kondang kemana-mana. Namun sang raja belum kawin rupanya. Mengapa demikian? Ternyata belum dijumpai seorang permaisuri. Konon ceritanya, ia menginginkan isteri yang bisa dihormati dan dicintai rakyat dan kebanggaan raja Majapahit. Dalam pencarian seorang calon permaisuri inilah terdengar khabar putri Sunda nan cantik jelita yang mengawali dari Kidung Sundayana.
Apakah arti kehormatan dan keharuman sang raja yang bertumpuk dipundaknya, seluruh Nusantara sujud di hadapannya. Tetapi engkau satu, jiwanya yang senantiasa menjerit meminta pada yang kuasa akan kehadiran jodohnya. Terdengarlah khabar bahwa ada raja Sunda (Kerajaan Kahuripan) yang memiliki putri nan cantik rupawan dengan nama Diah Pitaloka Citrasemi.
Setelah selesai musyawarah sang raja Hayam Wuruk mengutus untuk meminang putri Sunda tersebut melalui perantara yang bernama tuan Anepaken, utusan sang raja tiba di kerajaan Sunda. Setelah lamaran diterima, direstuilah putrinya untuk di pinang sang prabu Hayam Wuruk. Ratusan rakyat menghantar sang putri beserta raja dan punggawa menuju pantai, tapi tiba-tiba dilihatnya laut berwarna merah bagaikan darah. Ini diartikan tanda-tanda buruk bahwa diperkirakan putri raja ini tidak akan kembali lagi ke tanah airnya. Tanda ini tidak dihiraukan, dengan tetap berprasangka baik kepada raja tanah Jawa yang akan menjadi menantunya.
Sepuluh hari telah berlalu sampailah di desa Bubat, yaitu tempat penyambutan dari kerajaan Majapahit bertemu. Semuanya bergembira kecuali Gajahmada, yang berkeberatan menyambut putri raja Kahuripan tersebut, dimana ia menganggap putri tersebut akan “dihadiahkan” kepada sang raja. Sedangkan dari pihak kerajaan Sunda, putri tersebut akan “di pinang” oleh sang raja. Dalam dialog antara utusan dari kerajaan Sunda dengan patih Gajahmada, terjadi saling ketersinggungan dan berakibat terjadinya sesuatu peperangan besar antara keduanya sampai terbunuhnya raja Sunda dan putri Diah Pitaloka oleh karena bunuh diri. Setelah selesai pertempuran, datanglah sang Hayam Wuruk yang mendapati calon pinangannya telah meninggal, sehingga sang raja tak dapat menanggung kepedihan hatinya, yang tak lama kemudian akhirnya mangkat. Demikian inti Kidung.
Sunda-Galuh kemudian dipimpin oleh Niskala Wastukancana, turun temurun hingga beberapa puluh tahun kemudian Kerajaan Sunda mengalami keemasan pada masa Sri Baduga Maharaja, Sunda-Galuh dalam prasasti disebut sebagai Pajajaran dan Sri Baduga disebut oleh rakyat sebagai Siliwangi, dan kembali ibukota pindah ke barat.
Menurut sumber Portugis, di seluruh kerajaan, Pajajaran memiliki kira-kira 100.000 prajurit. Raja sendiri memiliki pasukan gajah sebanyak 40 ekor. Di laut, Pajajaran hanya memiliki 6 buah Jung (kapal laut model Cina) untuk perdagangan antar-pulaunya (saat itu perdagangan kuda jenis Pariaman mencapai 4000 ekor/tahun).
Selain tahun 1511 Portugis menguasai Malaka, VOC masuk Sunda Kalapa, Kerajaan Islam Banten, Cirebon dan Demak semakin tumbuh membuat kerajaan besar Sunda-Galuh Pajajaran semakin terpuruk hingga perlahan-lahan pudar, ditambah dengan hubungan dagang Pajajaran-Portugis dicurigai kerajaan di sekeliling Pajajaran. Stop.
Lanjut!
Setelah Kerajaan Sunda-Galuh-Pajajaran memudar kerajaan-kerajaan kecil di bawah kekuasaan Pajajaran mulai bangkit dan berdiri-sendiri, salah satunya adalah Kerajaan Sumedang Larang (ibukotanya kini menjadi Kota Sumedang). Kerajaan Sumedang Larang didirikan oleh Prabu Geusan Ulun Adji Putih atas perintah Prabu Suryadewata sebelum Keraton Galuh dipindahkan kembali ke Pakuan Pajajaran, Bogor.
Kerajaan Sumedang pada masa Prabu Geusan Ulun mengalami kemajuan yang pesat di bidang sosial, budaya, agama (terutama penyebaran Islam), militer dan politik pemerintahan. Setelah wafat pada tahun 1608, putranya, Pangeran Rangga Gempol Kusumadinata/Rangga Gempol I atau yang dikenal dengan Raden Aria Suradiwangsa naik tahta. Namun, pada saat Rangga Gempol memegang kepemimpinan, pada tahun 1620M Sumedang Larang dijadikan wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram di bawah Sultan Agung, dan statusnya sebagai ‘kerajaan’ diubah menjadi ‘kabupaten’.
Sultan Agung memberi perintah kepada Rangga Gempol I beserta pasukannya untuk memimpin penyerangan ke Sampang, Madura. Sedangkan pemerintahan sementara diserahkan kepada adiknya, Dipati Rangga Gede. Hingga suatu ketika, pasukan Kerajan Banten datang menyerbu dan karena setengah kekuatan militer kabupaten Sumedang Larang diberangkatkan ke Madura atas titah Sultan Agung, Rangga Gede tidak mampu menahan serangan pasukan Banten dan akhirnya melarikan diri. Kekalahan ini membuat marah Sultan Agung sehingga ia menahan Dipati Rangga Gede, dan pemerintahan selanjutnya diserahkan kepada Dipati Ukur. Sekali lagi, Dipati Ukur diperintahkan oleh Sultan Agung untuk bersama-sama pasukan Mataram untuk menyerang dan merebut pertahanan Belanda di Batavia (Jakarta) yang pada akhirnya menemui kegagalan. Kekalahan pasukan Dipati Ukur ini tidak dilaporkan segera kepada Sultan Agung, diberitakan bahwa ia kabur dari pertanggungjawabannya dan akhirnya tertangkap dari persembunyiannya atas informasi mata-mata Sultan Agung yang berkuasa di wilayah Priangan.
Setelah habis masa hukumannya, Dipati Rangga Gede diberikan kekuasaan kembali untuk memerintah di Sumedang, sedangkan wilayah Priangan di luar Sumedang dan Galuh (Ciamis) dibagi kepada tiga bagian; Pertama, Kabupaten Bandung, yang dipimpin oleh Tumenggung Wiraangunangun, kedua, Kabupaten Parakanmuncang oleh Tanubaya dan ketiga, kabupaten Sukapura yang dipimpin oleh Tumenggung Wiradegdaha atau R. Wirawangsa atau dikenal dengan “Dalem Sawidak” karena memiliki anak yang sangat banyak.
Selanjutnya Sultan Agung mengutus Penembahan Galuh bernama R.A.A. Wirasuta yang bergelar Adipati Panatayuda atau Adipati Kertabumi III (anak Prabu Dimuntur, keturunan Geusan Ulun) untuk menduduki Rangkas Sumedang (Sebelah Timur Citarum). Selain itu juga mendirikan benteng pertahanan di Tanjungpura, Adiarsa, Parakansapi dan Kuta Tandingan. Setelah mendirikan benteng tersebut Adipati Kertabumi III kemudian kembali ke Galuh dan wafat. Nama Rangkas Sumedang itu sendiri berubah menjadi Karawang karena kondisi daerahnya berawa-rawa, karawaan.
Sultan Agung Mataram kemudian mengangkat putra Adipati Kertabumi III, yakni Adipati Kertabumi IV menjadi Dalem (Bupati) di Karawang, pada Tahun 1656M. Adipati Kertabumi IV ini juga dikenal sebagai Panembahan Singaperbangsa atau Eyang Manggung, dengan ibu kota di Udug-udug. Pada masa pemerintahan R. Anom Wirasuta putra Panembahan Singaperbangsa yang bergelar R.A.A. Panatayuda I antara Tahun 1679M dan 1721M ibu kota Karawang dari Udug-udug pindah ke Karawang. Stop.
Jadi nama jalan Sawunggaling, Mundinglaya, Ranggagading, Ranggamalela, Suryakancana, Ariajipang, Bahureksa, Gajah Lumantung, Sulanjana, Badaksinga dan Bagusrangin belum saya temukan dongeng atau sejarahnya, sebagian –kalau tidak salah ingat– adalah tokoh-tokoh dalam cerita rakyat Lutung Kasarung.
Sumber : http://yulian.firdaus.or.id/2005/09/23/sundapura/

Mengenal Asal Usul Angklung

Bandung, yang berada di tanah parahyangan erat kaitannya dengan kesenian tradisi sunda dimana terdapat bermacam-macam alat kesenian yang diwariskan salah satu diantaranya alat kesenian tradisi sunda yang dinamakan sebagai angklung, alat musik tradisional yang terbuat dari bambu, yang dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil. Laras (nada) alat musik angklung sebagai musik tradisi Sunda kebanyakan adalah salendro dan pelog.
Dalam rumpun kesenian yang menggunakan alat musik dari bambu dikenal jenis kesenian yang disebut angklung dan calung, dimana calung dikenal sebagai alat musik Sunda yang merupakan prototipe dari angklung. Berbeda dengan angklung yang dimainkan dengan cara digoyangkan, cara menabuh calung adalah dengan mepukul batang (wilahan, bilah) dari ruas-ruas (tabung bambu) yang tersusun menurut titi laras (tangga nada) pentatonik (da-mi-na-ti-la). Jenis bambu untuk pembuatan calung kebanyakan dari awi wulung (bambu hitam), namun ada pula yang dibuat dari awi temen (bambu yang berwarna putih).
Adapun jenis bambu yang biasa digunakan sebagai angklung adalah awi wulung (bambu berwarna hitam) dan awi temen (bambu berwarna putih). Purwa rupa alat musik angklung dan calung mirip sama; tiap nada (laras) dihasilkan dari bunyi tabung bambunya yang berbentuk wilahan (batangan) setiap ruas bambu dari ukuran kecil hingga besar.
Dikenal oleh masyarakat sunda sejak masa kerajaan Sunda, di antaranya sebagai penggugah semangat dalam pertempuran. Fungsi angklung sebagai pemompa semangat rakyat masih terus terasa sampai pada masa penjajahan, itu sebabnya pemerintah Hindia Belanda sempat melarang masyarakat menggunakan angklung, pelarangan itu sempat membuat popularitas angklung menurun dan hanya di mainkan oleh anak- anak pada waktu itu.
Asal usul terciptanya musik bambu, seperti angklung dan calung berdasarkan pandangan hidup masyarakat Sunda yang agraris dengan sumber kehidupan dari padi (pare) sebagai makanan pokoknya. Hal ini melahirkan mitos kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan (hirup-hurip).
Perenungan masyarakat Sunda dahulu dalam mengolah pertanian (tatanen) terutama di sawah dan huma telah melahirkan penciptaan syair dan lagu sebagai penghormatan dan persembahan terhadap Nyai Sri Pohaci, serta upaya nyinglar (tolak bala) agar cocok tanam mereka tidak mengundang malapetaka, baik gangguan hama maupun bencana alam lainnya. Syair lagu buhun untuk menghormati Nyi Sri Pohaci tersebut misalnya:
Si Oyong-oyong
Sawahe si waru doyong
Sawahe ujuring eler
Sawahe ujuring etan
Solasi suling dami
Menyan putih pengundang dewa
Dewa-dewa widadari
Panurunan si patang puluh
Selanjutnya lagu-lagu persembahan terhadap Dewi Sri tersebut disertai dengan pengiring bunyi tabuh yang terbuat dari batang-batang bambu yang dikemas sederhana yang kemudian lahirlah struktur alat musik bambu yang kita kenal sekarang bernama angklung dan calung. ewi Shri atau Dewi Sri adalah dewi percocok tanaman , terutama padi dan sawah di pulau Jawa dan Bali. Ia memiliki pengaruh di dunia bawah tanah dan terhadap bulan. Ia juga dapat mengontrol bahan makanan di bumi dan kematian. Karena ia merupakan simbol bagi padi, ia juga dipandang sebagai ibu kehidupan. Sebagai tokoh yang sangat diagung-agungkan, ia memiliki berbagai versi cerita, kebanyakan melibatkan Dewi Sri (Dewi Asri, Nyi Pohaci) dan saudara laki-lakinya Sedana (Sadhana atau Sadono), dengan latar belakang Kerajaan Medang Kamulan, atau kahyangan (dengan keterlibatan dewa-dewa seperti Batara Guru), atau kedua-duanya. Di beberapa versi, Dewi Sri dihubungkan dengan ular sawah sedangkan Sadhana dengan burung sriti. Orang Jawa tradisional memiliki tempat khusus di tengah rumah mereka untuk Dewi Sri agar mendapatkan kemakmuran yang dihiasi dengan ukiran ular. Di masyarakat pertanian, ular yang masuk ke dalam rumah tidak diusir karena ia meramalkan panen yang berhasil, sehingga malah diberi sesajen. Di Bali, mereka menyediakan kuil khusus untuk Dewi Sri di sawah. Orang Sunda memiliki perayaan khusus dipersembahkan untuk Dewi Sri.
Perkembangan selanjutnya dalam permainan Angklung tradisi disertai pula dengan unsur gerak dan ibing (tari) yang ritmis (ber-wirahma) dengan pola dan aturan=aturan tertentu sesuai dengan kebutuhan upacara penghormatan padi pada waktu mengarak padi ke lumbung (ngampih pare, nginebkeun), juga pada saat-saat mitembeyan, mengawali menanam padi yang di sebagian tempat di Jawa Barat disebut ngaseuk. Demikian pula pada saat pesta panen dan seren taun dipersembahkan permainan angklung dan calung. Terutama pada penyajian Angklung yang berkaitan dengan upacara padi, kesenian ini menjadi sebuah pertunjukan yang sifatnya arak-arakan atau helaran, bahkan di sebagian tempat menjadi iring-iringan Rengkong dan Dongdang serta Jampana (usungan pangan) dan sebagainya. (Sumber diperoleh dari wapedia.mobi/id/Angklung)0.

Kampung Naga

Adat yang Selaras Ajaran Islam
Suasana
 Kampung Naga (GATRA/M Agung Riyadi)Kentongan ditabuh 11 kali. Gemanya menyebar ke seantero Kampung Naga, permukiman suku Naga di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Tasikmalaya, Jawa Barat. Ateng Djaelani, 58 tahun, seorang lebai atau pemuka agama Kampung Naga, segera beranjak dari duduknya. Ia mengambil totopong, ikat kepala khas suku Naga, dan kain sarung.
Hari itu, Jumat, sekitar pukul 11 siang, warga kampung siap melaksanakan salat Jumat. Ateng tak segera berangkat ke masjid yang berjarak beberapa langkah dari rumahnya. Ia dan kebanyakan warga lainnya baru akan beranjak ke masjid 15 menit menjelang azan dikumandangkan. Sebelum azan, kentongan dipukul lagi beberapa kali yang diikuti dengan beduk.
Pada Jumat terakhir sebelum Ramadan lalu, Kampung Naga kedatangan rombongan pelajar yang tengah berwisata. Mereka berbaur dengan penduduk kampung melaksanakan salat Jumat. Ruangan masjid berukuran 10 x 10 meter itu dijejali jamaah. Biasanya, jika tak ada wisatawan, ruang masjid hanya terisi tiga perempatnya. Maklumlah, kampung seluas 4 hektare itu hanya dihuni 314 warga.
Pada kesempatan itu, Danu, 64 tahun, ketua pengurus masjid, bertindak selaku khatib dan imam salat Jumat. Ia berceramah selama 15 menit menggunakan bahasa Sunda, diselingi dengan doa dan bacaan rukun khotbah Jumat yang berbahasa Arab. Tak ada pengeras suara, karena warga Kampung Naga tak mengenal listrik.
Selagi kaum pria melaksanakan salat, kaum wanitanya sibuk memasak makanan untuk acara pengajian yang dilaksanakan setelah salat Jumat. Usai salat, kaum wanita berdatangan ke masjid membawa makanan yang disusun dalam kotak-kotak makanan untuk dibagikan kepada para jamaah. Pada hari itu, yang menjadi penceramah pengajian adalah Ustad Andi Ahmad Jahid dari Kantor Urusan Agama (KUA) Sukaresik, Tasikmalaya.
Temanya seputar keutamaan memelihara akhlak yang baik dalam kehidupan bermasyarakat. Pengajian ini rutin diadakan di Kampung Naga pada Jumat terakhir setiap bulan. Penceramahnya adalah para penyuluh agama Islam dari Departemen Agama yang ditempatkan di KUA-KUA setempat. Warga Kampung Naga antusias mengikuti pengajian bulanan yang berlangsung sejak dua tahun silam itu.
Masjid dipenuhi jamaah laki-laki dan perempuan, tua, muda, dan anak-anak. Selain pengajian bulanan, setiap sore juga diadakan pengajian rutin selepas salat magrib untuk anak-anak. Di sana mereka diajari tata cara salat, membaca Al-Quran, dan pelajaran agama lainnya.
Nuansa religius kental mewarnai kehidupan warga Kampung Naga. Seluruh penduduknya menganut Islam, sembari menjalani tradisi keberagamaan yang unik. Mereka memadukan ajaran Islam dengan tradisi adat Sunda secara harmonis sebagai rujukan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Misalnya, dalam perhitungan waktu, masyarakat Kampung Naga memakai perhitungan berdasarkan bulan dalam penanggalan Hijriah seperti Muharam, Syawal, Zulhijah, dan Ramadan. Namun mereka menggunakan bilangan tahun yang berasal dari tradisi Sunda. Warga Kampung Naga mengenal delapan kategori tahun, dimulai dari tahun alif, he, jim awal, ze, dal, wau, dan jim akhir.
Kalender delapan tahunan ini dalam tradisi Jawa disebut windu. Nama tahun yang digunakan suku Naga sama dengan yang berlaku di kalangan masyarakat Jawa tradisional. Jika bilangan tahun Hijriah dan Masehi tidak berulang, maka bilangan tahun dalam tradisi Kampung Naga akan selalu berulang setiap delapan tahun. ”Hidup itu tidak lurus, tapi melingkar. Orang hidup di dunia untuk kembali lagi ke akhirat,” kata Ateng, menjelaskan makna bilangan tahun yang berulang itu.
Dengan hitung-hitungan itulah, masyarakat Kampung Naga menentukan waktu-waktu yang cocok untuk bercocok tanam dan perhitungan hari baik lainnya. Perpaduan antara Islam dan tradisi juga terlihat pada cara masyarakat Kampung Naga menyambut hari-hari besar Islam. Setiap menyambut hari besar Islam, seperti Tahun Baru Hijriah di bulan Muharam, Maulid Nabi Muhammad, Idul Fitri, dan Idul Adha, masyarakat Kampung Naga mengadakan upacara yang disebut hajat sasih.

Hajat sasih adalah serangkaian upacara yang bertujuan menghormati leluhur, sekaligus ungkapan rasa syukur kepada Allah atas segala nikmat yang telah diberikan. Dengan begitu, mereka berharap mendapat berkah dalam menjalani kehidupan. Dalam menyambut Ramadan kali ini, misalnya, masyarakat Kampung Naga mengadakan upacara hajat sasih dua pekan menjelang puasa.
Rangkaian upacaranya selalu sama, yakni dimulai dengan mandi di Sungai Ciwulan, yang melintasi wilayah Kampung Naga. Tujuannya, menyucikan diri dari segala kotoran. Setelah itu, para warga berwudu dan mengenakan pakaian adat berupa gamis putih beserta totopong, lalu berbaris rapi menuju masjid.
Sebelum memasuki masjid, mereka mencuci kaki dan melakukan gerakan menghormat ke arah masjid dengan menangkupkan telapak tangan di dada seraya membungkukkan badan. Maknanya adalah menghormati tempat ibadah dan merendahkan diri di hadapan Allah Yang Mahabesar.
Setelah itu, mereka duduk sembari memegang sapu lidi yang akan digunakan untuk membersihkan makam leluhur Kampung Naga. Makam itu terletak di bukit di sebelah barat kampung, di dalam sebuah hutan keramat yang disebut Leuweung Larangan. Ada dua hutan larangan (keramat) di Kampung Naga. Yang pertama di sebelah barat, yang satu lagi di sebelah timur.
Hutan larangan di sebelah timur tabu dimasuki warga. Sedangkan hutan yang di barat boleh dimasuki warga pada saat-saat tertentu. Orang luar kampung tidak diperkenankan masuk ke areal hutan dan makam. Ada tiga makam yang dipercaya sebagai makam Eyang Singaparana dan dua pengikutnya, cikal bakal penduduk Kampung Naga.
Ketika warga berkumpul di masjid, para tetua adat, seperti kuncen, lebai, dan punduh, berjalan menuju Bumi Ageung (rumah besar tempat penyimpanan pusaka). Hanya kuncen yang diperbolehkan masuk ke Bumi Ageung, yang juga dikeramatkan untuk menyiapkan perlengkapan membersihkan makam.
Setelah siap, warga dipimpin kuncen memasuki areal makam. Lalu kuncen membakar kemenyan dan meminta izin kepada arwah Eyang Singaparana sambil menghadap ke arah kiblat. Selanjutnya warga membersihkan makam dengan sapu lidi yang dibagikan di masjid.
Usai membersihkan makam, kuncen mempersilakan lebai mempimpin doa dan pembacaan ayat-ayat suci Al-Quran. Setelah berdoa, para peserta bersalaman dengan kuncen, lalu berjalan keluar areal makam. Perkakas yang digunakan untuk membersihkan makam, seperti sapu lidi, kemudian dicuci di Sungai Ciwulan, selajutnya disimpan di plafon masjid. Upacara kemudian diteruskan di dalam masjid, dengan pembacaan doa.
Sebelum membaca doa, kuncen dan lebai berkumur terlebih dahulu untuk membersihkan mulut dari segala kotoran. Setelah itu, kuncen membakar kemenyan dan membaca doa pembukaan. Lalu pembacaan doa dilanjutkan oleh lebai dan diakhiri dengan pembacaan surat Al-Fatihah. Setelah itu, berakhirlah rangkaian upacara hajat sasih, dan para peserta diperkenankan memakan nasi tumpeng yang disediakan.
Selain rituat hajat sasih, Kampung Naga juga mengenal tradisi menyepi yang dilakukan setiap Selasa, Rabu, dan Sabtu. Sifatnya individual alias diserahkan pada kesanggupan tiap-tiap individu untuk melaksanakannya. Inti menyepi ini adalah menghindari diri dari berkata yang sia-sia.
Tak ada yang tahu sejak kapan ajaran Islam masuk ke Kampung Naga. Menurut Ateng, sejak awal terbentuknya, masyarakat Kampung Naga sudah memeluk agama Islam. Menurut kepercayaan, warga Kampung Naga adalah keturunan Kerajaan Galunggung Islam. Mereka keturunan Eyang Singaparana, anak bungsu Prabu Rajadipuntang, Raja Galunggung ke-7.
Kerajaan Galunggung diserbu Pajajaran pada 1520-an. Penyebabnya, penduduk Kerajaan Galunggung memeluk agama Islam, sehingga Raja Pajajaran pada saat itu, Prabu Surawisesa, menganggap Galunggung memberontak. Menghadapi serbuan itu, Prabu Rajadipuntang menyerahkan seluruh harta pusaka kerajaan kepada Singaparana, yang kemudian lari bersembunyi.
Diperkirakan, tempat persembunyiannya ada di wilayah Kampung Naga sekarang ini. Namun orang Kampung Naga sendiri mengaku tak tahu-menahu sejarah awal keberadaan mereka, selain kepercayaan bahwa mereka adalah keturunan Eyang Singaparana. Pusaka dan catatan sejarah penginggalan Eyang Singaparana, yang disimpan di Bumi Ageung, musnah terbakar ketika kampung itu diserang pasukan DI/TII pada 1956.
Pada waktu itu, rumah penduduk, lumbung padi, Bumi Ageung, dan harta benda milik warga ludes dibakar. Warga kampung, termasuk Ateng yang pada waktu itu baru berusia enam tahun, mengungsi ke wilayah lain. Serangan itu terjadi lantaran penduduk Kampung Naga dianggap menjalankan tradisi sesat.
Tradisi keberagamaan Kampung Naga yang unik memang kerap dituding sesat oleh sebagian kalangan. Bahkan pernah suatu ketika, ada warga Kampung Naga sendiri yang beranggapan demikian setelah menuntut ilmu di pesantren. Sebuah tesis yang ditulis Syukriadi Sambas mengisahkan, pada 1966 ada seorang warga Kampung Naga yang pulang dari pesantren. Dari pengalamannya menimba ilmu itu, ia berkesimpulan bahwa tradisi di Kampung Naga –terutama tradisi bercocok tanamnya– bertentangan dengan ajaran Islam.
Tradisi bercocok tanam masyarakat Kampung Naga memang unik. Setelah dilakukan perhitungan waktu yang tepat oleh kuncen, kaum laki-laki pergi ke sawah masing-masing untuk membakar dupa, pertanda akan dimulainya musim tanam. Lalu warga membaca doa berikut: ”Allahumma puter giling tulak bala saking gumiling aya di wetan bilih balai aya di wetan pulang deui ka wetan tunggal hurip ku kersaning Allah, laa ilaha ilallah, selamet.”
Setelah itu, dimulailah prosesi penanaman padi. Tradisi yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam inilah yang diubah oleh si santri. Kuncen atau pemimpin adat Kampung Naga pada waktu itu, Djaja Sutidja, menerima kritik itu dan mengikuti keinginan si santri. Maka, penanaman padi ketika itu disesuaikan dengan perhitungan tata cara yang biasa dilakukan masyarakat umum. Namun, anehnya, hasil pertanian gagal, padi-padi diserang hama wereng sehingga rusak.
Dari kejadian itu, masyarakat Kampung Naga belajar bahwa untuk urusan keduniaan seperti waktu dan tata cara tanam padi memang tidak khusus diatur dalam Islam. Karena itu, bagi mereka, tak soal jika menggunakan sistem perhitungan di luar batas ajaran Islam. Tradisi perhitungan tanam padi pun tetap dipertahankan seperti semula.
Selain itu, menurut cerita Ateng, pernah pula pada pertengahan 1990-an ada sekelompok orang yang mengaku dari aliran Islam tertentu mengajak warga meninggalkan tradisi mereka. ”Kami diminta mengikuti ajaran yang mereka bawa karena kami dituding sesat,” kata Ateng. Upaya ini gagal karena warga tidak menggubrisnya. Kelompok itu pun pergi dan tak pernah kembali.
Upaya-upaya mengintervensi keyakinan warga Kampung Naga praktis berhenti beberapa tahun belakangan, setelah pihak Departemen Agama turun tangan melakukan pembinaan rohani masyarakat. Pembinaan keagamaan ini, menurut Andi Ahmad Jahid, bukan untuk meluruskan tradisi keagamaan masyarakat yang sesat. ”Saya tidak melihat ada yang menyimpang pada ibadah keagamaan di sini,” kata Andi. Menurut dia, tata cara ibadah masyarakat Kampung Naga tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Karena itu, tujuan pengajian rutin oleh Departemen Agama adalah untuk membina akhlak masyarakat Kampung Naga yang menurut dia sudah baik. ”Kami menjaga, jangan sampai masyarakat kampung mendapat pengaruh buruk dari luar,” tuturnya.
Bukti bahwa masyarakat Kampung Naga tidak sesat, kata Andi, mereka tidak menjalani kehidupan yang eksklusif dan tertutup. Mereka tetap menghormati lembaga-lembaga pemerintahan daerah dan pusat. Selain lembaga adat yang dipimpin kuncen, lebai, dan punduh, masyarakat Kampung Naga juga mengenal lembaga seperti RT, RW, dan lurah.
Untuk urusan warga seperti pengurusan kartu tanda penduduk dan akta kelahiran, warga kampung menyerahkan urusannya kepada Risman, sang ketua RT. Untuk urusan pernikahan pun, mereka patuh pada aturan dari KUA, dan syarat rukunnya dilakukan sesuai dengan ajaran Islam. Sementara itu, untuk bersekolah, anak-anak Kampung Naga bersekolah di SD, SMP, dan SMA yang ada di wilayah Kabupaten Tasikmalaya.
Tudingan sesat, menurut Danu, ketua pengurus masjid Kampung Naga, muncul karena orang-orang di luar kampung tak memahami keunikan tradisi keberagamaan Kampung Naga. ”Sehingga muncul anggapan bahwa kami mencampuradukkan agama dan adat,” kata Danu. Padahal, tradisi adat hanya dijalankan dalam konteks muamalah, semisal pernikahan, perhitungan waktu tanam padi, atau memperingati hari-hari besar agama.
Sementara itu, untuk peribadatan, menurut Danu, warga Kampung Naga mengikuti tradisi ahlusunah waljamaah. Rukun-rukun dalam peribadatan masyarakat Kampung Naga, seperti salat, zakat, dan puasa, tak berbeda dari masyarakat Islam Indonesia lainnya. Dengan begitu, keselarasan ajaran adat dengan ajaran Islam tetap terjaga. ”Saya berharap, masyarakat luar tak lagi salah paham pada tradisi keagamaan Kampung Naga,” ujarnya.
Sumber : Majalah GATRA

TARI RONGGENG YANG MASIH BERBAU “MISTIK”

Asal-usul
Ciamis adalah suatu daerah yang ada di Jawa Barat. Di sana ada tarian khas yang bernama “Ronggeng Gunung”. Ronggeng Gunung sebenarnya masih dalam koridor terminologi ronggeng secara umum, yakni sebuah bentuk kesenian tradisional dengan tampilan seorang atau lebih penari. Biasanya dilengkapi dengan gamelan dan nyanyian atau kawih pengiring. Penari utamanya adalah seorang perempuan yang dilengkapi dengan sebuah selendang. Fungsi selendang, selain untuk kelengkapan dalam menari, juga dapat digunakan untuk “menggaet” lawan (biasanya laki-laki) untuk menari bersama dengan cara mengalungkan ke lehernya.
Ada beberapa versi tentang asal usul tari ronggeng salah satunya cerita berikut ini hanya jalan ceritanya yang berbeda. Dalam versi ini perkawinan antara Dewi Siti Samboja dan Raden Anggalarang, putra Prabu Haur Kuning dari Kerajaan Galuh, tidak. direstui oleh ayahnya. Untuk itu, pasangan suami-isteri tersebut mendirikan kerajaan di Pananjung, yaitu daerah yang kini merupakan Cagar Alam Pananjung di obyek wisata Pangandaran. Suatu saat kerajaan tersebut diserang oleh para perompak yang dipimpin oleh Kalasamudra, sehingga terjadi pertempuran. Namun, karena pertempuran tidak seimbang, akhirnya Raden Anggalarang gugur. Akan tetapi, istrinya, Dewi Siti Samboja, berhasil menyelamatkan diri.dan mengembara. Dalam pengembaraannya yang penuh dengan penderitaan, sang Dewi akhirnya menerima wangsit agar namanya diganti menjadi Dewi Rengganis dan menyamar sebagai ronggeng. Di tengah kepedihan hatinya yang tidak terperikan karena ditinggal suaminya, Dewi Rengganis berkelana dari satu tempat ke tempat lainnya. Tanpa terasa, gunung-gunung telah didaki dan lembah-lembah dituruni. Namun, di matanya masih terbayang bagaimana orang yang dijadikan tumpuan hidupnya telah dibunuh para perompak dan kemudian mayatnya diarak lalu dibuang ke Samudera Hindia. Kepedihan itu diungkapkan dalam lagu yang berjudul “Manangis”. Berikut ini adalah syairnya.
Ka mana boboko suling
Teu kadeuleu-deuleu deui
Ka mana kabogoh kuring
Teu Kadeulu datang deui
Singkat cerita, pergelaran ronggeng akhirnya sampai di tempat Kalasamudra dan Dewi Samboja dapat membalas kematian suaminya dengan membunuh Kalasamudra ketika sedang menari bersama.
Cerita mengenai asal usul tari yang digunakan untuk “balas dendam” ini membuat Ronggeng Gunung seakan berbau maut. Konon, dahulu orang-orang Galuh yang ikut menari menutup wajahnya dengan kain sarung sambil memancing musuhnya untuk ikut hanyut dalam tarian. Oleh karena wajah mereka tertutup sarung, maka ketika musuh mereka terpancing dan ikut ke tengah lingkaran, sebilah pisau mengintip menunggu saat yang tepat untuk ditikamkan. Selain itu, dahulu kesenian Ronggeng Gunung bagi masyarakat Ciamis selatan, bukan hanya merupakan sarana hiburan semata, tetapi juga digunakan sebagai pengantar upacara adat seperti: panen raya, perkawinan, khitanan, dan penerimaan tamu. Mengingat fungsinya yang demikian, maka sebelum pertunjukan dimulai, diadakan sesajen untuk persembahan kepada para leluhur dan roh-roh yang ada di sekitar tempat digelarnya tarian, agar pertunjukan berjalan dengan lancar. Bentuk sesajennya terdiri atas kue-kue kering tujuh macam dan tujuh warna, pisang emas, sebuah cermin, sisir, dan sering pula ditemukan rokok sebagai pelengkap sesaji.

Sajarah Sunda

Bhineka Tunggal Ika teh lambang nagara Republik Indonesia. Eta lambang hartosna “rupa-rupa tapi hiji “, ngandung hartos yen Indonesia diwangun ku rupa-rupa sukubangsa, kabudayaan, katut nusa, tapi sakumna sapuk ngahiji jadi bangsa Indonesia pikeun ngudag hiji cita-cita nasional nya eta masyarakat adil jeung ma’mur.
Salasahiji anggota bangsa Indonesia nya eta sukubangsa Sunda anu miboga kabudayaan jeung lemah cai sorangan, wujudna mangrupa kabudayaan Sunda jeung Tanah Sunda atawa Tatar Sunda. Kecap Sunda anu ngandung harti wewengkon atawa daerah mimiti kacatet dina prasasti (Prasasti Juru Pangambat) taun 458 Saka (536 Masehi). Anu pasti pisan Sunda sabage nagara (karajaan) kacatet dina prasasti Sanghiyang Tapak taun 952 Saka (1030 Masehi). Dina ieu prasasti disebutkeun sababaraha kali yen Sri Jayabhupati ngaku sabage raja Sunda. Tanah Sunda perenahna di beulah kulon hiji pulo anu ayeuna jenenganana Pulo Jawa. Ku kituna eta wewengkon disebut oge Jawa Kulon. Ceuk urang Walanda mah West Java. Sacara formal istilah West Java digunakeun ti mimiti taun 1925, nalika pamarentah kolonial ngadegkeun pamarentah daerah anu statusna otonom sarta make ngaran Provincie West Java. Ti mimiti zaman Republik Indonesia (1945) eta ngaran propinsi anu make basa Walanda teh diganti ku basa Indonesia jadi Propinsi Jawa Barat.
Sangkan jaga henteu nimbulkeun salah paham atawa ngabingungkeun, pedaran ngeunaan sajarah Sunda dibagi dua. Kahiji, medar harti sajarah jeung gambaran sajarah Sunda nurutkeun kabudayaan Sunda. Kadua, medar sajarah Sunda dumasar hasil panalungtikan elmu sajarah. Soalna, harti sajarah sacara tradisi dina hirup kumbuh urang Sunda mangsa katukang geuning beda atawa aya bedana jeung harti sajarah dumasar elmu sajarah ayeuna. Sacara tradisi harti sajarah ceuk urang Sunda teu bina ti legenda atawa mitologi, nyaritakeun kahirupan manusa di ieu dunya, tapi bari dipacampurkeun hirup kumbuhna jeung kahirupan mahluk gaib kayaning jin, arwah luluhur, sato kajajaden. Apan sajarah nurutkeun elmu sajarah mah kudu nyaritakeun kahirupan manusa di ieu dunya anu sajalantrahna, bisa dibuktikeun manusa-manusana kungsi hirup di ieu dunya tur kahirupanana enya-enya kungsi kajadian. Atuh dina nyaritakeunana kudu kaharti ku akal (rasional), marele (sistematis), jeung runut runtuyan waktuna (kronologis).
Dina ieu kasempetan pedaran sajarah Sunda diwatesanan ku sajarah Sunda periode Karajaan Sunda jeung Karajaan Galuh anu ngawengku waktu kurang leuwih 9 abad ti mimiti ahir abad ka-7 nepi ka ahir abad ka-16 Masehi.

I. SAJARAH SUNDA JEROEUN KABUDAYAAN SUNDA
Dumasar titinggal tinulis anu mangrupa prasasti jeung naskah, dina abad wewelasan urang Sunda geus katembong gede kasadaran sajarahna. Sababaraha prasasti anu dikaluarkeun ku raja Sunda disebutna sakakala. Eta istilah ngandung harti pangeling-ngeling; pangeling-ngeling ka mangsa katukang. Jadi, prasasti sakakala hartina prasasti anu dikaluarkeun atawa eusina pikeun mieling hiji hal (kajadian, kaayaan) anu geus kalakonan. Beda jeung prasasti piteket, nya eta prasasti anu dikaluarkeun pikeun mutuskeun hiji hal atawa anu eusina kaputusan raja ngeunaan hiji hal. Eusi prasasti sakakala nyaritakeun kajadian atawa kaayaan mangsa katukang, ari prasasti piteket ngembarkeun hal anu kajadian harita. Kukituna prasasti sakakala leuwih eces nembongkeun kasadaran sajarahna tibatan prasasti piteket, sok sanajan duanana oge ngandung ajen dokumen historis. Prasasti Batutulis anu aya di kota Bogor ayeuna bisa dijadikeun conto prasasti sakakala. Ieu prasasti anu ditulis make basa Sunda (kuna) dikaluarkeun ku Prabu Surawisesa (raja Sunda nu marentah taun 1521-1535) taun 1533 pikeun mieling ramana, Sri Baduga Maharaja (raja Sunda nu marentah taun 1482-1521), anu pupus 12 taun kalangkung (1521) bari sakalian ngayakeun upacara srada, nya eta upacara pikeun nyampurnakeun arwah luluhur. Dina ieu prasasti dicaritakeun ngeunaan gelar Sri Baduga Maharaja anu sababaraha kali gentos luyu sareng kalungguhanana, luluhur Sri Baduga, jeung hasil garapanana. Unina awal eta prasasti kieu. “Wan na pun. Iti sakakala Prebu Ratu purane pun. …” (Mugi-mugi salamet. Ieu tanda mieling haturan Prebu Ratu almarhum. …). Conto prasasti piteket nya eta prasasti Sanghiyang Tapak anu dikaluarkeun ku Sri Jayabhupati, raja Sunda taun 1030-1042. Ieu prasasti ngabewarakeun kaputusan Sri Jayabhupati ngeunaan wates daerah kabuyutan (daerah kaagamaan) Sanghiyang Tapak, larangan ngaganggu eta daerah kabuyutan, larangan ngala lauk di walungan nu aya di eta daerah, jeung ancaman hukuman ka sing saha anu ngalanggar larangan-larangan kasebut.
Luhurna kasadaran sajarah urang Sunda harita katembong oge tina amanat Rakeyan Darmasiksa, raja Sunda taun 1175-1297, ka putra-putuna, jembarna ka sakumna urang Sunda sapandeurieunana. Eta amanat kaunggel dina naskah Amanat Galunggung anu ditulis dina daun lontar make aksara jeung basa Sunda (kuna). Unina kieu.
“Hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke.
Aya ma beuheula aya tu ayeuna, hanteu ma beuheula hanteu tu ayeuna.
Hana tunggak hana watang, tan hana tunggak tan hana watang.
Hana ma tunggulna aya tu catangna.”
(Aya bareto aya jaga, lamun teu aya bareto moal aya jaga.
Aya baheula aya ayeuna, lamun teu aya baheula moal aya ayeuna.
Aya iteuk aya dahan, lamun teu aya iteuk moal aya dahan.
Lamun aya tunggul tangtu aya urut tangkalna.)
Hiji cecekelan hirup manusa anu sifatna historis, ngandung tilu dimensi sajarah: mangsa katukang, mangsa ayeuna, jeung mangsa nu bakal datang. Yen dina ngalakonan hirup alam ayeuna perlu nyoreang jeung ngaca ka alam tukang sarta seukeut deuleu jeung teteg hate dina nyanghareupan alam nu bakal kasorang. Sabab, saur Ayatrohaedi oge, sajarah teh nya eta tapak lacak nu kasorang, cecekelan urang leumpang, enggoning ngudag tujuan.
Atuh babaran sajarah anu luyu jeung eta kasadaran sajarah aya contona, seperti babaran sajarah nu aya dina naskah Bujangga Manik (disusun memeh taun 1511) jeung naskah Carita Parahiyangan (disusun teu lila ti saruntagna Karajaan Sunda). Bujangga Manik nyaritakeun pangalaman pangarangna (Prabu Jaya Pakuan) nalika ngalalana ngurilingan Pulo Jawa jeung Bali. Sacara ringkes Carita Parahiyangan nyaritakeun sajarah Karajaan Sunda jeung Karajaan Galuh ti mimiti ngadeg nepi ka runtagna. Raja-raja Sunda jeung Galuh ditataan saurang-saurang bari disebutkeun lilana nyekel pamarentahan.
Hanjakal pisan kasadaran sajarah jeung cara nyusun sajarah kitu teh henteu lana, da sabadana mah sajarah teh dihartikeunana meh sarua jeung legenda, malah sarua jeung mitologi. Atuh carita-carita sajarahna oge disusun dumasar eta harti nepi ka eusina pacampur antara sajarah jeung legenda atawa mitologi. Tegesna, sajarah meh taya bedana jeung dongeng. Gambaran sajarah kitu teh babakuna lamun nyaritakeun zaman Karajaan Sunda, Karajaan Galuh, jeung sumebarna Islam di Tanah Sunda. Katembong pisan saruntagna Karajaan Sunda jeung Karajaan Galuh urang Sunda ngagungkeun eta dua karajaan. Zaman harita dianggapna, malah dipercaya, sabage zaman ideal urang Sunda. Katelahna zaman harita teh zaman subur ma’mur loh jinawi, rea ketan rea keton, tata tengtrem kerta raharja. Tapi ngagungkeunana ku carita anu sifatna legendaris atawa mitologis boh dina wangunan tradisi lisan boh dina wangunan tradisi tulisan. Tradisi lisan ngawujudna dina carita pantun, carita legenda hiji tempat, kapercayaan sabubuhan masyarakat, saperti carita pantun Mundinglaya di Kusumah, Ciung Wanara, Lutung Kasarung, legenda leuweung Sancang, kapercayaan kana maung kajajaden anu asalna rayat Pajajaran. Tradisi tulisan ngawujud dina naskah, saperti Babad Pajajaran, Carios Prabu Siliwangi, Wawacan Kean Santang, Sajarah Banten, Carita Dalem Pasehan. Mundinglaya di Kusumah, putera raja Pajajaran, bisa ngapung nyaba ka langit padahal henteu jangjangan sarta bisa ngelehkeun mahluk gaib raksasa (Jonggrang Kalapetung) ku kakuatan gaib. Ciung Wanara keur mangsa orokna dipalidkeun ka walungan, terus nyangsang dina badodon (alat paranti ngala lauk) Aki Balangantrang, tapi henteu kua-kieu, salamet. Guruminda, putera (dewa) Sunan Ambu, ti kaindraan turun ka dunya bari nyamar jadi lutung (Lutung Kasarung) sangkan patepung jeung putera mahkota, Purbasari. Ku kakuatan gaib Guruminda bisa ngayakeun karaton nu singsarwa endah jeung ngabendung walungan masing-masing dina waktu ukur sapeuting. Kean Santang, putera raja Pajajaran Prabu Siliwangi, bisa napak rancang dina beungeut cai laut nyebrang nepi ka tanah Arab. Di Arab Kean Santang tepang sareng Bagenda Ali, oge Nabi Muhammad. Kean Santang lebet Islam, alatan eleh jajaten teu mampuh nyabut iteuk Bagenda Ali anu ditanclebkeun kana taneuh. Sunan Burung Baok, putera Prabu Siliwangi, bisa nerus bumi ti Pakuan (Bogor) ka Suci (Garut) bulak-balik.
Harti jeung gambaran sajarah kitu teh di kalangan tertentu masyarakat Sunda masih keneh lumangsung nepi ka ayeuna. Nepi ka taun 1984 hiji tokoh Sunda di Bandung sok ngadatangkeun roh Prabu Siliwangi anu ngajirim dina awak anak buahna. Sacara teu sadar eta anak buahna nembangkeun kidung anu pikasediheun bari gerak-gerikna siga maung. Dina hiji pajumuhan ilmiah sim kuring kungsi medar sababaraha urang raja Sunda anu hengker tur goreng adat jeung laku-lampahna nepi ka ngabalukarkeun karajaan jadi nyirorot kakuatanana, malah ahirna mah runtag samasakali (1579). Teu lila ti harita muncul komentar-komentar anu sifatna emosional ti sababaraha tokoh Sunda. Aranjeunna nganaha-naha sarta henteu nampi eta pedaran kalawan alesan anu teu jelas. Ringkesna mah, aranjeunna henteu suka raja Sunda digogoreng kitu. Padahal pedaran sim kuring dumasar kana informasi tina naskah Carita Parahiyangan anu disusun ku pangarang warga keneh Karajaan Sunda. Minangkana mah eta pangarang manghanjakalkeun ka raja-raja Sunda anu talajakna kitu.
Harti jeung gambaran sajarah Sunda saperti dipedar di luhur teh mimiti muncul dina awal abad ka-18 sanggeus kabudayaan Jawa asup ka jero kabudayaan Sunda. Asupna kabudayaan Jawa ka Tanah Sunda di mimitian ku asupna kakawasaan Kasultanan Mataram ka Priangan (1625) jeung ka Cirebon (1650). Saenyana dina ahir abad ka-17 nepi ka awal abad ka-18 masih aya keneh tulisan sajarah (historiografi) anu sifatna historis dihasilkeun di Tatar Sunda, nya eta ti Cirebon jeung ti Banten anu geus ngajanggelek jadi karajaan Islam (kasultanan). Bisa jadi eta tulisan sajarah teh, di sagigireun masih keneh aya pangaruh alam pikiran zaman samemehna, oge dipangaruhan ku konsep sajarah nurutkeun paham Islam. Asupna kabudayaan Islam ka Tatar Sunda dimimitian ku kagiatan buniaga jeung mukimna para sodagar Islam di palabuan-palabuan Karajaan Sunda. Eta kaum muslimin ditangtayungan ku Kasultanan Demak (1475-1546). Tapi sanggeus kakawasaan di Tanah Sunda aya dina cangkingan pamarentah kolonial Walanda (ti wangkid 1800) harti jeung gambaran sajarah anu miboga sifat legendaris/mitologis teh beuki ngandelan tur nerekab ka meh sakumna masarakat Sunda. Sigana mah eta teh perlambang kaayaan sabenerna yen urang Sunda geus teu boga kakawasaan deui di lemah caina, anu nyampak ngan kakawasaan nu aya di awang-awang atawa dina lamunan. Pikeun ngabeberah hate nya digambarkeun yen urang Sunda bisa hirup kumbuh pacampur jeung mahluk gaib, malah bisa ngelehkeun maranehanana.
Aya dua masalah anu sajalan tur pikatajieun upama dibahas dina raraga ieu pedaran. Kahiji, masalah Pajajaran sabage jenengan karajaan. Kadua, masalah identitas Prabu Siliwangi. Dina meh sakumna tradisi tulis jeung tradisi lisan anu disusun sabada asupna pangaruh kabudayaan Jawa jeung kakawasaan Walanda, karajaan di Tanah Sunda samemeh asupna Islam make jenengan Pajajaran. Eta tradisi miboga sifat jeung ajen sastra. Padahal dina sumber-sumber sajarah mah (prasasti, naskah primer, beja ti mancanagara) di Tanah Sunda teu aya nagara anu jenenganana Pajajaran. Istilah Pajajaran atawa lengkepna Pakuan Pajajaran dina eta sumber sajarah dipake pikeun nyebut jenengan puseur dayeuh, lain ngaran nagara. Ari jenengan nagarana mah nya eta Sunda, Karajaan Sunda.
Timbulna Pajajaran jadi jenengan nagara, bisa jadi ngaliwatan proses luyu jeung perjalanan sajarahna. Ti taun 1579 Karajaan Sunda taya wujudna deui, sabab geus runtag. Nu masih aya keneh wujudna iwal ti titinggalna (prasasti, arca, batu tahta, benteng, jalan, makam, tatangkalan, tradisi lisan) nu dumuk di patilasan puseur dayeuh karajaan. Eta titinggal kasaksian keneh ku urang Walanda nu datang ka eta tempat taun 1687, 1690, 1703, 1704, jeung 1709. Sababaraha titinggal kasebut masih bisa disaksikeun keneh nepi ka kiwari. Bisa kaharti lamun zaman harita jenengan puseur dayeuh Pakuan Pajajaran mindeng disebut-sebut. Ahirna fungsi istilah Pakuan Pajajaran jadi robah. Anu tadina sacara gembleng sabage jenengan puseur dayeuh, saterusna pecah jadi dua. Pakuan pikeun jenengan puseur dayeuh sarta Pajajaran pikeun jenengan nagara. Memang istilah Pakuan Pajajaran asalna tina dua kecap anu miboga harti sewang-sewangan. Pakuan asalna tina kecap paku (ngaran sabangsaning tutuwuhan palm) atawa kecap akuwu (tempat padumukan raja), ditambah ahiran an atawa awalan pa jeung ahiran an anu nuduhkeun harti katerangan tempat; tempat anu loba tangkal pakuna atawa tempat padumukan raja. Pajajaran asalna tina kecap jajar, ditambah awalan pa jeung ahiran an anu nuduhkeun kaayaan tempat; kaayaan (tangkal paku atawa patempatan) nu ngajajar. Aya nu nafsirkeun Pakuan Pajajaran teh nuduhkeun loba tangkal paku anu ngajajar di sabudereun karaton atawa sabudereun puseur dayeuh. Aya oge tafsiran Pakuan Pajajaran teh nuduhkeun lima wangunan anu ngajajar di kompleks karaton. Dina Carita Parahiyangan eta lima wangunan karaton disebut jenenganana Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati.
Istilah Sunda sabage jenengan nagara kaluli-luli, lila-lila robah dipake jenengan wewengkon, penduduk, katut kabudayaanana, nya eta Tanah Sunda (oge Selat Sunda, Sunda Besar, Sunda Kecil, jeung Dataran Sunda), urang Sunda, jeung kabudayaan Sunda. Kituna mah memang aya kabiasaan di kalangan masarakat yen jenengan puseur dayeuh, malah jenengan karaton, sok dipake pikeun nyebut jenengan nagara, saperti Surosowan di Banten, Ngayogyakarta jeung Surakarta di Tanah Jawa.
Teu aya deui raja Pajajaran anu pangkamashurna iwal ti Prabu Siliwangi. Tegesna, Prabu Siliwangi teh raja Pajajaran anu taya tandingna. Waktu dimasalahkeun, naha Karajaan Pajajaran ngan boga hiji-hijina raja anu kamashur? Sacara tradisi jawabna teh, kusabab sadaya raja Pajajaran jenenganana Prabu Siliwangi. Kukituna aya Prabu Siliwangi kahiji, kadua, katilu, jeung saterusna, saperti oge raja Majapahit di Tanah Jawa, aya Prabu Brawijaya kahiji, kadua, katilu jeung saterusna. Samemeh jadi raja Pajajaran, Prabu Siliwangi ngalaman heula hirup prihatin kulantaran dipikangewa ku dulur terena. Memang anjeunna putra raja Pajajaran, nuju alit kakasihna Sang Pamanahrasa. Kasieunan mahkota karajaan ragrag ka Sang Pamanahrasa, anu memang hakna, dulur terena kungsi rek nandasa, tapi sacara gaib teu mempan. Saterusna Sang Pamanahrasa dibalur kulitna nepi ka rupana jadi hideung sarta dijual ka sudagar, tapi dijual deui ka raja daerah Sindangkasih nu perenahna di wewengkon Cirebon ayeuna. Kusabab laku lampahna hade tur loba kabisa, Sang Pamanahrasa dipulung minantu ku raja Sindangkasih, malah teu mangkuk lami diangkat jadi raja Sindangkasih ngagentos mertuana. Sanggeus identitasna kabuka sarta ku kamotekaran jeung kasantikaanana, ahirna Sang Pamanahrasa dijungjung lungguh raja Pajajaran. Ti harita jenenganana digentos jadi Prabu Siliwangi. Anjeunna kongas raja wijaksana, nyaah ka rayat, gede wawanen, loba akal tarekah, sareng sifatna adil palamarta. Cindekna, pribadi Prabu Siliwangi mangrupa tokoh manusa, pamingpin, sareng raja nu ideal. Eta anggapan, malah kapercayaan, hirup keneh di kalangan urang Sunda nepi ka kiwari.
Kiwari jenengan Karajaan Pajajaran jeung Prabu Siliwangi dipake pikeun ngajenenganan rupa-rupa hal, saperti lembaga pendidikan, jalan, majalah, organisasi. Basana teh ngalap berkah tina nanjungna Karajaan Pajajaran jeung seungitna Prabu Siliwangi sarta itung-itung ngalanggengkeun sajarah luluhur. Pajajaran diantarana dipake jenengan hiji universitas utama di Tanah Sunda, organisasi kasenian, jalan, majalah, teks lagu, jeung sajaba ti eta. Kitu deui siliwangi dipake jenengan kasatuan militer di Tanah Sunda, universitas, organisasi pamuda, bioskop, jalan, majalah/suratkabar, jeung sajaba ti eta.
Taun 1966 Moh. Amir Sutaarga ngumumkeun hasil panalungtikanana ngeunaan identitas Prabu Siliwangi ditilik tina jihad sajarah. Dumasar perbandingan rupa-rupa sumber boh anu miboga ajen sastra boh anu mibona ajen sajarah boh ajen sejenna anjeunna nyindekkeun yen Prabu Siliwangi sabage tokoh sastra identik sareng Sri Baduga Maharaja sabage tokoh sajarah. Eta tokoh teh luhung elmuna, loba hasil garapanana, gede wewesenna, sarta dipikaserab kapamingpinanana. Tapi nurutkeun Ayatrohaedi, tokoh sastra Prabu Siliwangi teh identik sareng tokoh sajarah Prabu Niskala Wastukancana, akina Sri Baduga Maharaja. Prabu Niskala Wastukancana (1371-1475) kongas wijaksana, nanjeurkeun hukum, hirup sederhana religius (satmata), sarta ngutamakeun kapentingan rayat. Pamiangan eta kacindekan dumasar kana katerangan naskah Sanghiyang Siksakandang Karesian yen taun 1518 jenengan Siliwangi geus jadi ngaran lalakon carita pantun. Kukituna mustahil raja anu nyangking kalungguhan keneh jenenganana parantos dianggo ngaran carita pantun anu sifatna sastra. Tapi deuih Ayatrohaedi henteu nolak kacindekan Moh. Amir Sutaarga. Saurna, bisa jadi duanana disinugrahan gelar Prabu Siliwangi ku rayatna, lantaran duanana raja agung tur populer. Saurna deui, jenengan Prabu Siliwangi asalna tina Prabu Wangi, gelar almarhum Prabu Maharaja, ramana Prabu Niskala Wastukancana, anu kawangikeun alatan gugur di Bubat (1357) nuju ngabela kahormatan nagara katut lemah caina.
Ahir Karajaan Sunda digambarkeun oge di jero kabudayaan Sunda. Gambaranana henteu negatif, lain aib, tapi sabage parobahan anu sifatna alamiah. Prabu Siliwangi keukeuh mageuhan agemanana (zaman heubeul), tapi henteu nyarek putrana (Walangsungsang, Rarasantang, Kean Santang) lebet Islam (zaman anyar). Prabu Siliwangi nutup lalakonna ku cara ngahiyang ka alam kalanggengan, putrana nguniang hudang nyieun sajarah anyar.
Kukituna, kaayaan urang Sunda katut lemahcaina dina mangsa Karajaan Pajajaran, nurutkeun kabudayaan Sunda mah mangrupa kaayaan ideal, mangsa Sunda jaya. Prabu Siliwangi digambarkeun sabage pahlawan kabudayaan Sunda. Timbulna gambaran kitu teh, jigana, kulantaran sabadana mangsa Karajaan Pajajaran, urang Sunda katut lemahcaina terus-terusan pinanggih jeung kaprihatinan, salilana aya dina kakawasaan deungeun (jati kasilih ku junti), tapi bari terus ngarep-ngarep tandangna deui Prabu Siliwangi kiwari sarta ngalaman deui zaman Pajajaran anyar. Dina sabagian teks lagu mah digambarkeun yen Prabu Siliwangi ngungun ningali ti alam kahiyangan kaayaan Tatar Sunda katut rayatna paburantak tur lara balangsak.
“Hasil meleng hasil ngimpleng, anjogna semet ngahuleng, Tatar Sunda paburantak, paburantak, rahayatna lara balangsak.
Beak taun beak windu, ngabandungan nyerangkeun ti kaanggangan, lampahna pra seuweu-siwi, Pajajaran.”
 

I. KARAJAAN SUNDA JEUNG KARAJAAN GALUH
 
1. Ngadegna Karajaan Kembar
Katompernakeun abad ka-7 Karajaan Tarumanaga anu ngadeg di Tatar Sunda ti mimiti awal abad ka-5 Masehi tinemu suda kakawasaan katut kakuatanana. Bisa jadi eta teh dilantarankeun ku eleh saingan di laut jeung Karajaan Sriwijaya ti wewengkon Sumatera Kidul. Tarumanagara anu puseur dayeuhna di basisir kaler (Sundapura?) di antara Jakarta-Bekasi kasieuhkeun pangupahjiwana jeung kaamananana ku mekarna Sriwijaya jadi nagara maritim di wewengkon Indonesia beulah kulon. Tapi pairing-iring jeung caremna Tarumanagara, di wewengkon pagunungan mitembeyan ngadeg dua karajaan anyar anu dingaranan Karajaan Sunda jeung Karajaan Galuh. Karajaan Sunda diadegkeun ku raja Tarusbawa, ari nu ngadegkeun Karajaan Galuh nya eta Wretikandayun. Duanana oge masih keneh sarerehan, tunggal teureuh Tarumanagara. Puseur dayeuh Karajaan Sunda nya eta Pakuan (kota Bogor ayeuna), perenahna di sisi walungan Ciliwung anu ngamuara di kota palabuan Kalapa (kota Jakarta ayeuna). Ari puseur dayeuh Karajaan Galuh kungsi aya dua tempat. Mimiti puseur dayeuhna di Bojong Galuh (wetaneun kota Ciamis kiwari), perenahna di antara tinemuna walungan Citanduy jeung walungan Cimuntur anu brasna ka Laut Kidul (Lautan Hindia ayeuna). Laju pindah ka Kawali (kalereun kota Ciamis) anu perenahna di tutugan Gunung Sawal. Wates alam wewengkon eta dua karajaan mangrupa walungan Citarum. Beulah kuloneun walungan Citarum mangrupa wewengkon Karajaan Sunda, kawetankeun wewengkon Karajaan Galuh. Wates alam wewengkon Karajaan Sunda beulah kaler, kulon, jeung kidul mangrupa laut, nya eta Laut Kaler (Laut Jawa ayeuna), Selat Sunda, jeung Laut Kidul. Ari wates beh kaler, wetan, jeung kidul Karajaan Galuh nya eta Laut Kaler, walungan Cipamali, jeung Laut Kidul. Beh wetan Karajaan Galuh tepung wates jeung Karajaan Majapahit anu puseur dayeuhna Trowulan (deukeut kota Mojokerto ayeuna), perenahna di sisi kali Brantas anu ngamuara di kota palabuan Surabaya ayeuna. Majapahit minangka karajaan urang Jawa (sukubangsa Jawa ayeuna).
Ieu dua karajaan disebut kembar, lantaran duanana lahir dina waktu anu meh bareng (akhir abad ka-7 Masehi) tur perenahna parerendeng. Di sagigireun eta, tali mimitran diantara duanana raket pisan boh dina kakulawargaan boh dina kanagaraan. Malah mindeng kajadian kakawasaan raja di hiji karajaan ngurung kakawasaan di karajaan nu hiji deui, boh kulantaran boga hak tina alatan pernikahan boh kulantaran boga hak tina alatan turunan (sagetih), saperti nalika pamarentahan raja Sanjaya (623-632), Rakeyan Darmasiksa (1175-1297), Perbu Niskala Wastukancana (1371-1475), Sri Baduga Maharaja (1482-1521). Sok sanajan kitu, sawaktu-waktu mah kajadian oge pagetreng diantara eta dua karajaan, kulantaran parebut kadudukan jeung beda pamadegan di antara para pamingpinna, tapi henteu ari nepi ka ngabalukarkeun bengkah duduluran katut peperangan rongkah mah. Keur urang luar Sunda mah ieu dua karajaan katelahna Karajaan Sunda bae.

2. Kahirupan Ekonomi
Pindahna puseur dayeuh karajaan ti basisir (Tarumanagara) ka pagunungan mawa dampak ka nagara katut rakyat Karajaan Galuh jeung Karajaan Sunda leuwih ngutamakeun kahirupan tatanen tibatan kagiatan buniaga. Harita tatanen urang Sunda anu ngabaku nya eta ngahuma, melak pare di huma, di lahan anu tuhur, lain di lahan baseuh (sawah). Tanah di Tatar Sunda memang lendo, bubuhan leuweung geledegan keneh, lapisan taneuh bagian luhur loba nu asalna tina lebu gunung api anu bitu, tingparentul gunung anu mindeng ngadatangkeun hujan nepi ka cai curcor, walungan ting raringkel di ditu di dieu. Kukituna teu wudu mucekil hasil tina tatanen teh. Lian ti nyukupan pikeun dahar sapopoe, paleuleuwih beasna dijual ka mancanagara. Hasil melak pedes oge, lolobana mah iangkeuneun ka mancanagara. Mangsa harita pedes, cengkeh, jeung pala anu disebut rempah-rempah jadi barang dagangan internasional anu dijual sacara tatalepa nepi ka Eropa.
Sasela-selaning ngahuma, loba patani anu sok moro sato ngarah daging, kulit, tanduk, jeung culana. Sato-sato anu sok diboro kayaning uncal, peucang, banteng, badak, jeung rea-rea deui. Di sagigireun eta, para patani migawe oge nyadap tangkal kawung pikeun diala lahangna. Lahang teh mangrupa cai anu kaluar tina langgari kawung, rasana amis matak seger kana badan. Tapi babakuna lahang jadi bahan pikeun nyieun gula, disebutna gula kawung. Hasil tina nyadap oge mokaha, bisa ngajual gula kawung ka para padagang boh padagang pribumi boh padagang ti mancanagara.
Ti jaman Tarumanagara basisir kaler jadi jalan dagang laut internasional anu nyambungkeun tata buniaga ti wewengkon Indonesia ka Asia Kidul, Asia Kulon, katut Asia Wetan. Barang dagangan anu laris mangsa harita nya eta emas, rempah-rempah, kaen, beas. Lila-lila mah di wewengkon ieu dua karajaan ngadeg sababaraha kota palabuan. Nurutkeun catetan Tome Pires, urang Portugis anu ngideran jaladri Indonesia taun 1513, aya 6 kota palabuan sapanjang basisir kaler wewengkon Karajaan Sunda, ngajajar ti kulon ka wetan nya eta Banten, Pontang, Cikande, Kalapa, Karawang, jeung Cimanuk. Kota palabuan Cirebon jeung Japura, ceuk Tome Pires, geus misah ti Karajaan Sunda.
Di jero karajaan aya sabaraha jalan anu nyambungkeun hiji daerah jeung daerah sejen, hiji kota jeung kota sejen. Diantarana jalan gede anu nyambungkeun puseur dayeuh Pakuan jeung puseur dayeuh Galuh ngaliwatan jalan kaler jeung jalan kidul. Kitu deui jeung daerah Banten di beh kulon disambungkeun ka Pakuan ku dua jalan ngaliwatan jalan kaler jeung jalan kidul. Jalan kaler mapay padataran anu sajajar jeung basisir kaler, jalan kidul mah mileuweungan mapay wewengkon pagunungan. Mangsa harita walungan dijadikeun jalan oge anu ngahubungkeun daerah basisir jeung daerah pagunungan make kapal atawa parahu. Walungan anu kakoncara loba balawiri parahuna nya eta Cibanten, Cisadane, Ciliwung, Citarum, jeung Cimanuk. Walungan Ciliwung ngahubungkeun puseur dayeuh Pakuan, katelah oge Pakuan Pajajaran, jeung kota palabuan Kalapa. Ti ieu kota palabuan merlukeun waktu dua poe perjalanan make kapal pikeun ngajugjug ka Pakuan. Kalapa minangkana mah kota palabuan panggedena jeung pangramena di Karajaan Sunda mah. Kapala kota palabuanana oge gede wibawa jeung pangaruhna.
Penduduk puseur dayeuh Pakuan Pajajaran kurang leuwih 50.000 jiwa jumlahna. Dina tanggal 21 Agustus 1522 di dieu kungsi ditanda hiji perjangjian gawe bareng dina widang ekonomi jeung pertahanan antara gegeden Karajaan Sunda jeung gegeden urang Portugis anu puseur kagiatanana di Malaka.
 
3. Pamarentahan
Karajaan diparentah ku raja. Jaman harita kadudukan raja dumasar kana konsep kultus dewaraja, nyaeta pandangan yen raja teh sabage wakil dewa di bumi. Kukituna raja kacida dihormatna, malah tampolana disembah ku rayatna siga ka dewa. Raja nyekel kakawasaan mutlak tur miboga hak turun-tumurun ngalinggihan tahta karajaanana. Lilana raja marentah henteu diwatesanan, umumna mah dugi ka pupusna atanapi dugi ka ngaraos sepuh sareng hoyong ngahenang-ngahening museurkeun lelembutanana kana kahirupan jaga sabada ninggalkeun dunya.
Aya aturan anu nangtukeun saha pigentoseun raja anu pupus atanapi anu ngecagkeun kalungguhan. Eta aturan nangtukeun daftar prioritas hak waris dumasar kana tingkat padeukeutna hubungan getih raja jeung anu bakal ngagantina. Anu pangluhurna nya eta putra raja pameget ti prameswari anu cikalna. Upama cikalna putra istri nya turun ka putra pameget adina anu kahiji, kadua, jeung saterusna. Upama teu aya putra pameget ti prameswari, turun ka putra pameget ti selir. Upama teu aya putra pameget bisa oge turun hak waris ka putra istri. Raja anu teu kagungan putra, ragrag hak warisna ka saderek sagetih. Kungsi kajadian hak waris karajaan ragrag ka minantu (lalaki).
Pamarentahan Karajaan Sunda jeung Karajaan Galuh disusun ku wangunan federasi. Ku kituna aya raja pamarentah puseur anu nyekel kakawasaan sakumna karajaan tur linggihna di puseur dayeuh nagara, gelarna maharaja. Aya oge raja-raja di daerah anu nyekel kakawasaan di daerah-daerah. Umumna raja di daerah masih keneh katalian dulur (getih, pernikahan) jeung raja di puseur, malah aya raja daerah anu naek pangkat jadi raja puseur, waktu jabatan raja di puseur kosong. Rakeyan Darmasiksa, upamana, memeh mangku kaprabon di Pakuan, kungsi jadi raja daerah heula di Saunggalah.
Di sabudereun raja aya pajabat-pajabat anu mangku pancen masing-masing, kayaning patih (anu ngajalankeun pamarentahan sapopoe), mangkubumi (anu ngatur urusan tanah), lengser (pangbantu pribadi raja), nu nangganan (pajabat nu nguruskeun masalah jeung daerah), wado (pajabat puseur nu aya di daerah), hulujurit (panglima perang), jurubasa darmamurcaya (penterjemah rupa-rupa basa). Kitu deui di daerah aya sababaraha pajabat daerah anu ngabantu raja daerah, kayaning pangurang dasa calagara anu pancenna nagihan pajeg. Raja daerah boga hak pikeun mungut pajeg ka rayat. Sabagian tina eta pajeg digunakeun pikeun ngajalankeun pamarentahan di daerah (pangwereg), sabagian deui disetorkeun ka pamarentah puseur (pamwatan). Sabalikna, raja daerah boga kawajiban datang ka puseur dayeuh sabage tanda satia ka raja puseur bari sakalian masrahkeun pajeg jeung upeti anu mangrupa hasil bumi ti eta daerah.
Pamarentahan diatur ku rupa-rupa papagon anu disusun nungtut unggal generasi.
Undang-undang (papagon) pamarentahan munggaran nya eta Sanghiang Watangageung anu disusun ku Rahiyangta ri Medangjati kira-kira dina abad ka-7. Saterusna eta papagon dilengkepan saban waktu upama katimbang perlu, nepi ka ahirna aya undang-undang pikeun ngatur kagiatan kaagamaan (dewasasana), pamarentahan (rajasasana), jeung kahirupan rayat sakumna (manusasasana). Eta aturan dumasar kana dua sumber hukum, nya eta ajaran agama (Hindu, Buddha, Jatisunda) jeung ajaran luluhur (patikrama, purbastiti, purbajati). Karajaan Sunda ngutamakeun pisan aturan (hukum) dina ngolah nagarana nepi ka digambarkeun waktu hukum dicekel pageuh, nagara tinemu aman santosa, kerta raharja; tapi waktu hukum disapirakeun, nagara nyorang awut-awutan, malah ahirna mah (1579) runtag samasakali.

4. Kaagamaan
Kahirupan jaman harita raket pisan pakaitna jeung kapercayaan tur kagiatan kaagamaan. Agama anu dianut nyoko kana ajaran agama Hindu jeung agama Buddha anu asalna ti India. Eta dua agama asup ka Tatar Sunda ti jaman Karajaan Tarumanagara keneh. Bukti-bukti anu kapanggih ngeunaan eta hal, saperti candi Cangkuang di Garut, candi Batujaya di Karawang, patung Buddha di Talaga (Majalengka), arca Syiwa di Kendan (Bandung). Sok sanajan kitu, dibandingkeun jeung pangaruh agama Hindu/Buddha anu tumerap di Tanah Jawa (Mataram, Kediri, Singasari, Majapahit), pangaruh eta dua agama di Tatar Sunda kaasup leutik pisan. Titinggal mangrupa patilasan punden berundak, kabuyutan, arca tipe Polynesia, jeung naskah nembongkeun yen sabagian gede masyarakat Sunda jeung Galuh ngagem agama Jatisunda, nya eta agama hasil sinkretisme kapercayaan ka arwah luluhur, ajaran Hindu, jeung ajaran Buddha. Dina ieu hal urang Sunda alam harita geus ngabogaan konsep sorangan ngeunaan kaagamaan anu ngurung tilu hal, nya eta (1) kapangeranan, (2) kahirupan sanggeus nyawa ninggalkeun raga, jeung (3) cara-cara pikeun nyalametkeun diri boh keur salila kumelendang di ieu dunya boh keur hirup jaga di aherat.
Tilu dewa (Trimurti) anu dianggap pangeran pangluhurna ceuk agama Hindu (Brahma, Wisnu, Syiwa), nurutkeun ajaran Jatisunda, perenahna sahandapeun sanghiyang. Jadi, sanghiyang minangka unsur kakawasaan anu pangluhurna. Sanghiyang nyiptakeun alam sagemblengna. Sanghiyang ngatur sakumna mahluk. Sacara mutlak Sanghiyang nyekel kakawasaan di jagat raya. Tempat dumuk Sanghiyang di Kahiyangan anu pernahna di luar alam dunya ieu. Kahiyangan teh alam anu suci, sepi, tur langgeng taya gangguan kahirupan dunya.
Asup ka alam Kahiyangan katut hirup ngahiji sareng Hiyang sabada nyawa ninggalkeun raga mangrupa panyileukan manusa, sabab nya di dinya nyampak kabagjaan abadi. Eta panyileukan bisa kahontal, upama manusa salila hirupna di alam dunya ngagungkeun tur nyembah Hiyang sarta loba nyieun kahadean ka sasama manusa, laku lampahna hade luyu jeung pancen hirupna.
Kasalametan jeung kabagjaan hirup di alam pawenangan (dunya) jeung di alam kalanggengan (aherat) gumantung kana ajen tapa hiji jalma anu dilakonan salila hirupna di alam dunya. Tapa teh nya eta garapan gawe nurutkeun kaahlian jeung pagawean masing-masing. Lamun tapana hade tur daria, kahirupan di dunya jeung di aheratna oge pinanggih kasalametan jeung kabagjaan. Tapi sabalikna, lamun tapana goreng, kahirupanana oge bakal tinemu jeung kacilakaan katut katunggaraan boh di dunya boh di aherat.

5. Basa, Aksara, jeung Sastra
Yakin pisan yen masyarakat Sunda zaman Karajaan Sunda jeung Karajaan Galuh geus ngabogaan basa jeung aksara. Eta hal teh dumasar bukti-bukti mangrupa titinggal tinulis (prasasti, naskah, jeung catetan urang mancanagara). Salian ti eta, zaman harita urang Sundana sorangan ngaku yen geus ngabogaan basa jeung aksara sorangan. Kiwari basa jeung aksara anu dipake zaman harita disebutna basa Sunda Kuna jeung aksara Sunda Kuna. Eta sesebutan pikeun ngabedakeun jeung basa Sunda ayeuna anu katelah basa Sunda Modern. Adeg-pangadeg aksara Sunda Kuna jeung kabeungharan kecap basa Sunda Kuna dipangaruhan ku basa Sansekerta jeung aksara Palawa anu asalna ti India.
Hanjakal pisan basa jeung aksara Sunda Kuna henteu lana hirupna, kulantaran menak-menak Sunda kabongroy ku basa jeung aksara anyar ti piluaran ti mimiti ahir abad ka-17. Atuh ieu basa jeung aksara teh pegat di tengah jalan, henteu nyambung ka zaman satuluyna. Balukarna loba nu nyangka, kaasup urang Sundana sorangan, yen urang Sunda teu bogaeun aksara sorangan jeung basana henteu bisa dipake masamoan dina kahirupan sastra, kanagaraan, jeung elmu pangaweruh. Kitu deui, lamun urang Sunda kiwari maca teks Sunda Kuna, aksarana teu kabaca sarta basana teu kaharti. Kumaha wujud basa Sunda Kuna teh? Ieu contona sakadar ubar kapanasaranan. “Nya mana sang rama enak mangan, sang resi enak ngaresisasana, ngawakan na purbatisti, purbajati. Sang disri enak masini ngawakan na manusasasana, ngaduman alas pari-alas.” Tarjamahna: “Mana sang rama tengtrem nguruskeun bahan pangan. Sang resi tengtrem ngajalankeun palaturan karesianana, ngamalkeun tali-paranti karuhun, adat baheula. Sang disri tengtrem ngaracik rupa-rupa ubar. (Raja) ngalaksanakeun aturan kahirupan manusa, ngabagi-bagi leuweung jeung tanah di sabudereunana.”
Aksara Sunda Kuna dijieun sanggeus urang Sunda wanoh kana aksara Palawa pikeun nuliskeun basa Sanskerta. Kumaha cara nuliskeun basa Sunda? Kalawan cecekelan aksara Palawa, nya dijieun aksara Sunda (Kuna) pikeun ngawujudkeun basa Sunda (Kuna) sacara tinulis. Ti harita gubrag ka dunya aksara Sunda (Kuna). Abjadna dumasar kana engang dina kecap anu jumlahna 18 sarta unina: ka ga nga, ca ja nya, ta da na, pa ba ma, ya ra la, dan wa sa ha. Aya oge aksara lambang vokal mandiri, angka, jeung tanda pikeun lambang sora vokal sejen katut tambahan tanda lianna.
Puisi zaman harita diwangun ku susunan jajar demi jajar anu unggal jajar kauger ku 8 engang. Eta wangunan puisi teh disebutna carita pantun. Pantun mangrupa seni pertunjukan asli urang Sunda. Juru pantun nembangkeun carita pantun bari dipirig ku kacapi. Ku kituna carita pantun miang tina tradisi lisan. Conto puisi jenis pantun kaunggel di handap ieu.
Ambuing karah sumanger
Ibu wilujeng kantun
Pawekas pajeueung beungeut
Panungtung patembong raray
ambu kita deung awaking
ibu sareng diri abdi
Sapoe ayeuna dini
Sapoe poe ieu pisan
pajeueung beungeut deung aing
patepung lawung sareng sim abdi
Mo nyorang pacarek deui
(Jaga mah) moal ngalaman pataros deui
moma tina pangimpian
iwal dina pangimpian
pajeueung beungeut di bulan
patepung lawung di bulan
patempuh awak di angin
pasalisir awak di angin
6. Runtagna Karajaan
Iwal ti nyatet kota-kota palabuan di Karajaan Sunda jeung kagiatanana, Tome Pires nyatet oge kaayaan Karajaan Sunda anu pakait jeung sabab runtagna ieu karajaan. Dicaritakeun yen harita raja Sunda nyieun kawijakan pikeun ngawatesanan jumlah padagang muslim buniaga di wewengkon Karajaan Sunda, sabab ngarasa hariwang ku mekarna buniaga jeung jumlah kaum muslimin. Memang harita geus loba padagang muslim bubuara di kota palabuan Cimanuk, malah kota palabuan Cirebon jeung Japura mah geus misahkeun diri ti lingkungan Karajaan Sunda. Kabejakeun oge di kota palabuan Banten jeung Karawang geus aya para padagang jeung kaum muslimin sejenna anu mukim. Atuh rayat Sunda mimiti nungtutan pindah agama jadi ngagem agama Islam. Keur pamarentah puseur mah eta hal teh jadi ancaman anu sawaktu-waktu ngbarubahkeun. Memang teu mangkuk lila ti harita timbul daerah-daerah anu baruntak, untung Prabu Surawisesa (1521-1535) masih keneh kuat mingpin pasukan pikeun ngungkulanana.
Sapupusna Prabu Surawisesa, raja-raja Sunda (4 raja) teuing ku hengker tur sikep paripolahna henteu hade, leuwih loba ngutamakeun kasenangan dirina tibatan ngurus nagara jeung rayat. Di ditu di dieu timbul deui nu baruntak, teu bisa diungkulan. Banten misahkeun diri. Ahirna Karajaan Sunda teu mangga pulia nyanghareupan kakuatan gabungan Cirebon, Banten, jeung Demak anu ngarurug puseur dayeuh Pakuan Pajajaran taun 1579.
Edi S. Ekadjati
Gurubesar Tamu Research Institute for Languages and Cultures of Asia and Africa Tokyo University of Foreign Studies
(disalin tina Majalah Manglé, édisi online)

14 Januari 2011

Seni Tradisonal Garut

Ada beberapa seni tradisonal dari daerah garut yang khas selain produk dodol ternyata bnanyak yang belum dikenal secara nasional termasuk orang Garut itu sendiri.

1. Dodombaan
Atraksi seni yang menggunakan tetabuhan seperangkat kendang pencak silat dengan beberapa orang pendukungnya. Satu atau dua orang melakukan ibing pencak silat, juga terdapat delapan orang yang mengusung dua buah patung domba dari kayu yang bisa ditunggangi anak-anak dan dewasa.
Kesenian ini lahir di Desa Panembong Kec. Bayongbong dan dipimpin oleh Bapak SAJIDIN.

2. Surak Ibra
Seni tradisional Surak Ibra dikenal juga dengan nama lain Boboyongan Eson. yang berdiri Sejak Tahun 1910 di Kampung Sindang Sari, Desa Cinunuk, Kecamatan Wanaraja Kabupaten Garut. Kesenian Tersebut Hasil Ciptaan Raden Djajadiwangsa Putra Dari Raden Wangsa Muhammad (Dikenal Dengan Nama Lain Raden Papak). Kesenian ini merupakan suatu sindiran (simbol﴿ atau semboyan tidak setuju terhadap Pemerintahan Belanda pada waktu itu yang bertindak sewenang-wenang kepada masyarakat jajahan. Khususnya di daerah Desa Cinunuk dan umumnya daerah Kabupaten Garut.
Kesenian ini memiliki tujuan untuk memupuk motivasi masyarakat agar mempunyai pemerintahan sendiri hasil gotong royong bersama untuk mencapai tujuan cita-cita bangsa Indonesia.
Selain itu juga untuk memupuk rasa persatuan dan kesatuan antara pemerintah dan masyarakatnya, demi menunjang keadilan dan kebijaksanaan pemerintah secara mandiri dengan penuh semangat bersama.

ALAT-ALAT YANG DIPAKAI ADALAH :
1. 2 (dua﴿ obor dari bambu.
2. Seperangkat gendang Pencak / lebih.
3. Seperangkat Dogdog / lebih.
4. Seperangkat Angklung / lebih.
5. Seperangkat Keprak / lebih.
6. Seperangkat Kentongan Bambu / lebih.
7. Hal-hal lain yang diperlukan waktunya.

BANYAK PEMAIN :
- Minimal= 40 orang
- Sedang= 60 orang – 80 orang
- Maksimal     = 100 orang lebih
Dari sejak berdiri tahun 1910 sampai sekarang sudah empat generasi, bahkan sekarang pun perlu diremajakan sebab sudah banyak pemain yang sudah tua.
 
3.Lais
Kesenian Lais Diambil Dari Nama Seseorang Yang Sangat Terampil Dalam Memanjat Pohon Kelapa Yang Bernama ?Laisan? Yang Sehari-Hari Di Panggil Pak Lais. Lais ini Sudah Dikenal Sejak Aman Penjajahan Belanda. Tempatnya di Kampung Nangka Pait, Kecamatan Sukawening. Atraksi yng ditontonkan mula-mula pelais memanjat bambu lalu pindah ke tambang sambil menari-nari dan berputar di udara tanpa menggunakan sabuk pengaman, sambil diiringi tetabuhan seperti dog-dog, gendang, kempul dan terompet.
 
4. Seni Bangklung
Kesenian Bangklung merupakan perpaduan dua buah kesenian tradisional, yakni Kesenian Terebang dan Kesenian Angklung Badud. Biasanya kesenian ini dipentaskan pada :
1. Khitanan Anak
Yang sebelum anak akan disunat biasanya terlebih dahulu diarak dengan iringan musik / kesenian Bangklung yang dikenal dengan istilah Ngaleunggeuh. 2. Panenan Padi
Jenis kesenian/tabuh-tabuhan ini dapat digunakan didalam acara kegiatan mengangkut padi untuk disimpan di lumbung, yang kita kenal dengan istilah Ampih Pare.
3. Syukuran
Kesenian ini dapat dipakai didalam acara kegiatan setelah acara hajatan selesai, dengan iringan musik / kesenian bersifat arak-arakan, istilah ini dapat kita kenal Upacara Miceun Runtah.
4. Hiburan
Kesenian ini dapat pula dipentaskan pada upacara penyambutan para tamu.

Adapun alat kesenian Bangklung yang digunakan terdiri dari beberapa waditra-waditra (alat-alat﴿, yakni :
1.Lima buah Terebang :
Terebang Anak, Terebang Kempring, Terebang Tempas, Terebang Bangsing dan Terebang Indung yang berfungsi sebagai Goong.
2.Sembilan buah Angklung :
-Dua buah Angklung Ambruk
-Dua buah Angklung Tempas/Pancer
-Empat buah Angklung Roel
3.Lima buah Terebang :
Terebang Anak, Terebang Kempring, Terebang Tempas, Terebang Bangsing dan Terebang Indung yang berfungsi sebagai Goong.
4.Sembilan buah Angklung :
-Dua buah Angklung Ambruk
-Dua buah Angklung Tempas/Pancer
-Empat buah Angklung Roel
-Sebuah Angklung Engklok
5.Tiga pasang Batok Kelapa.
6.Dua buah Keprak terbuat dari Bambu.


Adapun jenis lagu-lagu yang dibawakan, antara lain :
1.Lagu Anjrog;
2.Lagu Kacang Buncis;
3.Lagu Ya Maula;
4.Lagu Soleang.
Disamping lagu-lagu tersebut, diselingi dengan penampilan Beluk.
Jumlah pemain Bangklung seluruhnya 27 orang, yang masing-masing membawa alat : Terebang, Angklung, Beluk (Vokal﴿, Terompet, Keprak dan seorang Bodor.
Kesenian Bangklung merupakan hasil prakarsa Bapak Rukasah selaku Kepala Seksi Bidang Kesenian Depdikbud Kabupaten Garut, telah menetapkan perpaduan jenis kesenian Terebang dan Angklung pada tanggal 12 Desember 1968 di Desa Cisero Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut.
 
4. Badeng
Kesenian tradisional BADENG diciptakan pada tahun 1800 yaitu di jaman Para Wali, kesenian ini mula-mulanya diciptakan oleh seorang tokoh penyebar agama Islam bernama ARFAEN NURSAEN yang berasal dari daerah Banten yang kemudian terus menetap di Kampung Sanding Kecamatan Malangbong Kabupaten Garut, beliau dikenal masyarakat disana dengan sebutan LURAH ACOK. Lurah Acok berfikir didalam hatinya bagaimana caranya supaya ajaran agama Islam dapat menyebar luas di masyarakat waktu itu agama Islam sangat asing sekali. Pada suatu saat dia pergi menuju suatu perkampungan di daerah Malangbong dan di tengah jalan beliau menemukan sesuatu benda yang bentuknya panjang bulat terbuat dari bambu serat dengan tidak sadar maka benda itu dibawanya ke rumah dan bambu tersebut dibuat suatu alat yangt bisa mengeluarkan bunyi. Pada saat itu juga ARFAEN mengumpulkan para santri dan mereka disuruhnya membuat alat-alat lainnya yang terbuat dari bambu-bambu yang sudah tua untuk memadukan bunyinya dengan alat yang Arfaen buat tadi dan kemudian bambu-bambu tersebut disusun dibuat sedemikian rupa sehingga dapat mengeluarkan suara yang nyaring dan dicobanyalah semua alat-alat itu ditabuh/dibunyikan maka terdengarlah irama musik, kalau masa kini yang sangat enak didengar ditambah dengan nyanyian-nyanyian yang beriramakan Sunda Buhun dan Arab / Solawatan.
Dari mulai saat itulah Lurah Acok dan Para Santrinya setiap hari, setiap minggu, setiap bulan berkeliling mengumpulkan tokoh-tokoh masyarakat, umaro dan tokoh-tokoh santri untuk berkumpul bermusyawarah sambil memasukan ajaran-ajaran agama Islam dengan menabuh seperangkat alat-alat yang dibuatnya itu dengan membawakan lagu-lagu solawatan dan lagu-lagu sunda buhun yang isi syairnya mengajak kepada masyarakat banyak untuk masuk agama Islam.
Hampir semua penduduk yang ada di Desa Sanding , di kampung-kampung, di kota-kota sekitar daerah Malangbong bahkan dimana-mana di daerah Kabupaten Garut pada umumnya yang pernah didatangi oleh Lurah Acok menganut ajaran agama Islam.
Maka sejak saat itulah Lurah Acok memberikan nama Kesenian Badeng yang artinya ?Badeng? adalah dari kata Bahadrang yaitu musyawarah berunding dengan suatu alat kesenian. Badeng adalah suatu jenis kesenian sebagai media untuk menyebarkan agama Islam pada waktu itu.
Sampai sekarang kesenian ini masih ada dan dipergunakan sebagai alat hiburan, untuk menyambut tamu-tamu besar, perayaan, Mauludan, khitanan, hajat dan lain sebagainya, hanya saja para pemainnya sudah tua-tua rata-rata berumur 90 tahunan.
Adapun alat-alat Kesenian Badeng tersebut terdiri dari :
-2 (dua) buah Angklung Kecil bernama Roel yang artinya bahwa dua pimpinan pada waktu itu antara kaum ulama dengan umaro (pemerintah) harus bersatu, alat ini dipegang oleh seorang dalang.
-2 (dua) buah dogdog lonjor ujungnya simpay lima yang artinya menandakan bahwa didunia ini ada siang ada malam dan laki-laki dengan perempuan, alat ini dipegang oleh dua orang simpay lima berarti rukun Islam.
-7 (tujuh) buah angklung agak besar terdiri dari : angklung indung, angklung kenclung dan angklung kecer disesuaikan dengan nama-nama hari, alat ini dipegang oleh 4 orang.
 
5.Debus
DEBUS adalah salah satu jenis kesenian tradisional rakyat jawa Barat yang terdapat didaerah pamempeuk Kabupaten Garut ini tercipta kira ?kira di abad ke 13 oleh seorang tokoh penyebar agama islam ,pada waktu itu di daerah tersebut masih asing dan belum mengenal akan ajaran islam secara meluas. Tokoh penyebar agama islam disebut Mama ajengan .
Nama ajengan berpikir dalam hatinya bagai manakah caranya untuk dapat menyebar luaskan atau mempopulerkan ajran agama islam karena pada waktu itu sangat sulit sekali karena banyak kepercayaan-kepercayaan dan agama lain yang di anut oleh masyarakat setempat. sedangkan ajaran agama islam pada waktu itu masih belum dipahami dan di mengerti maknanya .
Pada tengah malam bulan purnama si Mama Ajenganmengumpulka para santrinya untuk bersama-sama menciptakan sambil dengan belajar menabuh seperangkat alat-alat yang terbuat dari pohon pinang dan kulit kambing sehingga dapat mengeluarkan bunyi dengan irama yang sangat unik sekali yang kemudian kesenian tersebut dinamakan DEBUS. Dengan cara menyajikan kesenian ini, diharapkan dapat menarik masa yang banyak.
Untuk menjaga hal ?hal yang tidak diinginkan dalam menjalankan tugas menyebarluaskan ajaran agamanya nanti dan mungkin akan banyak rintangan-rintangannya maka disamping belajar kelihaian menabuh alat-alatnya diajarkannya pula ilmu-ilmu kebatinan baik rohani maupun jasmani dipelajarinya pula ilmu-ilmu kekebalan /kekuatandalam dirnya masing-nasing umpamanya tahan pukulan benda-benda keras seperti batu bata , kayu, kebal terhadap golok-golok tajam dsb. Menjalani dan mendalami berbagai ilmu ?ilmu kebatinan tersebut untuk menjaga apabila terjadi dikemudian hari sewaktu mereka mempopulerkan ajaran agamanya .
Didalam rangka mempertunjukan kesenian DEBUS tersebut mama Ajengan dan para santrinya yanh telah mahir dan dibekali oleh ilmu-ilmunya masuk, keluar kampung bahkan ke berbagai kota mengumpulkan tokoh-tokoh masyarakat umaro tua muda, laki-laki perempuan sambil memasukkan pengaruh ajaran agamanya lewat kesenian yang dipertunjukannya itu dengan membawakan lagu-lagu solawatan dan berjanji yang mengambil dari kitab suci Al-qur?an yang isinya mengajak masyarakat banyak untuk dapat memahami dan melaksanakan ajaran agama islam .
Demikianlah yang dilakukan setiap hari, setiap minggu dan setiap bulan oleh mama Ajengan dengan para santrinya dalam rangka mempopulerkan ajaran agama islam lewat kesenian ?DEBUS? sehingga berhasil meningkatkan para prngikutnya hampir diseluruh daerah dengan didirikannya pesantren-pesantren, mesjid-mesjid/ surau untuk menampung pengikutnya .
Sampai sekarang secara turun temurun kesenian ?DEBUS? masih dipergunakan sebagai media untuk menghibur para tamu yang datang ke daerah tersebut disamping itu sering disajikan pada acara hajatan (kenduri) umpamanya hajat chitana ,hajat perkawinan atau upacara hari besar Umat Islam, yang sangatunik sekali sampai sekarang masih diperingati tiap terang bulan purnama tanggal 14 oleh keturunan mama Ajengan.-
 
6.Gesrek
Seni Gesrek disebut juga Seni Bubuang Pati (mempertaruhkan nyawa). Bila dikaji dengan teliti, seni Gesrek dapat dikatakan juga bersifat religius. Dengan ilmu-ilmu, mantra-mantra yang berasal dari ayat Al Qur?an pelaku seni ini bisa tahan pukulan, tidak mempan senjata tajam atau tidak mempan dibakar. Demi keutuhan/mengasah ilmu yang dimiliki pemain Gesrek perlu mengadakan pemulihan keutuhan ilmu dengan jalan ngabungbang (kegiatan ketuhanan yang dilaksanakan tiap malam tanggal 14 Maulud) yaitu mengadakan mandi suci tujuh muara yang menghadap sebelah timur sambil mandi dibacakan mantra-mantra sampai selesai atas bantuan teman atau guru apabila masih ada. Jadi dengan adanya Seni Gesrek kegiatan ritual bisa dilaksanakan secara rutin sebagai rasa persatuan dan kesatuan sesama penggemar seni yang dirasa masih langka. Setelah terciptanya Seni Gesrek timbul gagasan untuk mengkolaborasikannya dengan seni yang berkembang juga di wilayah ini yaitu seni Abah Jubleg. Seni ini dikatakan khowarikul adat (di luar kebiasaan) karena Abah Jubleg dapat mengangkat benda yang beratnya lebih dari 1 (satu) kwintal dengan menggunakan kekuatan gigi, dapat mengubah kesadaran manusia menjadi tingkah laku binatang (Babagongan/Seseroan) dan memakan benda yang tidak biasa dimakan oleh manusia.
 
7. Hadro
HADRO adalah jenis kesenian perpaduan antara budaya Parahyangan dengan budaya Parsi atau Arab. Seni ini diperkenalkan oleh Kyai Haji Sura dan Kyai Haji Achmad Sayuti yang berasal dari Kampung Tanjung Singuru Samarang Kabupaten Garut sekitar tahun 1917. kehadirannya tentu saja mendapat sambutan hangat dari masyarakat Desa Bojong. Maka tidak heran apabila perkembangannya sungguh sangat menggembirakan. Jenis kesenian ini memiliki ciri tertentu dalam gaya dan lagunya. Gaya/laga adalah gerak geriknya yang diambil dari jurus-jurus pencak silat yang menggambarkan kepatriotan.
Lagu / liriknya diambil dari sajak pujangga Islam Syech Jafar Al Banjanji. Alat pengiringnya terdiri dari : Rebana, Tilingtit, Kempring, Kompeang, Bangsing, Tarompet dan Bajidor.
Sedangkan para pemainnya mengenakan busana berupa baju dan celana putih yang dihiasi dengan selendang merah melilit di dada.
Seni HADRO menggambarkan kepatriotan para pejuang muslim dalam menentang kaum penjajah. Masyarakat Desa Bojong sebenarnya boleh berbangga hati karena pada saat ini seni tersebut berada pada kondisi yang masih mampu bertahan dengan kemandiriannya.
HADRO, bagaimanapun tetap HADRO, satu jenis kesenian tradisional kebanggaan masyarakat Desa Bojong Kecamatan Bungbulang Kabupaten Garut. Kita bersyukur atas kebesaran Tuhan Pencipta, yang dengan segala kemaha kuasaan-Nya telah menurunkan salah satu khasanah budaya di Kabupaten Garut tercinta.
Seni tradisional HADRO yang tumbuh dan berkembang di Desa Bojong senantiasa tampil dalam setiap kesempatan, baik dalam upacara hari besar nasional atau acara-acara penting di tingkat Desa, Kecamatan, Kabupaten, bahkan di tingkat Propinsi, disamping itu ditampilkan pula dalam acara perkawinan, khitanan dan acara keagamaan lainnya.
 

Paribasa

Adam lali tapel, poho ka baraya.
Adat kakurung ku iga, tabe’at mah hese dipiceunna (dirobahna).
Adean ku kuda beureum, ginding ku barang beunang nginjeum.
Titirah ngadon kanceuh, neangan kasenangan, tapi malah meunang kasusah.
Ngadu-ngadu rajawisuna, ngahudang amarah dua jelema sina bengkah.
Agul ku payung butut, tumerap ka jalma taya kaboga, tapi mindeng nyaritakeun yen manehna turunan menak baheula.
Ulah ieu aing uyah kidul, asa jadi pangpunjulna.
Landung kandungan laer aisan, gede timbangan.
Elmu ajug, tumerap ka jalma nu bisa mapatahan kahadean ka batur, tapi manehna sorangan teu ngajalankeun papatahna.
Ngajul bentang ku asiwung, hal anu pamohalan bisa kalaksanakeun.
Tikoro andon peso, nyampeurkeun nu rek ngahukum atawa nu rek nangkep.
Ari umur tunggang gunung, angen-angen pecat sawed, ari umur geus kolot, kahayang cara nu ngora.
Ngeunah angen ngeunah angeun, pamajikan satia, ngeunah pasakanana, cukup dahareun tur taya kasusah.
Diangeun careuhkeun, diantep henteu didahar.
Neukteuk mere anggeus, mutuskeun hubungan.
Ngimpi ge diangir mandi, bararaid teuing.
Anu burung diangklungan, anu gelo didogdogan, anu edan dikendangan, anu gedebul dihaminan supaya tambah maceuh.
Ngadu angklung, parebut omong, hayang paunggul-unggul.
Elmu angklung, joledar, nukang nonggong ka kolot.
Anjing ngagogogan kalong, mikahayang nu pamohalan.
Kawas anjing tutung buntut, berebet ka ditu berebet ka dieu kawas nu samar rasa.
Nulungan anjing kadempet, nu asih dipulang sengit.
Anjing nyampeurkeun paneunggeul, nyampeurkeun nu rek mahala.
Paanteur-anteur julang, nu tas nganteurkeun dianteurkeun deui ku nu dianteurkeun.
Sapi anut ka banteng, awewe ngawula ka salaki.
Ngaliarkeun taleus ateul, nyebarkeun kagorengan batur.
Ngawur kasintu nyieuhkeun hayam, berehan ka deungeun-deungeun, ari ka baraya kakad-keked.
Dikungkung teu diawur, dicangcang teu diparaban, ditambang, ditalak henteu, dinapkahan henteu.
Kawas badak Cihea, dilarapkeun ka jelema nu leumpang noyod kawas nu degig.
Balung kulit kolot meuting, henteu beresih pisan hatena, masih keneh ngunek-ngunek.
Marebutkeun balung tanpa eusi, madukeun perkara nu teu aya hasilna.
Banda tatalang raga, leuwih hade ngorbankeun banda, batan cilaka awak.
Banda sasampiran, nyawa gagaduhan, boh banda boh nyawa Pangeran nu kagungan.
Batok bulu eusi madu, goreng rupa atawa euweuh tagog, tapi pinter jeung bageur.
Saherang-herangna cibeas, saberesih-beresihna hate nu dinyenyeri, moal beresih pisan.
Bebek ngoyor di sagara, rek nginum neangan cai, lubak-libuk tapi teu bisa make, da lain hakna.
Meber-meber totopong heureut, ngajeujeuhkeun rejeki saeutik supaya mahi.
Ngijing sila bengkok sembah, teu satia ka dunungan.
Ngadagoan belut sisitan, oray jangjangan, moal kaalaman, mustahil kajadian.
Bengkung ngariung, bongkok ngaronyok, kajeun hirup ripuh, asal tetep teu pajauh jeung anak incu.
Bentik curuk balas nunjuk, capetang balas miwarang, ngan bisa marentah atawa nitah wungkul, henteu prak digawe ku sorangan.
Nyanggakeun beuheung teukteukeun, suku genteng belokeun, masrahkeun diri lantaran rumasa salah.
Mindingan beungeut ku saweuy, api-api teu nenjo kasalahan bawahan atawa rayat lantaran teu mampuh ngayakeun tindakan saperluna.
Ati mungkir beungeut nyanghareup, henteu terus jeung hate.
Bilatung ninggang dage, dilarapkeun ka jalma teu jujur nu kabeneran meunang kedudukan atawa kasempetan anu nguntungkeun pikeun manehna.
Sabobot sapihanean, sabata sarimbagan, lulus runtut sakasuka sakaduka.
Nu borok dirorojok, nu titeuleum disimbeuhan, nu keur susah dipupuas, atawa ditambahan kasusahanana.
Legeg lebe, budi santri, ari lampah euwah-euwah, jalma jahat nu bisa nipu ku tindak-tanduk anu sopan.
Nimu luang tina burang, meunang luang lantaran kungsi cilaka.
Lauk buruk milu mijah, piritan milu endogan, pipilueun nyarita atawa ilubiung kana sarupaning urusan, padahal lain ahlina.
Seuneu hurung cai caah ulah disorang, jelema nu keur napsu atawa amarah ulah diheureuyan.
Gede cahak manan cohok, gede keneh kahayang manna panghasilan.
Ka cai jadi saleuwi ka darat jadi salebak, layeut, runtut raut silih ayunkeun.
Kawas cai dina daun taleus, euweuh tapakna (nasehat atawa papatah).
Alak-alak cumampaka, niru-niru atawa mapadani saluhureun.
Tunggul dirarud catang dirumpak, ngalajur napsu taya nu dihiding.
Cecendet mande kiara, jalma leutik hayang mapadani nu beunghar atawa nu gede pangaruhna.
Ngadek sacekna, nilas saplasna, satarabasna, henteu direka.
Maut nyere ka congona, asal beunghar (lubak-libuk), beuki kolot beuki kokoro.
Congo-congo ku amis, mun rek amis oge puhuna. Anak-anakna ku bageur, bapana oge henteu.
Cukup belengur baraganaya, resep mere kabatur bari teu ngingetkeun kaperluan sorangan.
Cul dogdog tinggal igel, ninggalkeun gawe baku, ngalampahkeun pagawean nu taya hasilna.
Dogong-dogong tulak cau geus gede dituar batur, ngamumule lanjang pipamajikaneun, ari geus meujeuhna kawin kop ku batur.
Ngeundeuk-ngeundeuk geusan eunteup, neangan akal pikeun nyilakakeun dunungan.
Piit ngeundeuk-ngeundeuk pasir, mikahayang anu teu layak pikeun dirina.
Nangkeup mawa eunyeuh, mawa susah atawa mawa cilaka ka nu dipentaan tulung.
Batok bulu eusi madu, jalma nu teu boga rupa teu boga tagog, tapi sihoreng loba elmuna sarta alus budina.

Sasakala Nagara Baduy

Menurut cerita nenek moyang, dahulu kala Negara Baduy adalah hutan belantara yang kosong tiada penghuni pula keadaannya sunyi sekali. Tidak pernah dimasuki atau dilalui manusia, sebab pada waktu itu masih belum banyak manusia. Walau pun demikian yang menjadi makanan utama telah ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa, dan mulailah dijelmakan manusia olehnya. Sebagai manusia pertama adalah yang disebut Batara, dan ini menurunkan lagi Batara tujuh sampai kepada lima daleum dan terus turun temurun sampai kini (lihat Arca Domas hal 512).
.
Bahkan pada waktu itu di Negara Banten pun masih kosong pula, hanya ada satu dua orang saja yang mempunyai kesaktian dan sedang bertapa, tidaklah seperti zaman sekarang banyak manusia dari berbagai golongan. Pada waktu pertama kali memasukan agama Islam di Pulau Jawa, yaitu di Pajajaran, diceritakan bahwa Raja Pajajaran tidak mau memeluk agama Islam, beliau bersama-sama dengan saudaranya yang bernama Pucuk Umum lalu menghilang dari Pajajaran.
.
Beliau merubah dirinya, bersalin rupa menjadi seekor burung beo, dan terus terbang tinggi mencari tempat yang sunyi. Siang malam terus terbang melayang dengan tiada hentinya mencari tempat yang sesuai dan aman.
.
Waktu sampai di Banten, yaitu yang disebut negara Cibaduy, mereka menemukan sebuah hutan yang sepi dengan batu-batunya yang berbagai macam ukuran dan dengan pasirnya yang indah dan hutan belantara ini luas sekali. Tidak ada penghuni, kecuali binatang-binatang buas, seperti macan. Badak, babi hutan dan banyak lainnya lagi, pula terdapat banyak ular yang besar mau pun yang kecil, hanya itulah yang terdapat penghuni
hutan itu.
.
Di daerah inilah raja bersama saudaranya yang bernama Pucuk Umum berhenti. Tak lama dari waktu itu, beliau menengok ke sebelah bawah, maka terlihatlah oleh mereka, ada sungai yang besar serta airnya yang bersih dan jernih sekali. Lalu mereka mandi di sana. Setelah selesai mandinya, maka raja ini bentuk badannya berubahlah kembali menjadi
seorang manusia lagi.
.
sungai ini lalu diberi nama Cibeo, dan masih berlaku sampai sekarang nama itu. Setelah beliau mandi, maka kembalilah beliau ke tempat tadi yang banyak batu serta pasirnya itu.
.
Tempat ini oleh Raja diberi nama Ci-Keusiak, dan raja bersama saudaranya terus bertempat tinggal di sana. Sejak saat itulah nama tempat ini disebut Ci-Keusik.
.
Menurut cerita, raja ini adalah keturunan dari swarga-loka dan merajai Pajajaran. Lama-kelamaan raja ini mempunyai keturunan yang banyak sekali dan mereka membuka hutan sebelah hilirnya, lalu diberi nama Cikertawana dan nama ini berlaku sampai sekarang.
.
Tempat ini diberi nama Cikertawana, karena di tempat inilah mula-mula terjadinya keramaian, yang mempunyai arti : kerta = ramai, wana = hutan. Pendapat ini adalah tidak benar kerta = kerta artinya di sini adalah istirahat dan menikmati kebahagiaan, sedangkan rame berarti ramai, gemuruh, hidup. Tydschr. V, Ind. T, L en Nk, jilid LIV. Aft 8 dan 9.
wana = hutan.
Mulai waktu itu terus-menerus sampai sekarang mereka membuka hutan dan menempatinya, tetapi pada suatu tempat hanya diberi izin untuk dihuni oleh 40 keluarga.
.
Sebagai pengisi waktu dan kebudayaan mereka, bila ada binatang-binatang buas seperti harimau, celeng, banteng atau ular maka mereka membinasakannya tidak dengan senapan, akan tetapi cukup dengan dikejar-kejar saja. Bila belum tertangkap mereka terus mengejarnya, dan jika tersusul maka terus saja berkelahi dengan menggunakan senjata
pedang atau alat pemukul.
Bahwasanya sampai sekarang di sana tak terdapat binatang buas, karena habis dibunuh oleh orang-orang Baduy. Seseorang dikeluarkan dari daerahnya apabila ia mencuri padi atau berani memegang susu atau pipi perempuan, maka ia dibuang dan tempat pembuangannya dinamakan desa desa Nangka-bengkung.
.
Bila ada orang yang mempunyai anak perempuan cantik, lalu ada laki-laki yang menginginkannya, maka si ayah tak dapat melarangnya, asal si calon menantu membawa pakaian untuk anaknya dan hasil bumi seperti padi, ubi, pisang dll, hasil dari bercocok tanamnya sendiri, sedangkan yang berupa uang hanyalah sebanyak duapuluh lima sen dan ini adalah untuk yang menikahkan yaitu puun.
.
Yang ditunjuk sebagai rajanya di sana adalah geurang puun, dan yang dijaga oleh mereka tidak lain hanyalah larangan-larangan yang dijunjung tinggi.
.
Cerita ini tidak memerlukan banyak penjelasan, karena pada pokoknya membahas hal-hal keanehan dari masyarakat Baduy yang sedikit banyaknya telah dikenal orang. Hak yang baru, adalah tempat pembuangan untuk orang-orang jahat yang dinamakan Nangka-bengkung, yang harus tinggal di desa tersebut selama 3 tahun. Setelah masa pembuangan selesai, maka ia boleh tinggal di bawah panamping.
.
Selanjutnya mengenai nama Pucuk Umum ternyata terdapadat dalam semua cerita-cerita Sunda (tahun peristiwanya tertulis pada Batutulis dekat Bogor)
.
Keistimewaan-keistimewaan mengenai dirinya juru bicara saya tidaklah mengetahuinya, tetapi sama Pucuk Umum terdapat pula terdapat pula pada masyarakat Baduy, maka sudah dapat ditentukan, bahwa ia adalah seorang tokoh dalam sejarah yang memegang peranan pula. Mengenai kurangnya cerita ini diungkapkan dalam kenangan-kenangan orang Baduy, akan dapat diungkapkan dalam cerita-cerita selanjutnya, bahwa ia sedikit banyaknya mempunyai nilai sejarah.
.
.
Dewa Kaladri
Syahdan diceritakan orang, sejak sanghiyang sampai kini kira-kira sudah ribuan tahun ke belakang , waktu itu ada seorang sanghiyang yang bernama Sanghiyang Sakti yang mempunya seorang anak laki-laki.
.
Ada pun rupa anak ini sangat jelek sekali, badannya hitam dan perutnya buncit. Oleh ayahnya anak ini diturukan ke bumi, disuruh bertama dan mengelilingi dunia.
.
Setelah itu maka anak buncit itu turunlah ke bumi. Waktu sampai pusat kota Ci-paitan, yaitu desa Ci-handam yang telah lama ditinggalkan, ia terus bertapa di Gunung kujang. Waktu sedang bertapa, ia diketemukan oleh Daleum Sangkan sedang telentang bertapa di atas sebuah batu yang besar. Oleh Daleum Sangkan ia dibawa pulang diambil sebagai anak, serta diurus dengan baik sekali dan disayangi sampai besar kira-kira teguh samping (berumur delapan atau sepuluh tahun, menurut perhitungan sekarang).
.
Yang menjadi kesukaan anak buncit ini adalah memasang bubu setiap hari. Lama-kelamaan istri Daleum Sangkan membencinya terhadap anak buncit ini karena parasnya yang jelek hitam, perutnya makin lama makin buncit dan matanya besar membelalak.
.
Hanya Nyi Sangkan tidak berani mengusirnya karena takut terhadap Daleum Sangkan. Pada suatu hari waktu itu Daleum Sangkan mengajak si anak buncit untuk memasang bubu di sungai, tetapi tidak diperkenankan memasangnya di tempat yang baik dan dalam, ia harus memasangnya di tempat yang jelek dan diangkat saja, agar tidak mendapat ikannya. Nyi Sangkan berkata : “Kalau tempat yang baik adalah untukku memasang bubu, jangan oleh kamu”. Lalu mereka masing-masing menempatkan bubunya. {>>}
.
Kalau si anak buncit memasangnya di tempat-tempat yang telah ditunjukan oleh Nyi Sangkan, yaitu di tempat-tempat yang jelak dengan arus airnya yang deras. Sedangkan Nyi Sangkan menempatkannya di tempat-tempat yang baik dengan airnya yang tenang.
.
Waktu keesokan harinya dilihat, bubunya Nyi Sangkan tidak berisi ikan sama sekali, walau pun di tempat yang baik. Sedangkan waktu bubunya si buncit diangkat, ternyata banyak ikannya, bahkan ada seekor ikan yang besar yang disebut ikan lubang, lalu ikannya dibawalah pulang.
.
Dengan demikian Nyi Sangkan bertambah benci terhadap anak buncit itu. Ikan yang besar tadi, tidaklah diberikan kepada Nyi Sangkan oleh anak itu, bahkan ia pelihara dan dismpan dalam tong yang terbuat dari batang pohon kawung. Nyi Sangkan menjadi sangat marah, lalu memaki-maki, tetapi si anak buncit ini tidaklah menghiraukannya.
.
Tak lama kemudian, Nyi Sangkan mengajak menanam talas di humanya. Tetapi seperti biasa saja, yaitu Nyi Sangkan menanam talasnya di tempat yang tanahnya bagus, sedangkan si buncit disuruh menanamnya ditempat yang jelek yang tanahnya merah bercampur pasir. Lalu mereka menanam talas. Nyi Sangkan berkata kepada anak buncit : “Wah, kamu menanam talas juga
tak akan ada umbinya, sebab tanahnya jelek, mana merah bercampur pasir lagi, walau pun nantinya ada juga berumbi, paling besar juga hanya sebesar kelentitku”. “Kalau tanamanku sudah pasti bagusnya dan banyak umbinya, sebab tanahnya bagus.” Anak buncit tidak menjawab apa-apa, hanya dalam hatinya ia berkata, barangkali saja nanti umbinya banyak. Setelah lama, talas itu sudah masnya berumbi, lalu mereka tengok dan
terus masing-masing mencabutnya. Waktu mereka masing-masing mencabut talasnya, ternyata tanaman Nyi Sangkan, talasnya tidak ada umbinya dan lagi keri jelek tumbuhnya. Waktu si anak buncit mencabut talasnya umbinya besar sekali, tetapi hanya sebuah, besarnya sebesar tempayan tempat beras. Anak buncit berbicara kepada Nyi Sangkan sambil memperlihatkan talasnya dengan diayun-ayunkan :
“Ini lihatlah Ua, tanaman talasku ada umbinya sampai sebesar burut Ua.”Setelah itu, dengan mendadak terbukti terkena oleh sapaan, alat kelamin Nyi Sangkan menjadi burut sebesar talas tadi, sama dengan tempayan beras. Nyi Sangkan menjadi kalang kabut, hatinya makin marah saja kepada si anak buncit itu, karena ia terkena sapaannya, yaitu
menjadi burut alat kelaminnya, sampai ia susah berjalan, hampir-hampir tak dapat pulang ke rumah. Ia terus menangis. Mulai saat itu Nyi Sangkan makin lama makin membenci anak buncit itu. Oleh karena ia merasa malu, maka ia bermaksud untuk membunuh si buncit, hanya ia merasa takut oleh suaminya Daleum Sangkan. Pada suatu waktu si buncit sedang bepergian, ikan lubang kesayangannya dicuri oleh Nyi Sangkan dari tong kawung. Terus dibawa ke rumah dan dibuat masakan, sedangkan kepala ikan tersebut
tidak dimasaknya, ia masukkan ke dalam mangkuk dan disimpan di rak piring dengan ditutup oleh periuk. Tidak lama kemudian si buncit datang sambil membawa makanan ikan, terus ia mencari ikannya untuk diberi makan. Waktu dilihat ternyata ikannya sudah tidak ada lagi, yaitu dicuri oleh Nyi Sangkan, si buncit terus menanyakan, dan katanya : “Ua, ikan saya dikemanakan, sebab tidak ada lagi dari tempatnya, sudah tentu
dicuri olehmu”
.
Waktu sedang berbicara demikian, maka ayam jantan berkokok demikian bunyinya :
.
Kiplip-kiplip (suara tiruan tepukan sayap, sebelum ayam berkokok) Kongkorongok (suara koko ayam) Kepala lubang disembuyikan, Ditutup oleh periuk, Ditempatkan di dalam mangkuk, Disimpan di rak piring, Cepat-cepat, segera harus dicari, Jangan percaya kepada Nyi Sangkan, Sebab, dia buruk hatinya, Ia bermaksud membunuhmu.
.
Setelah mendengar kokok ayam yang demikian bunyinya, maka si buncit terus saja mencarinya ke rak piring. Waktu ditengoknya, ternyata kepala lubang itu ada, ditutup oleh periuk. Setelah itu si buncit tidak bicara lagi. Ia terus melarikan diri karena marahnya dan benci kepada Nyi Sangkan. Ia langsung pergi ke Negara Pakuan barat dan bertempat tinggal di sana sebagai pertapa dipegunungannya.
.
Diceritakan Raja Pakuan Barat mempunyai seorang putri yang sangat cantik bernama Putri Tasik Larang raja kembang. Waktu itu sedang baleg kembang (dewasa hasrat untuk lain jenis mulai tumbuh. Kemudian perasaan takut dalam menghadapi lain jenis kelamin, tapi belum ada keberanian untuk bercintaan. Ini yang disebut “baleg tampele”, sedangkan “baleg sedeng”,
adalah tumbuhnya hasrat untuk bercinta dengan segala akibatnya.) umurnya kira-kira sudah limabelas tahun dan belum mempunyai suami. Menurut cerita, anak buncit itu terus mandi di lubuk Sipatahunan (suatu lubuk yang sepenuh tahun selalu banyak airnya.) Setelah selesai ia mandi, maka rupanya menjadi amat bersih dan tampan sekali, bercahaya bagaikan seorang raja, hanya buncitnya tidak menjadi hilang. Ia segera turun ke kota untuk meminang Putri Tasik Larang raja kembang. Pinangan si buncit diterima oleh raja, dan terus disuruh kawin. Putri pun menerima dengan senang hati bersuamikan si buncit ada pun namanya si buncit, kini diganti menjadi Prabu Anom Munding Kawangi. Maka pesta perkawinannya pun dilangsungkan dan oleh mertuanya dijadikan Prabu Anom Pakuan Barat.
.
Cerita tentang yang menjadi raja kita tinggalkan dulu. Kita beralih kembali ke Parakan Kujang. Sewaktu raja muda sedang bertapa di Gunung Kujang, ia mempunyai seorang sahabat karib sedemikan rupa sehingga sudah seperti saudara sendiri ; sama-sama baik hati, percaya-mempercayai untuk untuk saling melindungi , namanya adalah Ratu Bagus Banarudin.
.
Pada suatu waktu karena sudah kelamaan di Pakuan Barat Raja muda merasa rindu dan ingin bertemu dengan Ratu Bagus Banarudin di Parung Kujang. Maka ia mohonizin kepada mertuanya untuk pergi dengan istrinya ke Parung Kujang. Mertuanya mengizinkan, hanya berpesan : “Jangan terlalu lama di Parung Kujang”.
.
Setelah itu maka segeralah suami istri itu pergi ke Parung Kujang. Sesampainya di Parung Kujang, langsung saja menemui Ratu Bagus Banarudin, mereka diterima dengan baik seperti pada saudara sendiri saja dan oleh karena sudah tidak merasa canggung lagi, makan – minum dan tidur pun di rumah Ratu Bagus Banarudin.
.
Akan tetapi dalam hatinya Ratu Bagus Banarudin mempunyai hasrat jelek, yaitu ia sebetulnya menginginkan prameswarinya Ratu Anom Pakuan Barat, hanya tidak diperlihatkan. Lama-kelamaan Ratu Anom Pakuan Barat minta diri kepada Ratu Bagus Banarudin, dan mengemukakan maksudnya akan menjalankan bertapa lagi di Gunung Caladi. Sedangkan istrinya ia titipkan kepada Ratu Bagus Banarudin, dan berkata : “Nanti sepulang bertapa, kakakmu akan dijemput lagi, sekarang titiplah dulu, sebab tidak akan terlalu lama. Setelah oleh Ratu Bagus Banarudin diterima, maka raja muda pergi menuju tempat pertapaan.
.
Sesampainya di Gunung Caladi, maka ia mengganti namanya menjadi Dewa Kaladri, sebab tempat bertapanya adalah Gunung Caladi. Selama ia sedang bertapa, Ratu Bagus Banarudin bermain cinta denga permasuri raja anom, dan diterimanya, maka terus saja dijadikan permaisurinya.
.
Waktu tapanya telah mencapai 7 bulan, Dewa Kaladri meninggalkan tempat pertapaannya dan terus menjemput permasurinya yang akan dibawa pulang lagi ke Pakuan Barat.
.
Waktu sampai di Parung Kujang dan setelah dilihatnya ternyata permaisurinya itu telah menjadi permaisuri Ratu Bagus Banarudin, jadi ia urungkan untuk pergi ke rumah Ratu Bagus Banarudin. ia lalu berdiam diri di saung huma, tidur tertelungkup, dengan perasaan heran yang bukan kepalang bahwa permaisurinya telah direbut oleh sahabat karibnya sendiri.
.
Tetapi ia tidak mau memarahinya, karena merasa kasihan kepada sahabat karibnya itu, bahkan ia membiarkan saja. Sedang demikian, ia dapat diketahui oleh pengikutnya Ratu Bagus Banarudin, lalu dilaporkannya kepada rajanya, dan oleh raja diperintahkan untuk ditangkap dan dibunuh. Dewa Kaladri terus meninggalkan tempat itu, melarikan diri menuju ke sebelah Tenggara. Waktu sampai di Tanjakan Ci-Batu ia bertemu dengan
seorang tukang penyadap aren yang bernama Ki Kondoy. Ia sedang meninggur tangan-tangan aren sambil membuang ijuk dan kelopak-kelopaknya. Dewa Kaladri menanya kepada Ki Kondoy : “Eh, sedang apa kau di sana?” Ki Kondoy menjawab : “Saya sedang meninggur, tangan-tangan aren ini mau disadap sambil membuang ijuk dan kelopaknya”. Dewa Kaladri berkata : Coba, hari ini aku harus segera kau tolong, karena aku sedang mendapat kesusahan, yaitu sedang dikejar-kejar oleh pengikutnya Ratu Bagus Banarudin dan mau dibunuh”. “Tapi aku tidak mau melawannya, karena kasihan”. “Sekarang juga aku harus segera kau sembunyikan, jangan sampai aku dibunuhnya”. Setelah itu maka terus saja oleh Ki Kondoy diberi pertolongan. Ia disimpannya ke dalam Lombang Labuhan Bulan, dan ditutupi ijuk dengan kelopak aren tadi sampai rapi sekali, sehingga tak kelihatan. Tidak lama kemudian, pengikut-pengikutnya Ratu Bagus Banarudin berdatangan mencari Dewa Kaladri. Waktu mereka bertemu dengan orang yang sedang menyadap, dan langsung menanyakan : “Hey yang sedang menyadapa, apakah kau tidak melihat orang lewat ke sini?” Jawab penyadap : “Aku tidak melihatnya, sebab sejak dari pagi aku ada di sini sedang menyadap, tetapi tidak ada orang lewat ke sini”. Setelah itu, mereka kembali lagi, tidak terus mencarinya. Setelah musuhnya kembali, maka Dewa Kaladri dikeluarkan lagi oleh Ki Kondoy dari Lombang Labuhan Bulan, dan selamatlah dari mara-bahaya.
.
Pada waktu itulah Dewa Kaldri mengeluarkan perkataan kepada Ki Kondoy, beginilah katanya : “Kondoy, aku sangat berterima kasih atas pertolonganmu sampai aku selamat dari bahaya maut. Kini aku mendo’akanmu agar kau menjadi kaya raya dari hasil pekerjaan yang sehari-hari kau kerjakan, yaitu menyadap aren. Hanya aku titip, di kelak kemudian hari, anak cucumu janganlah coba-coba kawin dengan keturunan Ratu Bagus
Banarudin di Parung Kujang dan dengan keturunan daleum Sangkan di Cihandam. Inilah yang harus dijadikan tabu olehmu karena Ratu Bagus Banarudin sudah memperlihatkan kerendahan budinya padaku. “Begitu pula istri Daleum Sangkan telah menyakitkan hatiku, dan anak cucu keturunannya, telah aku sapa, perempuannya menjadi burut kemaluannya.” “Jika kamu berani melanggar larangan ini, kamu akan mendapat kecelakaan, tidak menemui kebahagiaan, akan tetapi jika kamu mentaatinya, niscaya
kamu mendapat kebahagiaan, tidak akan mengalami kekurangan apa-apa”. “Nah, begitulah nasihatku, camkan dan perhatikan baik-baik”. “Kini aku tak akan lama di sini, aku bermaksud menuju Parakan Dangong”. Ki Kondoy menerima nya segala nasihat dan pepatah dari Dewa Kaladri, dan selamanya dijalankan dengan baik, serta disampaikan pula pada anak-cucunya.
.
Atas kepatuhannya pada nasihat-nasihat tadi, maka keturunan Aki Kondoy tidak mengalami kekurangan sandang-pangan. Setelah Dewa Kaladri memberi nasihat, maka terus saja pergi dan menghilang tanpa ada yang mengetahui kemana arah tujuannya.
.
Syhdan, diceritakan oranglah, bahwa Dewa Kaladri muncul di Ci-Masuk. Di sini banyak terdapat rumah-rumah dan orang-orangnya hidup berkecukupan.
.
Pada suatu ketika ia melihat seorang perempuan yang sedang mengangkat nasi. Maka Dewa Kaladri pura-pura kelaparan ingin mencoba perempuan tadi, dan meminta nasinya, katanya “Saya minta makan”. Perempuan tadi tidak memberinya karena takut tidak akan cukup untuk makan keluarganya, dan jawabnya : “Tidak ada makanan, yang ada hanya wedang”. Menjawab demikian itu, tiada lain hanya untuk menghindar pertanyaan-pertanyaan lain. Dewa Kaladri berkata : “Biar saja bila tidak ada, aku pun tudak memaksa tetapi bila diberi wedang pun aku mau menerimanya”. Bersamaan dengan Dewa Kaldri berkata demikian itu, maka nasi yang ditanak tadi menjadi wedang. Perempuan itu berdiam diri saja, tidak bicara, tidak apa, kaget melihat nasi sudah menjadi wedang.
.
Dewa Kaladri berkata : “Nah kalau orang suka berdusta maka beginilah kejadiannya”. “Kini kau menyapamu, karena kau telah mendustai kau, maka keturunanmu di Ci-Masuk, tidak akan berkecukupan kehidupannya dari hasil Seri. (Seri = Padi, dikatakan demikian itu menurut Dewa dari mana asalnya padi itu. Perkataan ini bukanlah spesifik Bahasa Baduy petani-petani di pedalaman menyebutnya seri juga, bukan pare, beas dan lainnya) Tapi bisa juga mendapat kehidupan dari aren sebab yang aku terima hanya wedangnya saja”.
.
Setelah berkata begitu, tak lama kemudian Dewa Kaladri menghilang, tidak tahu kemana perginya. Sampai saat ini, penduduk di Ci-Masuk tidak ada yang berkecukupan dari menanam padi, hanya dari hasil pohon aren saja, sebab telah disapa oleh Dewa Kaladri. Begitu pula, setiap yang telah disapa oleh Dewa Kaladri sampai saat ini masih menjadi tabu, seperti di desa Ci-Handam dan di Tanjakan Ci-Batu. Mereka tidak melakukan perkawinan silang sebab pada waktu telah kena sapaannya dan wanita-wanitanya telah menjadi burut alat kelaminnya.
.
Semua ketabuan telah diwariskan turun-temurun sampai kepada anak cucunya hingga kini. Diceritakan, bahwa Dewa Kaladri suda ada lagi di Parakan Dangong sedang bertapa.
.
Tempat ini disebutnya Parakan Dangong karena sebagai peninggalan para dewata membuat bendungan dan Dewa Kaladri di tempat itu bertapanya duduk di atas batu dengan kepala menengadah. Ada lagi, sekarang yang diceritakan Butut Lanting, kepala kampung di Ci-Keusik, mengadakan perundingan dengan teman-temannya yaitu kepala kampung Cibeo dan cikertawana, sebab oleh Geurang Puun telah diperintahkan untuk mencari dewa yang menjelma sebagai anak buncit, yang dulu diturunkan oleh ayahnya ke dunia dari kahyangan disuruh bertapa. Kini Geurang Puun telah menerima berita, bahwa raja dewa itu telah muncul di Parakan dangong.
.
Maka Buyut Lanting bermusyawarah dengan para temannya. Setelah itu, maka mereka pergi menuju Parakan Dangong, dan masing-masing membwa teman lagi 5 orang, jadi 3 orang kepala kampung, membawa 15 orang, maka semuanya berjumlag 18 orang.
.
Sesampainya di parakan Dangong, ternyata Dewa Kaladri sudah ada sedang bertapa di atas batu dengan kepala menengadah. Lalu dihampirinya, dan mereka telah bertemu dengannya di sini.
.
Waktu Dewa Kaladri melihatnya, dia merasa kaget disangkanya pengikut-pengikut Ratu Bagus Banarudin. Terus Dewa pergi sambil mengambil sebuah batu besar, sebesar kepala manusia, akan dilemparkan kepada 18 orang tadi. Sambil ia berkata : “Hey, apakah kalian betul pengikut Ratu Bagus Banarudin, ataukah bukan”, “Kalau benar, mari berperang dengan aku, coba, kalian mendekat ke sini bila ingin tahu”.
.
Kepala kampung Buyut lanting dan teman-temannya duduk bersimpuh, kaget bercampur takut dan mereka yakin bahwa ini adalah benar raja dewa yang dicari. Maka mereka lalu berbicara, dan katanya : “Duh, Gusti, kami ini bukannya pengikut Ratu Bagus Banarudin, kami adalah dari Ci-Keusik, Ci-Beo dan Ci-Kertawana. Kami datang ke mari, justru diutus oleh seorang Geurang Puun mencari raja dewa, yang dulu sudah diturunkan oleh ayahnya ke dunia dan mungkin kini Gusti harus kembali ke kahyangan”.
.
Setelah mendengar tutur kata mereka yang demikian, maka amarah Dewa Kaldri menjadi reda. Selanjutnya ia berkata : “Oh, baiklah bila demikian adanya, kalian aku terima, bila kalian betula sebagai kepala kampung Ci-Keusik, Ci-Beo dan Ci-Kertawana, hanya aku sekarang tak dapat menjadi raja kalian di dunia ini, karena akan segera pulang ke kahyangan, hanya sampai hari ini, saya dapat bertemu muka”. “Hendaknya kamu sekalian
selalu hati-hati dan waspada dan dengarlah baik-baik jagalah segala yang tabu janganlah dilanggar, dan jagalah semua rakyat kecil, agar kebahagiaan terus turun-temurun sampai ke anak-cucu, hendaknya semua ini ditaati”.
.
“Janganlah berani coba-coba melanggar semua larangan yanh tabu, seperti mencuri, beralih kepercayaan, melanggar kesusilaan dan kesopanan, semua ini mengakibatkan suatu malapetaka. “Barangsiap berani melanggar larangan-larangan ini, tidak mentaati
nasihatku, pasti akan mengalami kecelakaan”. “Nah begitulah, kini aku akan pulang ke kahyangan, kamu sekalian pulanglah segera, dan katakan kepada Geurang Puun, bahwa kamu sekalian telah bertemu denganku”.
Setelah berkata demikian, maka menghilanglah Dewa Kaladri, hilang tiada bekas.
Dikutip dari : Buletin Kebudayaan Jawa Barat “Kawit” Pen : Badoejsche Geesteskinderen Door C.M Pleyte
Sumber: mistiksunda.com