14 Desember 2011

Khasiat Kulit Buah Manggis

KHASIAT KULIT MANGGIS

1. Kulit manggis dijemur sampai kering dan haluskan hingga berbentuk
serbuk. Kemudian masukkan ke dalam capsule dan simpan di tempat yang sejuk.
Gunakan setiap hari secukupnya seperti meminum obat.


Dekat US harga sebotol jus kulit manggis adalah RM900.00+
Benda ini ada di depan mata, mengapa kita bsia siakan????

KHASIAT KULIT MANGGIS - JANGAN ABAIKAN

1. Anti-fatigue (energy booster/memberi tenaga)
2. Powerful anti-inflammatory (prevents inflammation)
3. Analgesic (prevents pain/mencegah sakit urat saraf)
4. Anti-ulcer (stomach, mouth and bowel ulcers)
5. Anti-depressant (low to moderate/mencegah kemurungan)
6. Anxyolytic (anti-anxiety effect/mencegah kegelisahan/ panik/cemas)
7. Anti-Alzheimerian (helps prevent dementia)
8. Anti-tumor and cancer prevention (multiple categories cited)... shown
to be capable of killing cancer cells/Mencegah kanker.
9. Immunomodulator (multiple categories cited) - helps the immune system
10. Anti-aging(Anti penuaan)
11. Anti-oxidant( Buang toxic dalam badan)
12. Anti-viral (membunuh kuman)
13. Anti-biotic (modulates bacterial infections)
14. Anti-fungal (prevents fungal infections/menggela kkan kulat)
15. Anti-seborrheaic (prevents skin disorders/ mencantikkan kulit)
16. Anti-lipidemic (blood fat lowering, L DL /membuang kolesterol)
17. Anti-atheroscleroti c (prevents hardening of arteries)
18. Cardioprotective (protects the heart/untuk jantung)
19. Hypotensive (blood pressure lowering/rendahkan tekanan darah)
20. Hypoglycemic (anti-diabetic effect, helps lower blood sugar/ kurangkan gula dalam darah)
21. Anti-obesity (helps with weight loss/kuruskan badan)
22. Anti-arthritic (prevention of arthritis/cegah sakit tulang)
23. Anti-osteoporosis (helps prevent the loss of bone mass)
24. Anti-periodontic (prevents gum disease/cegah gusi berdarah)
25. Anti-allergenic (prevents allergic reaction)
26. Anti-calculitic (prevents kidney stones/cegah batu karang)
27. Anti-pyretic (fever lowering/rendahkan suhu badab)
28. Anti-Parkinson
29. Anti-diarrheal
30. Anti-neuralgic (reduces nerve pain/sakit urat saraf)
31. Anti-vertigo (prevents dizziness)
32. Anti-glaucomic (prevents glaucoma/sakit mata)
33. Anti-cataract (prevents cataracts)
34. Pansystemic - has a synergistic effect on the whole body/Mengimbangi seluruh badan.

GOUT

Kulit manggis amat berkhasiat untuk membuang asid urik di dalam badan.
Pengidap gout bisa memanfaatkan kulit manggis ini.

Caranya

1. Ambil buah manggis
2. Kupas
3. Buah manggis yang berwarna putih enak dimakan
4. Kalau sebelum ini kulit manggis yang berwarna hitam itu kita buang saja tapi mulai sekarang jangan lagi, ambil kulit manggis tsb, kemudian iris tipis dan jemur sampai kering
5. Bila akan digunakan, ambil 2 - 3 irisan kulit manggis kemudian rendam
di air panas. Diamkan beberapa saat sampai air berubah hangat baru bisa diminum .
6. Warna air akan berubah sedikit ungu. Rasa air sedikit lengket tetapi
enak.

24 Oktober 2011

Pangeran Jamban

Pentingna ngaji tepat waktu teh meureun sangkan henteu saliwang sok komo lamun nu diajina ilmu taohid. Salah saeutik oge apan anu tikosewad lain letah, tapi akidah. Harita keur ngabahas bag-bagan Kapangeranan. Ajengan, "Iing, apal henteu Pangeran linggihna dimana?" Waler Iing, "Pangeran mah teu peryogi tempat, pon kitu henteu kawengku ku waktu!" Pertanyaan pindah ka Wildan, "Wildan, naon ari nu disebut Arasy?" "Arasy mah ciciren tina kakawasaan pangeran, sanes tempat andegleng-Na Mama," Jawab Aceng Wildan mantep malum manehna mah samemehna oge pernah ngastrol di Karasaksari. Keur ragot ngadiskusikeun dimananya Pangeran torojol Ade Sopwan Mulek datang kabeurangan, ngos-ngosan bari buukna rancucut. Manehna mah santri kalong. Mama Ajengan teu mere omber ka nu hahehoh, langsung ditanya, "De, di mana Pangeran?" Si Ade teu euleum-euleum langsung ngajawab, "Di jamban Mama!" Sararea alistigfar bari kerung, na hatena noroweco ti iraha si Ade pindah kana ajaran mikung? Ngan Mama Ajengan anu katingali kalem. Pokna naros deui, "Naha di WC, De?" Barabat Jang Ade nepikeun alesanna, "Mama tadi teh waktos abdi nuju ibak di jamban, puguh kasiangan. Ema sami deuih kasiangan katambih anjeuna mah kedah enggal-enggal ka sakola. Ningal abdi lami di jamban, Ema ngagugudrag panto jamban bari nyarios "Gustiiiii, di WC teh lila teuing. Burukeun, Ema rek mandi!" ( asep salahudin ) Etnografi Humor Pasantren II/Majalah Cakakak/No. 9/September 2010

30 September 2011

Positif thinking

Sepasang suami istri yg sulit punya anak akhrnya memutuskan utk menggunakan pendonor sperma.

Di hari H, si suami berkata, "Sayang, dia datang sebentar lagi, jadi tunggu aja. Aku pergi dulu.."
"Baik Pa, aku tunggu di teras saja yah..", sahut sang istri harap2 cemas.

Namun tak lama berselang, tiba2 datang seorang fotografer bayi yg kebetulan lewat mencoba utk menawarkan jasa fotografi.

Fotografer: "Pagi Bu! Saya datang untuk.."

"Oh, langsung saja. Saya sudah menunggu Anda", potong si istri.

Fotografer: "Benarkah? Wah, spesialis saya adalah bayi"

"Ya, itu yang kami butuhkan"

Melihat si fotografer sedang mengambil sesuatu, si istri bertanya dgn malu2, "Kita mulai dari mana ya?"

Fotografer: "Serahkan pada saya, ahlinya. Saya akan mulai 2x di
bathtub, 3x di sofa & 5x di kasur. Di ruang keluarga asyik juga, bisa
benar2 leluasa!"

"Bathtub, sofa? sampai berkali kali??? Pantas saya & suami selalu gagal"

Fotografer: "Ya, Bu, tdk ada yg bisa menjamin kesempurnaan. Tapi, kalau kita coba banyak posisi yg berbeda2 & menembak 6 smp 7 sudut yg berbeda, saya yakin Anda akan puas sekali"

"Hah! Banyak sekali..", teriak sang istri

Fotografer: "Saya harus gunakan waktu semaksimal mungkin. Bisa saja hny 5 menit, tapi anda akan kecewa.."

"Baiklah", kata si istri.

Fotografer mengeluarkan album foto2 bayi, hasil jepretannya.

"Ini dilakukan diatas bus!"

"Apaaa!? Diatas bus???"

Fotografer: "Kembar itu termasuk sangat bagus, mengingat Ibunya yg sangat sulit"

"Sulit?", tanya sang istri mulai bingung & takut.

Fotografer: "Yup, akhirnya harus ke taman utk memuaskanya. Banyak yg melihat & menonton"

"Ada yg melihat & menonton?", tanya si istri sangat kaget.

Fotografer: "Yup, 3 jam lebih. Ibu itu berteriak2. Sangat sulit bagi
saya utk konsentrasi. Sekarang bila ibu sudah siap, saya akan pasang tripod"

"Tripod??? Utk apa???"

Fotografer: "Iya, harus gunakan tripod utk menopang 'Alat' saya, terlalu berat kl lama2.

"Ibu...!! Ibu..., Hallo Bu...!

16 Agustus 2011

Sebelum Mengeluh

Hari ini sebelum kamu mengatakan kata-kata yang tidak baik,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak dapat berbicara sama sekali.

Sebelum kamu mengeluh tentang rasa dari makananmu,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.

Sebelum kamu mengeluh tidak punya apa-apa,
Pikirkan tentang seseorang yang meminta-minta dijalanan.

Sebelum kamu mengeluh bahwa nasib kamu buruk,
Pikirkan tentang seseorang yang berada pada tingkat yang terburuk didalam hidupnya.

Sebelum kamu mengeluh tentang suami atau istri anda,
Pikirkan tentang seseorang yang terus memohon kepada Allah SWT untuk diberikan pendamping hidup.


Hari ini sebelum kamu mengeluh tentang hidupmu,
Pikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat

Sebelum kamu mengeluh tentang anak-anakmu,
Pikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak tetapi dirinya mandul

Sebelum kamu mengeluh tentang rumahmu yang kotor karena pembantumu tidak mengerjakan tugasnya,
Pikirkan tentang orang-orang yang tinggal dijalanan.

Sebelum kamu mengeluh tentang jauhnya kamu telah menyetir,
Pikirkan tentang seseorang yang menempuh jarak yang sama dengan berjalan

Dan disaat kamu lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu,
Pikirkan tentang pengangguran, orang-orang cacat yang berharap mereka mempunyai pekerjaan seperti anda.

Sebelum kamu menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain,
Ingatlah bahwa tidak ada seorangpun yang tidak berdosa.

Kisah Pohon Apel

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang
bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.
Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya,
tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat
mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak
kecil itu. Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan
tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.

Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. “Ayo ke sini
bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu. “Aku bukan anak kecil
yang bermain-main dengan pohon lagi,” jawab anak lelaki itu.”Aku ingin
sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.”

Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang… tetapi kau
boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang
untuk membeli mainan kegemaranmu.” Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu
memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita.
Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu
kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya
datang. “Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel. “Aku tak punya
waktu,” jawab anak lelaki itu. “Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami
membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?” Duh, maaf
aku pun tak memiliki rumah.

Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,” kata
pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon
apel itu dan pergi dengan gembira.Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat
anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon
apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa
sangat bersuka cita menyambutnya.”Ayo bermain-main lagi denganku,” kata
pohon apel.”Aku sedih,” kata anak lelaki itu.”Aku sudah tua dan ingin hidup
tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah
kapal untuk pesiar?”

“Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan
menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan
bersenang-senanglah.”

Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal
yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui
pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. “Maaf
anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi
untukmu.” “Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah
apelmu,” jawab anak lelaki itu.

“Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat,” kata pohon
apel.”Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab anak lelaki itu.”Aku
benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang
tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,” kata pohon
apel itu sambil menitikkan air mata.

“Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,” kata anak lelaki.
“Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah
sekian lama meninggalkanmu.” “Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar
pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari,
marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.”
Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon.

Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

NOTE :
Pohon apel itu adalah orang tua kita.
Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika
kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita
memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita
akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk
membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah
bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita
memperlakukan orang tua kita

RENUNGKAN

Betapa besarnya nilai uang kertas senilai Rp 100.000, apabila dibawa ke masjid untuk disumbangkan; tetapi betapa kecilnya kalau dibawa ke Mall untuk dibelanjakan !!

Betapa lamanya melayani Allah selama lima belas menit namun betapa singkatnya kalau kita melihat film&mengobrol !!

Betapa sulitnya untuk mencari kata-kata ketika berdoa (spontan) namun betapa mudahnya kalau mengobrol atau bergosip dengan teman tanpa harus berpikir panjang-panjang !!

Betapa asyiknya apabila pertandingan basketball diperpanjang waktunya ekstra namun kita mengeluh ketika khotbah di masjid lebih lama sedikit daripada biasa !!

Betapa sulitnya untuk membaca satu lembar Al-qur'an betapa mudahnya membaca 100 halaman dari novel yang laris !!

Betapa getolnya orang untuk duduk di depan dalam pertandingan atau konser namun lebih senang duduk di shaf paling belakang di masjid !!

Betapa mudahnya membuat 40 tahun dosa demi memuaskan nafsu birahi semata, namun alangkah sulitnya ketika menahan nafsu selama 30 hari ketika berpuasa !!

Betapa sulitnya untuk menyediakan waktu untuk sholat 5 waktu; namun betapa mudahnya menyesuaikan waktu dalam sekejap pada saat terakhir untuk event yang menyenangkan spt hura-hura !!

Betapa sulitnya untuk mempelajari arti yang terkandung di dalam al Qur'an; namun betapa mudahnya untuk mengulang-ulangi gosip yang sama kepada orang lain !!

Betapa mudahnya kita mempercayai apa yang dikatakan oleh koran namun betapa kita meragukan apa yang dikatakan oleh Kitab Suci AlQuran !!

Betapa setiap orang ingin masuk sorga seandainya tidak perlu untuk percaya berbuat apa-apa !!

Betapa kita dapat menyebarkan seribu lelucon melalui e-mail, dan menyebarluaskannya dengan FORWARD; namun kalau ada mail yang isinya tentang Kemuliaan Allah betapa seringnya kita ragu-ragu, enggan membukanya dan mensharingkannya, serta langsung klik pada icon DELETE.

ANDA TERTAWA ...? atau ANDA BERPIKIR-PIKIR...?

Sebar luaskanlah Sabda-Nya, bersyukurlah kepada ALLAH, YANG MAHA BAIK, PENGASIH DAN PENYAYANG.

Apakah tidak lucu apabila anda tidak memFORWARD pesan ini. Betapa banyak orang tidak akan menerima pesan ini..


16 April 2011

NINI-NINI MALARAT JEUNG DELEG KASAATAN

Jaman baheula aya nini-nini malarat teu kinten-kinten. Papakéanana geus butut sarta laip, disampingna ogé ngan ukur bisa nutupan orat.  Kitu deui dahar leueutna salawasna ngan sapoé sakali baé, malah-malah sakapeung mah datang ka pot pisan sapoé dua poé henteu manggih-manggih sangu, ngan ukur nginum cai wungkul.  Ari buburuh dederep henteu kaduga jeung geus henteu laku, wantu-wantu enggeus kolot kurang tanagana.  Jadi kahirupanana taya deui ngan tina ngaroroték baé dina tegal-tegal atawa kebon awi, ari beubeunanganana dipaké nukeuran béas atawa cangkaruk ka tatanggana.
Pandéning imahna ngan sempil baé, ditangkodkeun kana pongpok imah baturna, kitu ogé hateupna bilikna geus balocor, wantu-wantu henteu aya pisan anu daék nulung mangngoméankeun, ku tina henteu boga sanak baraya, sumawona anak incu, éstuning nunggul pinang.
Ari éta nini-nini téh sakitu nya kokolotanana henteu pisan nyaho ka Gusti Allah, ulah bon ngalampahkeun téa kana paréntahna, jenenganana ogé henteu apal, pangrasana ieu bumi jeung langit téh jadi sorangan baé, euweuh anu midamel.
Dina hiji mangsa éta nini-nini geus dua poé henteu manggih-manggih dadaharan, sosoroh nukeuran sangu ka tatanggana taya nu méré. Ti dinya manéhna tuluy ngajentul di imahna bari humandeuar pokna, “Aduh, cilaka teuing diri aing ieu, nya ayeuna paéh langlayeuseun téh”.
Sanggeus ngomong kitu téh, tulcel, boga niat rék ngaroroték deui ka tegal, bari sugan manggih dangdaunan atawa bongborosan nu ngeunah dihakan, keur tamba ulah langlayeuseun teuing.  Geus kitu bral leumpang ngajugjug ka tegal kaso urut nyundutan, anu deukeut kana talaga, sarta di sabeulahna deui nyandingkeun walungan gedé.

Barang datang ka dinya, éta nini-nini téh manggih lauk deleg pirang-pirang, rék pindah ti walungan ka talaga.  Sanggeus nepi kana tengah-tengah éta tegal deleg teh kabeurangan, panon poé geus kacida teuing panasna, jadi deleg kabéh awakna taluhur kukumurna, ku tina seuseut datang ka henteu bisa maju leumpangna.  Kusabab kitu éta deleg kabéh pada nyandang susah tanwandé manggih bilahi paéh kasaatan.
Di dinya éta nini-nini téh bungah kacida, pikirna geus tangtu manggih untung meunang lauk pirang-pirang boga keur nukeuran sangu.  Tapi manéhna héran neuleu aya hiji deleg, anu panggedéna ti sakabéh baturna, jeung deui leumpangna ogé pangheulana, kawas-kawas nu jadi ratuna sarta bisaeun ngomong, pokna, “Samiun Allah kuring neda hujan!  Samiun Allah kuring neda hujan!”  Kitu baé omongna bari tatanggahan ka luhur.

Ari ku nini-nini  saomong-omongna éta deleg téh didengekweun wae, hayang nyaho kumaha kajadianana.  Barang geus kira-kira satengah jam lilana, datang hujan gedé naker mani cileungcangan. Ti dinya éta deleg barisaeun deui leumpang, tuluy kebat lumakuna. Ari nini-nini téh datang ka ngadégdég awakna tina bawaning tiris kahujanan sarta léngoh balikna teu barang bawa.

Kacaritakeun éta nini-nini téh sanggeus datang ka imahna tuluy mikir bari ngomong di jero haténa, “Ih boa lamun aing ogé neda widi ka nu ngaran Allah téh, meureun dipaparin, ari piomongeunana mah nya cara deleg téa baé, ngan bédana aing  mah rék neda uwang.
Ti dinya éta nini-nini ség baé tapakur di imahna, bari ngomong tatanggahan ka luhur nurutan sakumaha kalakuan deleg téa. “Samiun Allah kuring neda uwang! Samiun Allah kuring neda uwang!” Kitu baé omongna teu eureun jeung pikirna anték kacida panedana ka gusti Allah, datang ka geus teu aya pikiran deui ka nu séjén.
Ari jalma anu imahna di tangkodan ku imah nininini téh, banget ngéwaeunana, ku sabab gandéng jeung bosen, unggal poé unggal peuting ngadéngékeun omongna éta nini-nini, ngan kitu baé, taya pisan répéhna. Tuluy baé nyentak ka nininini téh pokna, “Nini! Répéh aing gandéng, ngan kitu baé euweuh deui kasab, moal enya Allah téh sumping ka dieu, seba duit ka manéh. Jeung kitu baé mah anggur ngala suluh, ngala daun ka leuweung, meureun aya hasilna. Jeung deui, lamun manéh henteu beunang dicarék, geura undur baé imah manéh ulah ditangkodkeun ka imah aing.”
Panyentakna éta nu boga imah ku nininini henteu digugu, tonggoy baé ngomong nyuhunkeun duit ka Allah anggur beuki tambah maksudna.
Barang geus nepi ka lima poéna, anu boga imah téh beuki kacida garétékeunana, henteu beunang dicarék, sarta dititah undur henteu los. Ti dinya éta jalma tuluy nyokot karung goni beunang ngeusian ku beling datang ka pinuh sarta dipékprékan, supaya jejel ambeh beurat. Niatna rék dipaké ngabobodo ka nini-nini téa, sina dinyanaan duit paparin Allah ragrag ti luhur, jeung sugan nyeurieun ditinggang tonggongna ku éta karung ambeh kapok moal ngomong kitu-kitu deui.
Kira-kira geus wanci sareupna ku éta jalma karung téh dibawa naék ka para, tuluy diponcorkeun tina sipandak ditindihkeun ka handap mener kana tonggongna. Nini-nini téh kalenger tina bawaning nyeri. Ana geus inget, nénjo aya karung ngadungkuk teh kacida atoheunnana, panyanana nya éta karung duit, paparin ti Allah.
Anu boga imah téh suka seuri nénjo kalakuan nini dug-dug deg-deg, semu banget atohna. Geus kataksir piengkéeunana bakal meunang éra kabobodo, karana nu dikarungan téh tétéla pisan yén beling.
Geus kitu karung téh disembah ku nini-nini téh bari ngomong kieu, “Nuhun Allah! Nuhun! Naha loba-loba teuing maparin duit téh, mana ari keur Ajengan, aya kénéh nun?” Ti dinya tuluy geuwat dibuka. Geus kitu kersana Nu Agung, dumadakan éta beling kabéh jadi duit, aya uwang emas, aya uwang pérak, jeung deui kumaha gedéna baé, aya nu jadi ringgit, aya nu jadi ukon.
Ari isukna tatangga kabéh daratang ngadeugdeug, yén éta nini-nini meunang bagja boga duit pirang-pirang. Malah Kapala Distrik ge sumping ka dinya ngalayad, sarta tuluy dilaporkeun ka nagara, jeung ditétélakeun asal purwana. Ari timbalan ti nagara, éta nini-nini henteu kaidinan cicing di kampung, bisi aya nu nganiaya dipaling duitna, jeung diurus dipangmeulikeun imah, katut eusina.
Ti wates harita éta nini-nini téh jadi sugih teu kinten-kinten. Kitu deui dipikanyaah ku menak-menak tina saregep kumawulana jeung tambah alus budina, kalulutan ku jalma réa jeung loba  sobatna, tina suka tutulung ka jalma-jalma nu miskin, sumawonna ka nu keur kasusahan, margi ngaraskeun ka dirina basa keur malarat kénéh.
Kacaritakeun éta jalma anu méré karung beling téa, kabitaeun naker neuleu éta nini-nini téa jadi beunghar lantaran dibobodo karung beling ku manéhna.  Geus kitu boga niat hayang nurutan.
Ti dinya tuluy nganjang, sejana rék badami, supaya dibales ku éta nini-nini téa sina nindih ku karung beling ka manéhna, pokna, “Nini saterangna éta duit téh asalna beling beunang kula ngarungan, dipaké ngabobodo ka sampéan, kusabab satadina kaula giruk ngadéngékeun anjeun ngomong baé nyuhunkeun duit ka Allah, tatapi ahir-ahir éta beling dumadakan wet jadi duit kabéh.  Ku prakara éta ayeuna kaula rék neda dibales ku sampéan, hayang ditinggang ku karung beling, karana tanwandé jadi duit ogé cara nu geus kalampahan, tatapi kaula mah hayang ditinggang ku dua karung, nu galedé, ambeh kaula leuwih beunghar manan nini.”
Wangsul nini téh, “Hadé, heug baé geura tapakur, cara kaula baréto”.
Ti dinya éta jalma téh tuluy balik. Sadatang ka imahna heug baé tapakur nurutan sakumaha polahna nini-nini téa, sarta ngomong, pokna, “Samiun Allah kuring neda uwang! Samiun Allah kuring neda uwang!”  Kitu baé omongna, jeung pikirna ujub kacida nangtukeun yén bakal meunang duit ti Allah dua karung goni parinuh.

Barang blug ninggang, sek baé kapaéhan, malah-malah tulang tonggongna datang kapotong. Arina inget geuwat ménta parukuyan ka pamajikanana, heug karung téh dikukusan, ari mentas dikukusan tuluy disembah, bari ngomong nurutan cara omong nini-nini téa, pokna, “Nuhun Allah! Nuhun! Naha maparin duit réa-réa teuing, mana ari keur Ajengan? Aya deui?”
Barang geus tamat ngomong karungna dibuka, béh beling kénéh baé henteu daékeun jadi duit. Ti dinya kacida hanjakaleunana datang ka ngalembah rék ceurik tina bawaning aral, ség baé bijil omongna suaban ngahina ka Gusti Allah, pokna, “Ih naha Allah téh wét pilih kasih, dipangnyieunkeun duit sawaréh! Ari kaula henteu! Jeung deui kumaha naha atawa Allah téh geus diganti deui tayohna, da nu baréto mah bisa nyieun duit ku beling, ari Allah nu jeneng ayeuna tayoh-tayoh henteu bisaeun?

Ti wates harita éta jalma gering heubeul pisan nyeri cangkéng, tatamba kapirang-pirang dukun. Tina aya kénéh berkah Allah bisa cageur ogé, tatapi tanpadaksa, jadi bongkok tonggongna, datang ka henteu kuat nyiar kahirupan rosa-rosa. Lawas-lawas manéhna jadi malarat cara nininini téa, kawas-kawas jadi tépa malaratna éta nini ka éta jalma téa. ***
Nyutat ti Majalah Walanda,  TIJDSCHRIFT voor INDISCHE  TAAL, LAND EN VOLKENKUNDE, wedalan taun 1872.  Dongeng Sunda Buhun ieu dikukumpul ku J.A. UILKENS, mangrupa  carita ra’yat urang Ciamis. [Dicutat tina blog ”Kumpulan Carita jeung Dongeng”]

31 Maret 2011

Naskah kanggo Panata Calagara dinu nikahkeun

BUBUKA
Assalamua'laikum Wr. Wb.
Bapa-bapa, Ibu-ibu, para wargi sadayana anu sami linggih hormateun sim kuring. Sakumaha kauninga ku sadayana, alhamdulillah calon panganten pameget miwah rombongan parantos sumping ngaleut ngeungkeuy ngabandaleut, ngembat-ngembat nyatang pinang.
Bismilah, purwa wiwitan ieu pamuka carita minangka pamuka acara. Babasan padika pagawean lamun nangtung ka jungjunan, sing lulus bantun jeung tumbu buah seureuhna. Neda panyaksen acara bade dikawitan.
MAPAG CALON PANGANTEN PAMEGET
Pangersa calon panganten pameget miwah rombongan. Jagong tuhur meunang ngunun haturan wilujeng sumping, di sugeng ing pucu galuh kelurahan ____________ katelahna, tempat anyar pangharepan, sarakan keur kahirupan kulawarga.
Calon panganten istri, bisi si jalu hanjelu si lanang honcewang, sumangga geura hayap calon panganten pameget miwah rombongan.
PANGALUNGAN MANGLE
Tawis panampian tatamu, tanda kameumeut, kadeudeuh, tawis asih ti kakasih, tanda tresna kanyaah, mangga geura kalungkeun eta mangle tawis pangrungrum hate perlambang kaberesihan manah (mangle di kalungkeun).
Haturan wilujeng sumping ka calon  panganten pameget. Tutut gunung keong reuma, sumangga geura gek calik.
SESERAHAN
Bismillaahirrohmaanirrohiim
Para hadirin, miwah para tatamu sadayana, khususna ka calon panganten pameget miwah rombongan, bawiraos emutan pribados, pamali mun dilami-lami, teu kedah dilila-lila, nu dianti-anti ti tatadi, didago-dago ti bareto, ayeuna parantos nyampak. Sok sanaos sami surti, sami uninga maksadna, nanging, kanggo nyumponan tindak tanduk tata titi duduga peryoga manusa pangeusi dunya, anu parantos dipaparinan manah, rasa, sareng lisan dina saliring dumadi, teu cekap ku surti sareng tekad wungkul, namung kedah di sarengan ku ucap. Teu sae miulan awi, mere cai geusan mandi, mere huut tina guguran, namung kedah di bejer beaskeun, kembang boled nu tetela.
Para hadirin miwah para tatamu sadayana, acara urang kawitan ku galindeng ayat-ayat suci Al-Qur'an anu baris kasanggakeun ku ____________________________
Ngahaturkeun nuhun ka____________________ nu parantos ngagalindengkeun kalam ilahi, mudah-mudahan ageung mangpaatna kanggo nu maoskeun hususna, umumna ka urang sadaya anu sami-sami ngadangukeun. "amin".
Calon panganten pameget miwah rombongan, mugi teu janten kekeling galih rengat nya mamanahan, aya naon nya pamaksadan, numawi jauh-jauh dijugjug anggang-anggang diteang? Sumangga geura wakcakeun masing balaka (Sumangga ka pangersa kasepuhan calon panganten pameget dihaturanan kapayun kanggo ngadugikeun lebeting kalbu jeroning ati).
PANAMPIAN
Para wargi sadayana, nembe sami-sami nyakseni gerentes kalbu kasepuhan ti pihak calon panganten pameget miwah rombongan. Lain lantung tambuh laku sanes lunta tanpa seja, purwa aya nu di maksad, seja ngaitkeun jangji pasini , manjangkeun simpay babarayaan, sakotretna tina hate.
Sakeser daun satangkal, sabungkus bareng jeung bungkusna nyerahkeun panganten pameget sareng cacandakanana. Sim kuring saukur darma, teu wasa  panjang carita. Kanggo pang walerna mangga nyanggakeun kanu disepuhkeun ti pihak calon panganten istri. Waktos di sayogikeun.
Para wargi sadayana, bingah amarwata suta, bingah kagiri-giri, bingah nu taya papadana. Nugar cadas mangih emas, mobok manggih gorowong, aya jalan komo meuntas. Jalan gede sasapuan batu turun keusik naek, itu purun ieu daek, laksana nya pamaksadan.
Kumargi eta mangga geura hayap calon panganten pameget miwah cacandakanana. Mangga salah sawios cacandakan didugikeun minangka simbul ti Ibu calon panganten pameget di tampi ku Ibu calon panganten istri. Nu sanesna mah diantaykeun bae manawi.
(Mangga calon  panganten pameget di candak kalebet heula kangge didangdosan).
AKAD NIKAH
Para wargi sadayana..
Niti wanci nu mustari, ninggang mangsa nu waluya. Malati ligar na ati, campaka mangkak na dada, koleak sakembaran, koceak ninggang ugana. Uga pakaitna tatali asih antawis Neng_____________ sareng Cep __________________.
Jangji urang pastikeun subaya urang nyatakeun. Nu diseja mangka nyata, neda panyakseni ti  para wargi sadayana, upacara akad nikah seja dikawitan.
(Mangga candak calon panganten istri ka luar).
Sumangga ka pangersa bapa petugas ti Kantor Urusan Agama kanggo ngalaksanakeun Akad Nikah.
..........................................................
Alhamdulillah wa sukurillah kalawan rido gusti anu maha welas  tur maha asih, oge pangdu'a ti sadayana, akad nikah parantos rengse kalayan lancar.
Acara salajengna di teraskeun kana sungkeman.(Mangga ieu acara disanggakeun ka pangersa ___________________.
DO'A
Acara munggaran dugi ka akhir parantos rengse, mugi urang sadayana aya dina panangtayungan Gusti nu maha suci. Kukituna kanggo panganteb kahoyong urang sadaya di lajengkeun kana do'a. Kanggo mingpin do'a, mangga pangersa __________________ dihaturanan.
Ti pribados salaku pangatur waktos, bilih aya basa nu teu sampurna, teu merenah tata titi sareng undak usuk basa, hapunten anu kasuhun.
Urang pungkas ieu acara ku maos hamdalah: Alhamdulillaahi robbil 'aalamiin.
Wabillahi taufiq wal hidayah Wassalamualaikum Wr. Wb.

Balik Deui Kana Beuteung Indung

Isuk-isuk keneh geus hudang, muru jam genep rek ka sawah. Balik ba'da Lohor. Datang ka imah, kedewek dahar, reureuh, sholat. Reup peuting sare....................., Isuk-isuk hudang . Kitu jeung kitu bulak balik, unggal poe, unggal bulan, unggal taun. Kudu hudang isuk-isuk, kudu kasawah ngawaskeun pagawe, kudu dahar, kudu sare jeung sajabana ti kudu. Lalakon hirup duapuluh opat jam saban poe ngan kitu jeung kitu wae. Hirup tungkul kana kudu, disengker ku waktu.
Leng hahuleng. Manehna teh anak ngan hiji-hijina ti kaluarga Juragan Sardi bandar beas anu geus kakoncara di sa desa Paneungteung. Ari indungna ku tatangga nelah Nden Rahayu, sedeng ngaran manehna Ardi, nyutat tungtungna ngaran bapana "di". Sok sanajan anak ngan hiji-hijina tapi can pernah kolotna mere leuwih mikanyaah ka manehna. Salilana natrat dina didikan anu basajan. Kudu nyaah kanu leutik, kudu rikrik, kudu gemi,kudu kandel iman , kudu getol digawe jeung saabreg "kudu". Beda jeung akina nyaah dulang, sagala kahayang dibaekeun nu penting salamet dunya aherat.
Hatena banget ku hayang ngabuktikeun carita akina almarhum lima taun katukang, yen kaluaran ti Pasantren Lemah Luhur kabeh bisa ngalakonan Rukun Islam kalima. Lian ti pinuh ku elmu panemu jampe pamake oge pinuh ku elmu lakuning dunya jeung aherat. Ngan nyakitu cenah, Pasantren Lemah Luhur teh ayana di kiduleun leuweung Pasarean anu diwisesa ku para dedengkot rampok. Lain ngan harta, tapi nyawa sok diala. Mun di saba bari wani ngaliwatan leuweung bakal meakeun waktu dua poe, sedengkeun mun nguriling bakal meakeun waktu saminggu bari leumpang ngaliwatan leuwi Maung jeung reuma anu jarang kasaba ku manusa lantaran pinuh ku sasatoan garalak.Tapi hatena geus gilig rek wakca ka kolotna, kahayang mo bisa dipungpang rek ngawani-wani maneh ngabejakeun maksud jeung tujuan anu geus dicita-cita ti baheula.
Gorowok sora azan ti masjid kalereun imah. Geus isya, gerentesna. Leos ka kodong rek abdas, beres abdas gidig ka masjid. Beres solat terus wirid, munajat ka Mantenna kahayang bisa laksana. Balik ti masjid, sup ka imah nyampak kolotna keur ngariung di tengah imah. Bapana ngelepus udud padudan,sedeng indungna keur kakaput. Solongkrong kahareupeun indungna, gek diuk.
"Geus ti masjid Di ?" indungna nanya.
"Muhun" jawabna bari gek sila. Manehna mimiti ngomong bari tungkul "Aya kaperyogian ka Bapa sareng ka ema." Ngomongna semu dareuda.
"Asa ku pararenting Di. Hayang kawin, hayang diajar dagang atawa hayang naon ? kadada kaduga mah moal burung teu di tedunan asal bener." Cek bapana.
"Sanes Pa, abdi teh aya anu bade dibadantenkeuneun ngeunaan pamaksadan anu ti kapungkur tos diimpleng." Jawabna.
"Pamaksudan naon, cing pek caritakeun." Indungna nimbrung.
"Abdi teh tos dewasa, tos meujeuhna panginten upami abdi hoyong milari elmu panemu boh kanggo di dunya atanapi di aherat. Tah,upami bapa sareng ema ngawidian, pageto abdi seja boboleh bade masantren."
"Rek masantren ? alus cita-cita hidep teh. Pasti ku bapa jeung indung hidep disatujuan. Tuh pasantren anu alus mah di kiduleun desa urang. Tong jauh-jauh nu deukeut we, malar urang luar mah kadarinya da alus cenah kaluaran ti dinya mah." Cek Bapana bari unggeuk-unggeukkan tanda satuju.
"Sanes pa, abdi teh hoyong masantren di Lemah Luhur."
"Baruk di Lemah Luhur? Bet jauh pisan anaking." Indungna hariwang.
"Di, pasantren Lemah Luhur teh bener pasantren anu geus kakoncara. Tapi kade sing inget, nyorangna ka eta pasantren kudu ngaliwatan leuweung Pasarean anu pinuh ku badog jeung rampog. Ngan hiji-hijina manusa anu bisa ngaliwatan eta leuweung iwal ti aki maneh almarhum." Bapana negeskeun.
"Tos janten katangtosan hate abdi, moal tiasa dirobih deui." Manehna ngayakinkeun.
Gabrug indungna ngagabrug bari ceurik. " Duh ujang, sing karunya ka ema. Ema teh ngan hiji-hijina boga anak teh ngan hidep sorangan. Saha deui anu bakal neruskeun kolot iwal ti hidep."
"Sing percanten ka nu Kawasa Ma." Cek Ardi.
Bapana teu ngomong kalahka gogodeg. Dina hatena manghanjakalkeun pamaksudan anakna. Tapi dalah dikumahakeun, lamun aya kahayang sarua jeung manehna. Neugtreug teu beunang di bebenjokeun, kitu meureun anakna oge nurun ka manehna. Ahirna Bapana ngomong :
"Nya ari kahayang hidep geus gilig mah nu jadi kolot ukur nyatujuan. Ngan kudu hade-hade di jalan bisi nyorang bancang pakewuh"
"Nuhun Bapa, Ema abdi nyuhunkeun pido'ana." Bari gep nyekel dampal suku bapana terus di cium, oge dampal suku indungna.
Bari pamitan, manehna leos ka kamar. Gek diuk dina luhureun ranjang bari hatena kebek ku kapanasaran hayang nyaho naon anu bakal kasorang. Goledag nangkarak ,paneuteup nanceb kana langit-langit kamar. Dina hatena tetep teu percaya masih keneh aya nu rarampog. " Eta mah carita lima taun katukang," gerentesna.
Halimun subuh ngadingding, pepedut megat balebat. Ibun bajra nu ting kariceup awor jeung datangna srengenge nyaangan sa alam dunya. Mangsa poe harita manehna rek ngalaksanakan pamaksudan, rek disaba sagala kapanasaran ngajugjug pasantren Lemah Luhur.
Di tuturkeun kupaneuteup, dibarengan ku pangdoa dibekelan kucarita. Teteg hate leupas sagala kahariwang, bijil kateuneung kaludeung rek disorang sagala pancabaya nu ngahalangan pamaksudanana.
Ardi leumpangna ngungkug teu nolih kasisi kagigir manteng pikiranana kanu dituju. Mipir pasir nyorang jungkrang, mapay-mapay jalan satapak nu tarihul kubatu-batu koral. Teu karasa leumpangna geus aya kana genep jamna. Manehna ngarandeg sakeudeung, luak lieuk kenca katuhu, breh ti kajauhan katempo tajug maksud rek sholat lohor. Geus kitu, nuluykeun pamaksudanana.
Sapoe, dua poe katiluna anjog ka sisi leuweung Pasarean. Harita panon poe geus tomper kabeulah kulon, geus waktuna sholat asar. Teu hese neangan tempat sholat teh da kabeneran manehna nempo batu nemprak handapeun tangkal waru. Atuh cai keur wudlu kari ka lebak aya pancuran anu dijieun tina awi tali. Sigana ngahaja dijieun keur muslim anu rek sarolat. 
Beres awesalam, manehna rumpa rampa kana saku bajuna, gorehel saputangan beureum pamere indungna dikaluarkeun. Eusina dibuka, horeng duit sakitu lobana. Manehna luak-lieuk, taya jalma ngulampreng. Duit dina saputangan di bawa sawareh, sawareh deui dibungkus teu disaupkeun kana saku tapi manehna kalahka nyungkadkeun batu paranti sholat. Saputangan disesepkeun handapeun batu, geus kitu buntelan sarung disorendangkeun. Memeh indit ngaradeg heula neuteup batu, terus kana tangkal waru geus kitu leos indit nuju ngidul rek asup ka leuweung Pasarean.
Anjog kaleuweung geus meh reupreupan waktuna solat magrib. Tikajauhan katempo aya obor kalucas-kalices katebak angin. Sigana Tajug, gerentesna. Tapi ari disungsi geuning warung anu rek tutup. Nubogana awewe tengah tuwuh melong semu heran.
"Nu kasep teh rek kamana?" awewe kolot nanya bari teu leupas ku kaheran ,wayah kieu aya pamuda kumelendang keneh. Pasti ieu pamuda rek kaleuweung, lantaran taya jalan deui iwal ti kadieu.
"Bade ngiring sholat magrib Ma." Jawabna.
"Pek atuh, caina di pipir." Pokna bari nuduhkeun cai keur abdas
Beres solat manehna gek dieuk dina bangku.
"Rek kamana ujang teh wayah kieu masih keneh aya didieu."
"Bade ka pasantren Lemah Luhur Ma. Jalanna rek norobos we kadieu."
"Astagfirullah alazim, balik deui kadituh. Tinimang diteruskeun mah mending balik deui !!."
"Naha aya naon Ma?" manehna nanya, padahal geus nyaho yen di leuweung Pasarean di wisesa ku para rampog jeung begal.
"Ujang deudeuh teuing keur kasep teh, kabeh jelema anu asup ka leuweung Pasarean bakal dicegat ku begal, dipenta barangna diala nyawana."
"Ah nyawa mah kagungan Allah Ma."
"Lain kitu, da ieu mah kanyataan. Mending balik deui ka dituh, ema ge rek buru-buru beberes rek tutup."
"Ari Ema dimana linggih ?"
"Tuh dilebak" bari nuduhkeun ka hiji imah ditengah sawah. Sigana rea imah anu ngadon ngababakan.
"Ma abdi pamit.Assalamualaikum" bari leos indit.
"Alaikumsalam "jawabna bari gogodeg.
Sora cihcir mani reang maturan anu rek miang. Waktu beuki burit, beuki poek tapi manehna teu mirosea kapoek, teu nolih kasieun. Leumpang aya kana tiluparapat jamna geus nepi ka leuweung anu beuki jero beuki rumet ku tatangkalan. Untungna bulan keur mabra, atuh jalan teu poek-poek teuing da kacaangan cahaya bulan. Nepi kana tangkal anu ngajunggiring manehna ngarandeg, nempo kaluhur, jangkungna mapakan mega. Teu kungsi lila ganjleng, gajleng aya tilu manusa make teregos hideung megat jajalaneun.
"Rek kamana andika !! kumawani nyorang tempat kula." Sorana handaruan.
"Punten, sim kuring teh bade ka Pasantren Lemah Luhur. Taya deui jalan iwal ti kadieu. Kukituna hapunten sim kuring campelak." Jawabna teuneung.
Karek ayeuna aya pamuda wani nincak leuweung peuting-peuting, sigana budak teh teu samanea. "Suiiiit" nyuitan babaturanana. Teu kungsi lila rajleng aya kana limaanna. Ardi mundur, mimiti sayaga.
"Kadieukeun eta babawaan andika !"
"Babawaan ngan ukur baju , taya banda anu hargaan. Mun perlu pek tah !." bari ngalungkeun buntelan ka hareupeun badog. Kabeh badog matana molotot siga ambekeun.
"Campelak siah !." nu ti tukang mesat bedog. Belesat ditigaskeun kana sirah Ardi. Ardi mundur salengkah, sakilat bareng jeung kolebatna bedog leungeun katuhu ngahantem punduk badog, akibatna badog nolonjong ka hareup kabawa ku tanaga sorangan,tepung jeung tangkal mahoni.
"Tobaaaat !!" ngan sakitu, si badog ngarumpuyuk teu hudang deui.
Arokaya nempo babaturanna kaseeh, anu tujuhan bareng ngepung Ardi. Tigigir digitik , ti tukang ditajong, kabeh pada kateter.
Sihoreng badog teh lain dalapan urang tapi aya kana puluhna nyamuni dina rungkun sadagori. Bareng jeung kateterna nu dalapan, hiji badog nu nyumput di beulah kenca mentangkeun panah nuju kana tonggong Ardi. Sieeet ...blesssss !! parat tina tongong kana dada. Ardi ngajengkang, ka tukang ,badog nu saurang deui ngajleng bari bedogna di sabetkeun kana beuheung Ardi. Preng !! sirah Ardi ngacleng papisah jeung badan. Geleger sora ngageleger siga gunung mungguh urug, gelap ngampar ngadak-ngadak. Genjlong nonggong turun laun, jajap napas nu rek leupas, ngembat-ngembat bulan mayat, mapag nyawa sang pamuda.
Ardi luak lieuk siga nu tas hudang sare. Heran bet aya didieu, pan tadi mah di leuweung Pasarean keur tarung jeung puluhan badog. Manehna ngarasa keneh waktu panah nanceb kana tonggongna, karasa beuheungna disabet ku bedog,tapi na bet teu nanaon. Nyabak beuheungna masih utuh, kitu deui dadana teu kerel-kerel. Boa aing geus aya dilain dunya, gerentesna.
Ardi leumpang dina tegalan anu ngaplak hejo kujukut. Inget can sholat isya, tuluy luak lieuk neangan masjid, kabeneran aya Tajug, cai keur wudluna oge aya dihareupeun Tajug. Barang rek abdas, manehna mundur lantaran teu kuat ku bauna. Teu tulus. Panasaran rek asup ka tajug. Tapi barang sup manehna ngagajleng, naha bet asup kana beuteung bagong. Buru-buru ngajauhan, bari nuluykeun deui lalampahan. Tapi rek kamana ? dimana ieu teh ? weleh teukaharti ku pikir teu kahontal ku akal. Karek sapanyeupahan, nempo aya tajug, gedena saruya jeung nu tadi, bedana wujud bangunananan. Ieu meureun anu bener mah, gerentesna. Balong paranti abdas caina pinuh soksanajan rada kiruh tapi teu bau saperti tadi. Beres abdas manehna mukakeun panto tajug. Tapi nyakitu, bet rek sholat dina beuteung munding. Atuh gajleng deui manehna luncat. Kitu jeung kitu ngalaman aya kana lima kalina. Ngan kagenep kalina manehna manggih masjid gede, katempona siga aya cahaya anu kaluar ti jero masjid. "Mereun ieu pisolaten aing teh". Cek manehna.
Balong anu aya di sisi masjid caina herang ngagenclang. Manehna nyiuk cai ku leungeun bari diambuan. Seungit Kananga. Terus abdas, beres abdas nuju ka panto masjid "Assalamualaikum." "Alaikumsalam" cek nu ti jero. Tapi taya jalma saurang-urang acan, teuing saha nu ngajawabna.
Barang asup ka jero, bet karasa betahna. Jorojol aya maksud rek terus samedi di ieu masjid moal neruskeun lalampahan ka pasantren Lemah Luhur, lantaran ti barang padungdung jeung badog nepi ka tempat nu ayeuna, geus teu nyaho kamana jalanna jeung dimana ayeuna manehna.
Beres sholat isa, terus wirid lila pisan. Geus kitu mimiti sidakep sinuku tunggal, kabeh pancadria ditutup, meleng ngan kahiji panutan Allah swt. 
Di lembur Paneungteung Nden Rahayu, indungna Ardi keur maturan salakina di tepas imah. Nden teh keur kakandungan tujuh bulan, atuh ku salakina dinangna-dinengne sagala ulah sagala kade. Kukituna mah kaharti lantaran anak anu ngan hiji-hijina, Ardi nepi ka danget ayeuna teu beja teu carita.
"Emh, tara teuing bungahna mun si Ujang nyaho boga adi deui." Cek indungna.
"Nya kumaha atuh ma, da geus kitu jalanna meureun ti nu Maha Kawasa. Urang mah teu weleh ngado'akeun muga budak sing salamet aya di lembur batur." Bapana bari nyokot bubuy sampeu, belewek dihuapkeun geus kitu nyokot cikopi regot diinum.
"Muga-muga we geura buru-buru balik. " Indungna nempas.
"Enya harepan bapa oge kitu." Bapana ngadeukeutan indungna, gap kana beuteung anu geus benteyang terus diusapan.
Ardi anu keur tapa di masjid, ngagebeg sora nongtoreng kadenge obrolan kolotna. Manehna beunta bari ngomong " Ma, Pa ieu abdi didideu !." sorana ditarikeun.
"Tuh ma siutun inji teh siga nu nguliat. ." cek bapana katempo dijero beuteung bayi usik.
"Enya budak teh mani motah kieu." Jawab indungna.
Ardi terus gogorowokan, tapi taya nu malire da puguh manehna geus balik jadi orok. Sihoreng betah di masjid teh geuning dina beuteung indungna. Waktu nyawana paragat alatan ditigas beuheungna ku badog, lelembutanana mah teu paeh malah masih keneh inget yen manehna can solat isya. Matak neangan masjid, ngan untungna manggih beuteung indungna, da upama asup kana beteung sato mah, manehna moal henteu bakal jadi sato.
Sabulan ti harita Nden Rahayu geus ngarasa budak anu dikandung sigana geus hayang kaluar. Atuh bapana buru-buru neang indungbeurang. Barang datang, indung beurang mariksa beuteung Nden Rahayu.
"Ayeuna sigana bakal kaluar budak teh. Sok geura naheur cai kadituh !. Samping jeung baju orok jagragkeun didieu"
Atuh bapana kacida bungahna, bari leos kadapur, geus ngahurungkeun seuneu terus ka kamar mawa sababaraha samping kebat jeung baju orok.
Cai geus saheng, diwadahan kana baskom di bikeun ka indung berang, geus kitu manehna kaluar. Hatena teu genah, ngan cilingcingcat siga hayam rek endogan.
Teu mangkuk lima belas menit, goar sora orok, gebeb bapana ngagebeg. Bet sora lalaki, sigana lalaki deui, pikirna.
"Kadieu jang, ieu budak teh jalu geuning. Buru pangku terus adanan.! " Cek indung beurang. Bapana nampa orok anu masih keneh beureum, malik ngiblat bari ngong azan , geus kitu orok dibikeun di teundeun di gigireun indungna.
Ardi anu keur mujasmedi, siga aya nu ngusap, leng teuinget bumi alam. Sadar teh geus aya di hareupeun bapana, tapi naha manehna teh bet keur dipangku.
"Ieu abdi, Ardi !!" tapi lain sora manehna anu nepi, ngan ukur sora "oa,oa, oa"
"Tuh geuning geus bisa ceurik budak teh," cek indung beurang bari ditepakan bujurna.
"Saha nganaan ieu budak teh ?." indung beurang nanya.
"Muhammad Kosasih we, nenehna Engkos." Jawab bapana.
"Tah alus ngaran teh nyutat ngaran Nabi urang."
Budak geus beresih, atuh balina dibawa ku indung beurang rek disamaraan cenah anu satuluyna rek dikubur di gigireun kamarna bari di pelakan daun jarak.
Sabulan nincak ka dua bulan, sataun teu karasa geus lima taun. Budak teh bahono persis teudipiceun sasieur siga lanceukna keur leutik.
"Tuh pa, siga pisan lanceukna. Sagala tidak tandukna basa si Ujangkeur leutik." Cek indungna anu keur ngawaskeun anakna lulumpatan di buruan. Bapana ngan ukur seuri. 
Nincak umur tujuh welas taun, Ardi anu kakara sadar yen manehna ayeuna balik deui jadi anak indung bapana anu disangka adi manehna.
Saperti bareto keur mimiti rek miang ngucapkeun maksud rek masantren, harita oge manehna nyolongkrong , gek diuk di hareupeun indung bapana. "Ma, pa, abdi aya picarioseun anu penting pisan. Mung omat wargi sareng tatanggi ulah aya anu terangeun."
"Eeh siga aya rasiah anu di samunikeun. Aya naon Kos," cek indungna.
"Ma, Pa abdi teh saleresna sanes Kosasih, tapi abdi Ardi tea.
"Bapana seuri, kitu deui indugna bet teu percaya sacongo buuk yen anu dihareupeunana teh ngaku Ardi anu ayeuna keur masantren di Lemah Luhur.
"Sok kamana wae nyarita teh Kos. Lanceuk maneh mah keur masantren, ngan hanjakal geus aya puluhan taun teu balik-balik. Teuing kunaon lanceuk maneh teh." Indungna nyarita bari curucud cai socana maseuhan pipina. Segruk cerik bari nyambat-nyambat anakna.
"Tos ma, pan ieu putra ema teh. Ieu Ardi tea ma, sing percanten ka abdi. Abdi tiasa ngabuktoskeun yen abdi leres Ardi putra Ema sareng Bapa anu kapungkur bade masantren di Lemah Luhur."
Bapana kerung, terus ngadeukeutan bari pok ngomong : " Nu bener nyarita teh, ulah jadi kapanasaran anu jadi kolot kucaritaan hidep anu teu asup akal." Bapana rada keuheul.
"Duh ampun paralun teuing abdi kedah ngabohong kasepuh."
Indung bapana papelong-pelong.Heran, panasaran, teu asup akal, mustahil ngajadi hiji.
"Cik, mun hidep anak bapa anu cikal geura terangkeun kajadian waktu rek indit ka Pasantren."
Barabat manehna muka carita, mimiti pamitan hayang masantren terus dibejakeun basa rek miang dibekelan duit anu dibungkus ku saputangan beureum. Manehna oge nyaritakeun waktu di kepung ku begal nepi ka bobor karahayuan beuheung papisah jeung awak.
"Beu, bener pisan. Tapi bapa jeung indung maneh hayang ngabuktikeun anu sabenerna."
"Tiasa pa, saputangan beureum sareng artos sapalih kuabdi di simpen dina handapeun batu sisi tangkal waru." Jawab Ardi.
"Isuk urang paruluh naha aya keneh atawa geus euweuh."
"Mangga pa, atuh sakantenan sareng Ema supados tiasa buktos yen abdi teh Ardi putra cikal Bapa sareng Ema."
Isukna, kulawarga juragan Sardi nuju ka tempat anu dituduhkeun ku anakna. Lain indungna wae anu ngilu teh, pamanna, ua-na oge ngilu hayang bareng ngabuktikeun yen Muhamad Kosasih teh sabenerna Ardi anu bareto rek masantren ka Lemah Luhur.
Jalan anu disorang teu robah tetep saperti baheula waktu Ardi indit mapay jalan nu sarua. Tajug tempat solat Lohor oge masih keneh aya. Ancog ka tempat Ardi solat Asar ardi ngarandeg, naliti bari luak-lieuk ka kenca ka katuhu. Batu nemprak tempat solat manehna teu robah, ngan tangkal waru ayeuna katempona geus muguran.
"Tah Bapa, Ema, ieu tempat abdi solat asar, mangga ku bapa angkat eta batu. Di handapna ku abdi disimpen saputangan pamasihan ema sareng artos." Cek Ardi bari ngareret ka Bapana.
Bapana teu loba ngomong, leumpang ngadeukeutan batu nemprak. Teu lila ngageroan pamanna Ardi menta bantuan keur ngangkat batu. Ku dudaan batu diangkat, katempo ngan taneuh jeung rupa-rupa sato leutik. Taneuh dikoreh-koreh ku bapana, gorehel aya lamak anu geus pinuh ku taneuh. Lamak di cokot diteundeun di luhureun batu. Barang diberesihan jelas warnana beureum, terus dibuka, aya duitan. Indungna olohok, gauk ceurik bari ngagabrug ka Ardi kitu deui bapana. Tiluan paungku-ungku disaksian ku paman jeung ua-na.
"Geus ayeuna mah geus jelas, budak teh geuning balik deui kana beuteung indungna. Ieu mangrupa rakhmat ti nu Maha Suci. Sigana kakarek anak urang anu dipasihan kieu teh, anggursi urang sukuran ka gusti urang nganuhunkeun kanu kawasa. Mung Anjeuna anu ngusik malikeun makhlukna, serahkeun wae ka Anjeunna" Cek Ua-na.
"Amin," pamanna ngahaminan.
Limaan ngabring baralik nuju ka kampung Paneungteung bari pinuh ku kabungah, kaheran ngabaur jadi hiji. Ua-na teu eureun gogodeg bari cukcrek nandakeun ka hemeng ku kajadian anu dialaman ku anak adina. Budak bisa balik deui kana beuteung indungna. ***Cag

Kawin ka Maung Leuweung Sancang

Basa asup ka leuweung Sancang ku Kuncen teh dititah kawin heula, ngarah salamet jeung barokah. Kusabab ngarasa panasaran, hayang nyobaan, Ny.Atikah ngambat maung Sancang, hayang nyobaan tumpak sepedah ka pasar. Na ari telereng teh sapedah saperti aya anu nyurung. Ny.Atikah medarkeun pangalamanana ka SALAKA. Carman aslina mah urang Cirebon, nganjrek di Subang sanggeus kawin ka Ny. Atikah urang Subang. Ari sapopoena, teu boga gawe nu matuh. Ngan kitu bae, unggal poe sok neangan barang-barang antik, saperti batu Merah Dalima, samurey, duit Brazil jrrd. Ngarah sakali hasil, bisa mucekil cenah!
“Kantos abdi oge milarian batu Merah Delima aprak-aprakan ka unggal daerah, tapi dugi ka kiwari tacan mendakan bae,” ceuk Carman ngajentrekeun pangalamanana ka Salaka basa tepung di imahna Kampung Parigi RT 23/08 Desa Balendung Kacamatan Subang, Kabupaten Subang.
Lantaran neangan batu Merah Delima teu hasil, dating deui tamu ti Jakarta pangneangankeun pedang Samurey nu asli, kusabab cenah mah bareto kungsi aya samurey ti Jepang di urang. Lantaran haying boga duit gede tea, Carman kapaksa aprak-aprakan deui, neangan samurey, tapi tetep teu manggihan. Loba oge pedang samurey, tapoi lain nu aslil, pokna bari mesem.

Kitu oge basa obyag, loba jalma nu nareangan duit Brazil, Carman pipilueun neangan, sabab aya nu mesen lobana ratusan juta rupiah. Pokona mah aya sababaraha ratus jutaeun oge moal burung dibeuli , cenah. Tapi sanggeus duit Brazil ngaleuya di imahna, eta nu rek meuli teh teu dating-datang. Mangkaning eta duit Braazil teh geus aya kana Rp.28 jutana. Duka teuing kamana, ari nu boga duit mah meh unggal usik nananyakeun bae,menta dibayar kontan, cenah..Atuh ahirna Carman jujualan pikeun mayar duit Brazil, lanataran ari nubogana mah teu nyaho nanaon.

“Harita abdi teh dugi ka ngical bumi sagala,’ pokna.

Lantaran hirupna remen ditipuan batur, ahirna badami jeung pamajikanana, haying neangan elmu keur pibekeleun hirup jeung bisa tutulung kabatur. Sabab ari teu boga gawe matuh mah , geuningan remen ditipuan ku batur.
Kabeneran harita ny.ikah Atikah oge haying milu. Carman jeung ny.ikah teh tuluy arindit ka daerah kulon, ngajugjug ka daerah Menes Propinsi Banten, guguru ka Kiayi nu geus luhung elmuna.

“Ngawitan pisan aprak-aprakan teh taun 1989,’ cewuk Carman bari ngareret ka pamajikanana.

Sanggeus guguru ka kiayi di daerah Menes ayakana tilu bulanna. Ku Kiayi dititah ka makam Sunan Gunung Jati di Cirebon. Beres ti Cirebon guguru deui ka daerah Brebes. Tuluy ka Banjarpatroman Kabupaten Ciamis, panungtungna ka leuweung Sancang di Kabupaten Garut.

Basa keur aya di leuweung Sancang, duka kunaon, salaki jeung pamajikan bet papisahan. Kusabab Ny.Ikah Atikah teu bisa babarengan jeung salakina, kapaksa nyorangan dileuweung geledegan. Sabab cape leuleumpangan bae , tuluy ngadatangan kuncen H. Nasikin.

“Niat Nyai teh geus buleud rek neruskeun lalampahan ?” cek kuncen nanya ka Ny.Atikah.
“ Sumuhun , Abah,”tembal Ny.Atikah gilig.
“Tah, samemeh neruskeun lalampahan, supaya salamet dijalana, ku Abah nyai teh rek dikawinkeun heula. Daek atawa henteu ?”
“Maksad Abah bade dikawinkeun ka saha ?” Nyi Ikah rada bingung.
“Nyai teh rek dikawinkeun kanu ngageugeuh leuweung Sancang,” cek kuncen deui.

Hah? Dikawinkeun kanu ngageugeuh leuweung Sancang ? Saha kitu sabenerna nu ngageugeuh ieu leuweung Sancang teh?
Tadina mah ny.Ikah Atikah rada hemar hemir, sieun . Piraku kudu kawin ka maung sagala. Kumaha jadina engke , lamun kudu kawin ka maung, moal bisa babarengan deui jeung salakina.
Ku kuncen teh dibere nyaho, kawin ka Maung ngan saukur batinna wungkuil, da ari lahirna mah tetep bae kawin ka salakina. Ngan upama engke dina hiji waktu hayang nyaho jirim salakina anu dikawinkeun ku kuncen, bisa dikembat, pasti manehna bakal dating, cenah. Ku kuncen teh Ny.Ikah tuluy dibere kai Kaboa (tangkal Kaboa) panjangna sajeungkal, gunana cenah pikeun ngembat salakina nu ngageugeuh leuweung Sancang sangkan bisa dating.

Kawin ka Maung leuweung Sancang teh ceuk Ny.Atikah mah ngan saukur saheulaanan, kusabab lamun urangna geus bosen, geus teu daek kamanehna deui , bisa pipisahan. Nu penting mah , kawin teh ngarah salamet di tengah leuweung, ulah aya picilakaeun.

Kawinna oge teu kudu di walilan , lantaran ngan saukur dikawinkeun batin wungkul, ari wujud kieuna mah pisalakieun teh teu daek nembongan. Ari nurutkeun kuncen H.Nasikin nu geus ngawinkeun Ny.Ikah mah , ngaran salakina teh dibejakeun nyaeta Raden Ariya Lalana Kusumah nu sakti di Pajajaran.

Sanggeus dikawinkeun mah, kasieun ngadadak leungit, malah timbul wawanen. Ny.Ikah Atikah teh geus teuneung ludeung nyorang leuweung geledegan bari pangawakan awewe. Ti leuweung Sancang tahap ka opat, geus teu kuat leumpang. Ny.Ikah kapaksa reureuh heula di sisi gawir nu lungkawing.
Basa keur reureuh teh ujug-ujug aya ucing gede pisan, gedena sarua jeung ibit munding kawas rek ngerewkeub manehna. Disadana teh “Oe”, cenah. Duka ucing beneran , duka ucing ajajaden. Tapi pikeun Ny.Ikah nu patekadanana geus buleud teungarasa sieun saeutik-eutik acan, malah make jeung nantang sagala.
“Lamun rek ngadahar kuring mah , ulah disesakeun saeutik-eutik acan. Teureuy buleud bae,” pokna teh.
Duka teuing kunaon, pokna deui, ucing gede teh ngadak-ngadak mundur, terus ngaleos duka kamana. Da tuluy ngaleungit.

Sanggeus ucing ngaleungit, dating deui lampu mani antay-antayan, kawas caang ku lampu neon ka hareupeun Ny.Ikah.
“Lamun beunang mah hayang newak harita teh. Tapi arokaya, lamun teu katewak pasti abdi bakal tikusruk ka jurang, margi diuk teh biwir jurang pisan.”
Sanggeus lampu neon leungit, duka teuing timana jolna, dihareupeunana teh ujug-ujug aya budak awewe ditaranjang, umurna kira-kira dua taun. Ny.Ikah kaget, naha budak urang mana tengah peuting wani ulin sorangan, pan ieu teh di tengah leuweung geledegan.
“Kunaon nyai bet aya didieu , naha nyai teh sabenerna urang mana ?” ceuk Ny.Ikah nanya ka budak awewe nu bubulucunan ditaranjang.

“Abdimah urang Jagat Srana, putra kangjeng nabi rosul.” Pokna teh.

Teu kungsi lila budak awewe teh leungit duka kamana. Ny.Ikah oge teu nyaho kamana ngilesna. Nu sidik mah manehna masih aya keneh diuk di sisi jurang.

Isukna Ny.Ikah balik ngaliwatan muara, kabeneran di tengah muaa aya kembang bungur, kawas kembang loa. Tuluy nyokot rokrak, maksudna mah rek dikoer, da katingalina teu pati jauh pisan. Tapi masing di koer-koer oge susah, teu beunang. Ret ngareret ka Beulah wetan, torojol teh aya buaya gede pisan, rek ngadahar.

“Pek ari rek ngadahar kuring mah , ngan aya pamenta, lamun rek ngadahar kuring ulah disesakeun. Barina oge kuring mah teungaganggu kla anjeun.” Ceuk Ny.Ikah noroweco sorangan.

Kawas nusurti bae, sanggeus Ny.Ikah ngomong kitu teh lalaunan tuluy mundur ngaleos teunyaho kamana inditna. Tepi ka balik ka imah, ceuk Ny.Ikah , Alhamdullilah salamet.

Kasep Leuwih ti Bentang Filem.

Kusabab panasaran hanyang nyaho bener henteuna geus kawin kanu ngageugeuh leuweung Sancang, ngahaja ny.ikah teh ngambat. Diusampakeun susuguh ganas, apel, cau jeung endog hayam kampong. Geus kitu tuluy mapatkeun jampe pangambat sangkan nu ngageugeuh dileuweung Sancang dating nepungan.

“Kumargi abdi alim kasumpingan nu jirimna mangrupa maung, abdi teh nyuhunkeun sangkan sumping ngajirim saperti manusa.” Pokna teh.
Teu kungsi lila, benar bae, cenah, dihareupeun Ny.ikah nngabelegedeg teh aya jalma jangkung badag, ngabedega kasepna kabina-bina. Euweuh tandingna. Ari ningali kana tangtunganana mah , bogoh kacida , cenah.Nfgan nyaeta.nu sabenerna mah nu gagah teh maung.

“Upama ngajirim maungh, hade tagog jeung lempay.” Pokna deui.

Tapi nyaeta, ceuk ny.Atikah mah, basa dina malem Jumaah nu kuduna sare di kamar sorangan lantaran rek kadatangan tamu ti leuweung Sancang tea, salakina ngadak-ngadak bet dating hayang sare bareng. Antukna , nu rek datang bolay.

Basa Ny.Ikah rek balanja tengah peuting ka pasar, ngarasa hemar-hemir, sieun kusabab numpak sapedah teh kudu ngaliwatan leuweung sagala. Manehna inget kana bobogaanana, tuluy dipentes, dipentaan tulung. Lamun enya masih ngaku pamajikananan, sapedah pang nyurungkeun , ngarah teu cape, pokna.

“Leres bae, basa tos ngemat teh kasieun ngadadak leungit, numpak sapedah teu kudu diboseh, sabab ditukang kawas aya nu nyurungeun.” Ceuk Ny.Ikah deui.

Gelut Jeung Kunti

Ny.Ikah kungsi kaserang panyakit panas, tepi ka lumpuh teu bisa leumpang sagala. Ka dokter mah unggal usik diubaran, tapi teu daek cegeur wae.Araraneh pisan panyakit teh, sabab basa dipariksa ku dokter mah , cenah teu boga kasakit nanaon.

Ngan basa tatamba kanu bisa, cenah mah Ikah teh aya nu ngaheureuyan, datangna ti daerah wetan.
Kusabab Ny.Ikah bisa ngubaran sorangan, teu ngandelkeun deui ka batur. Dumadakan , cenah , basa aya dijero imah teh make jeung hayang kaluar sagala bari jeung leumpangna asrod-asrodan oge. Waktu aya di haeupeun imah, katinggali dina tangkal cau aya awewe tengah tuwuh ucang angge, buukna ngaringkiwik. Kawasna kunti.

Lantaran kunti teh kawas nu nangtang, kungsi diajakan galungan sagala. Dumadakan deuih, sukuna nu tadina teu bisa leumpang, jadi bisa leumpang. Ny.Ikah tuluy galungan jeung kunti tea, tepi ka kunti teh kasoran, ampun-ampunan. Manehna teh, enah dititah ku batur, sangkan ngaheureuyan ny.ikah .Ari nu ngaheureuyan teh taya lian nu bogoheun ka salakina, urang Cirebon, cenah mah. Sanggeus kunti ngaleungit, Ny.Ikah cageur sabihara-bihari deui.

Tepi ka kiwari boh Ny.Ikah boh salakina, bisa tutulung ka batur, bisa ngubaran, utamana mah nu boga kasakit batin. Malah tiap malem jumaah kaliwon mah, diimahna sok pinuh ku tamu.

Novel Buron

Sikep idealis andika menyebabkan dia kesusahan menghindari hal yang bertolak belakang dengan prinsip hidupnya.
Sumirah (umi) istrinya menjadi terbawa-bawa sengsara. Cintanya yang kuat, membawa dirinya berkelana (sampai dengan disebut orang gila) pada dunia yang belum pernah ditemukan sebelumnya
Cinta yang sejati prinsip yang kuat digoda oleh kehidupan dunia dan rumitnya hutan kehidupan.
Daun kering beterbangan tertiup angin. Memenuhi tanah di bawahnya. Bekas dilanda kemarau panjang. Daun-daunan, pohon-pohonan tidak ada yang hidup. Kecuali pohon pisang yang daunnya tetap hijau.
Burung yang sedang hinggap pada pepohonan. Terbang meninggalkan tempat dimana dia hinggap. Ketika ada batu yang melempari dahannya.
Sekali lagi terdengar ada suara batu melempar pepohonan. Segera dia mengelak ke semak-semak daun baluntas. Tentu ada suara anak-anak ada juga suara pohon yang dilempar. Dari sela-sela daun terlihat ada anak yang sedang melempari ke atas. Ternyata ada layang-layang yang dilempari oleh batu. Mungkin daripada didapatkan malahan rusak parah.
Orang gila-orang gila Teriaknya sambil terus berlari. Karena itu serentak teman-temannya menghampiri tempat persembunyian saya. Sudah kepalang ketahuan saya keluar dari tempat persembunyaian. Beletak ada pemukul dilemparkan ke dahi saya.
Umi itu wartawan, itu wartawan” kata yang pendek. Saya tertawa. Sudah menjadi kebiasaan saya takut oleh wartawan. Sebenarnya tidak takut, namun saya tidak enak kalau ditanya oleh wartawan.Karena mereka tidak merasakan pada nasib yang melanda badan. Meraka hanya ingin menggali kehidupan orang lain untuk kepentingan korannya, untuk kepentingan mereka. Di samping itu, kekhawatiran siapa sebenarnya saya, menyebabkan menjadi takut dengan wartawan. Dengan adanya kejadian gunung meletus ke kampong jadi banyak wartawan yang datang.Untuk mereka di kampong sekarang kaya oleh berita, bahan cerita untuk semua. Walaupun tidak terpikir mungkin oleh mereka yang diajak bercerita itu sedang ada dalam kegundahan pikir.
“Umi itu wartawan. Itu watu wartawan kata mereka”
“Orang gila orang gila”
“Ini mau pisang, Umi”
“Orang gila-orang gila”
Semakin keras teriakannya karena melihat saya ketakutan oleh mereka. Menurut pikiranku harus lari itu ke belakang dapuran pohon pisang, agar tidak terkejar oleh mereka. Di situ tempat yang sangat aman, tidak akan terjangkau oleh anak-anak.
Sebelum sampai ke tempat yang dimaksud, saya mendengar suara teriakan. Ketika dilirik anak laki-laki umur sepuluhtahunan jatuh. Segera dikejar, yang lain kemudian berlarian/berhamburan. Dia seperti yang ketakutan tapi mau lari tidak bisa, sebab kakinya tertusuk beling.
Tidah apa-apa tampan, kataku
Orang Gila…  jangan.. jangan… kata dia.
Tidak akan tampan, kita cabut dulu, baik, belingnya kita cabut dulu agar sembuh
Lama kelamaan karena merasa sakit dia diam. Tak ayal beling menusuk agak dalam. Beling hijau seperti pecahan botol, jika meligat warnanya. Jika melihat keadaan lukanya saya tidak sanggup jikalau harus membuka di sana. Ingat harus diberesihkan oleh air hangat dan rasanya di rumah ada perban.

Dengan teks asli
Regeyeng budak dipangku, manéhna teu ngalawan da bangun geus teu walakaya. Basa ku kuring diteuteup, bet séréngéh seuri.
Anak itu kemudian dipangku, dia tidak melawan karena sudah tidak ada daya ketika olehku kutatap, dia kemudian tertawa.
“Saha jenenganana?” cék kuirng.
“Alan,” témbalna.
Siapa namanya? Kata aku
Alan katanya
Budak téh henteu babarian, basa dicabut belingna gé ukur muringis, teusing ceurik. Réngsé dicabut, geuwat urut raheutna dikumbah ku cai haneut tina térmos, kakara diobat beureuman. Reketek waé dibeungkeut ku pereban anyar. Manéhna olohok nénjo paparabotan urut ngubaran bieu.
Anak ini tidak cengeng, ketika belingnya dicabut hanya meringis, tidak menangis. Selesai dicabut, segera bekas lukanya dicuci oleh air hangat dari termos, baru diberi obat merah. Kemudian diikat dengan perban baru. Dia melongo melihat perban bekas mengobati barusan.
“Geuning, Umi kagungan nu kieu?” cenah, bari cengkat diuk, ngalunjarkeun suku ayeuna mah.
Ternyata umi memiliki ini? Katanya sambil bangun dan kemudian duduk meluruskan kakinya.
Kuring ukur imut. Alan gé tangtu sarua jeung nu séjén nyangka kuring téh gélo. Padahal kuring mah teu singna kitu. Pereban, kapas, obat beureum jeung ténsoplas téh dipupusti pisan lantaran remen dibaralédogan ku barudak. lain sakali dua kali tarang raheut dibalédog ku batu. Lain sakali dua kali deuih pamalédog téh keuna kana tuur atawa kana tonggong.
Saya hanya tersenyum. Alan juga tentu sama dengan yang lain menyangka saya orang gila. Padahal saya tidak begitu. Pereban, kapas, dan obat merah dan tensoplas itu sangat penting sebab sering sekali dilempari oleh anak-anak. Bukan hanya sekali atau dua kali dahi ini sakit dilempari oleh batu. Bukan sekali atau dua kali lemparan itu mengenai lutut atau punggung.
“Eueut heula, Kasép,” cék kuring.
Minum dulu tampan, kataku
Bi Umi di dieu sareng saha?” Manéhna nanya deui, sanggeus sawatara jongjonan ngahuleng neuteup ka kuring. Kuéh mari beunang meuli tilu siki, dibikeun ka Alan hiji. Mimitina mah bangun nu asa-asa rék ngadahar téh. Meureun nénjo patempatan sakitu rarujitna. Tapi lila-lila mah daékkeun ogé. Kuéh mari téh didahar babarengan jeung kuring.
Bi Umi di sini dengan siapa? Dia bertanya lagi, setelah beberapa waktu termenung menatap kepadaku. Kue mari hasil membeli tiga biji, diberikan kepada alan. Pertamanya dia ragu-ragu ketika akan memakan. Mungkin melihat tempat yang kotor. Namun lama-kelamaan dia mau juga. Kue marie itu dimakan bersama-sama denganku.,
“Alan tos sakoa?” cék kuirng.
“Atos,” témbalna.
“Kelas sabaraha?”
“Kelas lima.”
Alan sudah sekolah? Kataku
Sudah, sahutnya
Kelas berapa?
Kelas lima
Bi Umi kapungkur ti mana?” Kawas nénjo kuring ngahuleng waé, manéhna nénjo deui. Haté beuki bungah nénjo Alan ayeuna mah beuki wani waé. Manéhna turun ti enggon, terus leumpang, najan ingked-ingkedan gé ngadeukeutan buyung di juru.
Bi Umi dulu dari mana? Sepertinya menatapku dengan heran, dia melihat lagi. Hati semakin senang melihat Alan sekarang, semakin berani saja. Dia turun dari enggon lalu berjalan walupun tertatih-tatih juga mendekati buyung di sudut.
“Ieu wadah naon?” pokna.
“Cai,” témbal kuring.
“Paragi ngaleueut, paragi nyangu,” cék kuirng deui.
“Sok nyangu?”
“Kantenan.”
Ini tempat apa, katanya
Air, sahutku
Untuk minum untuk menanak nasi, jawabku lagi
Suka menanak nasi?
Tentu
Manéhna nénjo koran satumpuk dina luhur lomari leutik, cék kuring lomari sotéh, saenyana mah ukur peti urut wadah sabun, nu ditangtungkeun, dijieun lomari. Koran téh dicokot nu pangluhurna.
Dia melihat Koran setumpuk di atas lemari kecil. Kataku lemari, sebenarnya hanya peti bekas wadah sabun, yang diberdirikan, dibuat lemari. Koranitu diambil yang paling atas.






“Bi Umi naha maké disebat nu gélo?” cék Alan.
“Duka.”
“Naha bet duka?”
“Da teu terang.”
“Umi, buka! Umi, buka!” cék sora ti luar.
Bi Umi kenapa disebut orang gila? Kata alan
Tidak tahu
Mengapa tidak tahu
Tidak tahu…
Umi buka umi buka! Kata suara dari luar
Kuring neuteup ka Alan. Mun kongang mah hayang nyarita, yén kuring téh lain nu gélo, pangnepikeun ka masarakat di dinya. Hayang dipangbéjakeun ku Alan, yén kuring téh jelema ka lunta-lunta, teu puguh jugjugeun, teu puguh ka mana nya kudu indit. Tapi naha kira-kirana budak sagedé Alan, tur anyar pinanggih bakal daékkeun nulungan? Komo maké kudu ngajelaskeun saha kuring nu saenyana mah? Tapi lamun henteu kitu hésé deui kapan ngajak cacarita ka jelema téh. Kapan sakitu ceuceubna masarakat di dinya ka diri kuring téh?
Saya menatap kepada Alan. Kalau berani ingin bercerita, bahwa saya bukan orang gila, sampaikan kepada masyarakat di sana. Ingin diberitahukan oleh Alan, bahwa aku adalah oran terlunta-lunta, tidak jelas apa yang dituju, tak jelas kemana harus pergi. Tapi mengapa kira-kira anak sebesar Alan, yang baru bertemu akan mau bertemu? Apalagi harus menjelaskan siapa saya yang sebenarnya? Tapi jikalau tidak begitu sulit sekali kapan mengajak bercerita kepada orang. Bukannya begitu bencinbya masyarakat di situ ke diri kita.
“Umi laan tulak!”
Umi buka kunci
Alan ngalieuk ka sorangan, bari manéhna terus leumpang ingkud muru panto. Barang bray gé muka, jol gabrug waé alan aya nu ngarangkul. Ari kuring terus murungkut. Dokter kasép ngora kénéh, tangtu ieu bapana Alan téh. Bisa sotéh terus neguh, manéhna dokter, lantaran maké pakéan bodas, tur beungeutna sarimbang jeung Alan.
Alan menengok ke dirinya sendiri, sambil dia terus berjalan tertatih-tatih menuju pintu. Ketika membuka , lala alan ada yang memluk. Aku lalu merungkut. Dokter tampan masih muda, tentu saja bapaknya Alan. Bisa juga menebak dia dokter karena memakai pakaian putih dan wajahnya mirip dengan alan.
“Nuhun Nyi Umi, parantos nulungan pun anak,” cék dokter.
Terima kasih Umi, sudah menolong anak saya, kata dokter.





Awak kuring ngadégdég ngadéngé éta kecap ditujukeun ka kuirng. Nuhun? Enya nuhun, cenah Umi, ka manéh. Ka kuring? Enya ka manéh, Umi. Geuning di dunya téh aya kénéh jelema luhung budi, nu daék ngajénan kana kahadéan budi manusa séjén, bari henteu nénjo kaayaan lahiriah atawa kalungguhanana. Geuning jolna téh bet ti jelema anu luhur kuta gedé dunya, jelema pangkat tur pinter. Pajar cenah jelema-jelema kitu mah sok garedé hulu, kanyataannana bet jelema kitu anu daék ngajénan perasaan kuring.
Badanku bergetar mendengar kata itu diucapkan dan ditujukan kepadaku. Terima kasih? Iyah terima kasih katanya kepadamu, ke aku? Iya ke kamu. Umi ternyata di dunia ini ada orang yang luhung budi, yang mau menghargai pada kebaikan budi manusia lain, sambil tidak melihat keadaan lahiriah atau derajatnya. Ternyata datangnya dari orang yang luhur kota gede dunia, orang berpangkat dan pintar. Katanya orang-orang begitu suka sombong kenyataannya mengapa orang itu mau menghargai perasaanku.
“Ieu sakadar kanggo jajan,” cék manéhna.
Ini sekedar untuk jajan, kata dia

“Nuhun, Bi Umi,” cék dokter téh, bari angger nyelapkeun duit kana dampal leungeun. Bangun hayangeun kénéh cacarita dokter téh ka kuirng. Tapi kalah dipangaruhan ku jelema sakitu lobana, dokter kasép téh ngaléos.
Terima kasih Bi Umi, kata dokter, sambil tetap memberikan uang pada telapak tangan. Terlihat masih ingin bercerita dokter kepadaku. Tapi malah dipengaruhi oleh orang lain, begitu banyaknya, dokter tampan itu pergi.

Landong Baeud

Pasen Dokter Gigi 1
Saperti biasa drg. Reza unggal pasosore praktek ngubaran waos di panganjrekanana. Harita teh wanci asar, kabeneran pasen keur suwung, sabatae jongjon kutrat-kotret nyieun naskah drama, dokter gigi nu ieu mah sapopoena nyeniman.
Keur jongjon ngimpleng, kuruduk aya pasen ibu-ibu tengah tuwuh ngarana Ibu Elis, can oge dimanggakeun, gorolang nyarita mani nyoroscos:

“Dok! Ibu keur rusuh, 30 menit deui kedah tos aya di Bandara Khusen, bisa teu nyabut waos dua sakaligus dina waktos 5 menit? Wios teu dibius oge da pasti kiat.” Nyaritana tatag taya karingrang.

“Mangga, cobi waos nu mana nu karaos teh?” Dokter Reza mariksa.

“Ieu waos pun lanceuk.” Ngomong kituna bari nunjuk ka carogena.
Pasen Dokter Gigi 2
“Dok, kunaon sabada nganggo gigi palsu sok kumetap upami mendak tulang, pon kitu oge kana barang nu aya dipacilingan?” Ceuk Neng Odah ka dokter Budi dokter langganana.

“Tangtos bakal kitu, da nu dianggo ku Ibu didamelna tina waos gogog.” Ngadenge kitu Neng Odah kapiuhan.
Pasen Dokter Gigi 3
“Dok naha anu nyeri waosna gugusi nu luhur,nu dicabutna bet jeung nu handap?” Gan Beny protes ka dokter gigi Reza.

“Punten..! Nu nyabut waos Bapa murangkalih sakola perawat nunuju praktek.” Ngomongna kalem.
Pasen Dokter Gigi 4
“Dok, tiwas obat perangsang tumbuh gigi dianggo ngisang atanapi cecebok ku pun bojo, katohyan ku abdi sabada ngawajiban, wengi tadi, ayeuna gagaduhan abdi barocok sapertos tapak digegel ku waos.” Jang Hadi nepikeun bangbaluhna ka dokter gigi Reza.

Paribasa

Paribasa atau pepatah yang sudah diinformasikan secara lisan turun temurun dari para leluhur (karuhun) untuk bekal menjalani kehidupan.
  1. Hubungan Dengan Sesama Mahluk 
    • Ngeduk cikur kedah mihatur nyokel jahe kedah micarek (Trust - ngak boleh korupsi, maling, nilep, dlsb... kalo mo ngambil sesuatu harus seijin yg punya).
    • Sacangreud pageuh sagolek pangkek (Commitment, menepati janji & consitent).
    • Ulah lunca linci luncat mulang udar tina tali gadang, omat ulah lali tina purwadaksina (integrity harus mengikuti etika yang ada)
    • Nyaur kudu diukur nyabda kudu di unggang (communication skill, berbicara harus tepat, jelas, bermakna.. tidak asbun).
    • Kudu hade gogod hade tagog (Appearance harus dijaga agar punya performance yg okeh dan harus consitent dengan perilakunya --> John Robert Power melakukan training ini mereka punya Personality Training, dlsb).
    • Kudu silih asih, silih asah jeung silih asuh (harus saling mencintai, memberi nasihat dan mengayomi).
    • Pondok jodo panjang baraya (siapapun walopun jodo kita tetap persaudaraan harus tetap dijaga)
    • Ulah ngaliarkeun taleus ateul (jangan menyebarkan isu hoax, memfitnah, dlsb).
    • Bengkung ngariung bongok ngaronyok (team works & solidarity dalam hal menghadapi kesulitan/ problems/ masalah harus di solve bersama).
    • Bobot pangayun timbang taraju (Logic, semua yang dilakukan harus penuh pertimbangan fairness, logic, common sense, dlsb)
    • Lain palid ku cikiih lain datang ku cileuncang (Vision, Mission, Goal, Directions, dlsb... kudu ada tujuan yg jelas sebelum melangkah).
    • Kudu nepi memeh indit (Planning & Simulation... harus tiba sebelum berangkat, make sure semuanya di prepare dulu).
    • Taraje nangeuh dulang pinande (setiap tugas harus dilaksanakan dengan baik dan benar).
    • Ulah pagiri- giri calik, pagirang- girang tampian (jangan berebut kekuasaan).
    • Ulah ngukur baju sasereg awak (Objektivitas, jangan melihat dari hanya kaca mata sendiri).
    • Ulah nyaliksik ku buuk leutik (jangan memperalat yang lemah/ rakyat jelata)
    • Ulah keok memeh dipacok (Ksatria, jangan mundur sebelum berupaya keras).
    • Kudu bisa kabulu kabale (Gawul, kemana aja bisa menyesuaikan diri).
    • Mun teu ngopek moal nyapek, mun teu ngakal moal ngakeul, mun teu ngarah moal ngarih (Research & Development, Ngulik, Ngoprek, segalanya harus pakai akal dan harus terus di ulik, di teliti, kalo sudah diteliti dan dijadikan sesuatu yang bermanfaat untuk kehidupan).
    • Cai karacak ninggang batu laun laun jadi dekok (Persistent, keukeuh, semangat pantang mundur).
    • Neangan luang tipapada urang (Belajar mencari pengetahuan dari pengalaman orang lain).
    • Nu lain kudu dilainkeun nu enya kudu dienyakeun (speak the truth nothing but the truth).
    • Kudu paheuyeuk- heuyeuk leungeun paantay-antay tangan (saling bekerjasama membangun kemitraan yang kuat).
    • Ulah taluk pedah jauh tong hoream pedah anggang jauh kudu dijugjug anggang kudu diteang (maju terus pantang mundur).
    • Ka cai jadi saleuwi kadarat jadi salogak (Kompak/ team work).
    • dlsb.
  2. Hubungan Dengan Tuhan (Yang Maha Kuasa)
    • Mulih kajati mulang kaasal (semuanya berasal dari Yang Maha Kuasa yang maha murbeng alam, semua orang akan kembali keasalnya).
    • Dihin pinasti anyar pinanggih (semua kejadian telah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa yang selalu menjaga hukum-hukumnya).
    • Melak cabe jadi cabe melak bonteng jadi bonteng, melak hade jadi hade melak goreng jadi goreng (Hukum Yang Maha Kuasa adalah selalu menjaga hukum-2nya, apa yang ditanam itulah yang dituai, kalau kita menanam kebaikan walaupun sekecil elektron tetep akan dibalas kebaikan pula, kalau kita menanam keburukan maka keburukan pula yg didapat.... kira-2 apa yang sudah kita tanam selama ini sampai-2 Indonesia nyungseb seeeeeb ;))? )
    • Manuk hiber ku jangjangna jalma hirup ku akalna (Gunakan akal dalam melangkah, buat apa Yang Maha Kuasa menciptakan akal kalau tidak digunakan sebagai mestinya).
    • Nimu luang tina burang (semua kejadian pasti ada hikmah/ manfaatnya apabila kita bisa menyikapinya dengan cara yang positive).
    • Omat urang kudu bisa ngaji diri (kita harus bisa mengkaji diri sendiri jangan suka menyalahkan orang lain)
    • Urang kudu jadi ajug ulah jadi lilin (Jangan sampai kita terbakar oleh ucapan kita, misalnya kita memberikan nasihat yagn baik kepada orang lain tapi dalam kenyataan sehari- hari kita terbakar oleh nasihat-2 yang kita berikan kepada yang lain tsb, seperti layaknya lilin yang memberikan penerangan tapi ikut terbakar abis bersama api yang dihasilkan).
    • dlsb.
  3. Hubungan Dengan Alam
    • Gunung teu meunang di lebur, sagara teu meunang di ruksak, buyut teu meunang di rempak (Sustainable Development ~ Gunung tidak boleh dihancurkan, laut tidak boleh dirusak dan sejarah tidak boleh dilupakan... harus serasi dengan alam.).
    • Tatangkalan dileuweung teh kudu di pupusti (Pepohonan di hutan ituh harus di hormati, harus dibedakan istilah dipupusti (dihormati) dengan dipigusti (di Tuhankan) banyak yang salah arti disini).
    • Leuweung ruksak, cai beak, manusa balangsak (hutan harus dijaga, sumber air harus dimaintain kalo tidak maka manusia akan sengsara).
    • dlsb.