14 Februari 2010

Bermimpi



Ikutan gabung di “businessmails.biz” anda hanya mengklik dan membaca e-mail yang masuk.
 Untuk setiap e-mail yg telah dibaca anda akan mendapatkan $ 10, 
Batas minimum Pay Out (pencairan) ketika sudah terkumpul $ 1.000.
 Untuk mencapai $1.000 sangat cepat, karena setiap hari ada rata-rata ada 5-7 e-mail yg masuk dan bisa kita baca. Belum lagi jika anda mecari referral (mempromosikan ke teman), maka anda akan mendapat $ 2 per-referral... Gimana mudahkan..?? ayo buruan daftar/register disini !

CARA REGISTER
1. klik  dulu
2. Klik ”Register”
3. Isi data-data yg diperlukan, setelah itu maka anda akan mendapat e-mail aktivasi. Buka e-mail tersebut klik Link yg diberikan.
4. Anda sudah terdaftar sbg member. Silahkan ”Login” kemudian
5. Kalo mau lihat berapa pendapatan kita klik ”Your Earnings”
6. Selamat Bergabung...!!



Yang ini juga hampir sama modelnya, tapi yang dibahas adalah profil Myspace, Facebook, Hi5, dan Xanga
dan jangan lupa klo ini juga menghasilkan sesuatu yang paling kita butuhkan dengan sangat (duit). 
Klik disini yah !


Selamat Bermimpi yang indah !!

11 Februari 2010

Filosofi Buah

1. Jadilah Jagung, Jangan Jambu Monyet.
Jagung membungkus bijinya yang banyak, sedangkan jambu monyet memamerkan bijinya yang cuma satu-satunya.
Artinya : Jangan suka pamer
(Apalagi jadi ekshibionist! )

2. Jadilah pohon Pisang.
Pohon pisang kalau berbuah hanya sekali, lalu mati.
Artinya : Kesetiaan dalam pernikahan.

3. Jadilah Duren, jangan Kedondong.
Walaupun luarnya penuh kulit yang tajam, tetapi dalamnya lembut dan manis.

Hmmmm, beda dengan kedondong, luarnya mulus, rasanya agak asem dan di dalamnya ada biji yang berduri.
Artinya : Don't Judge a Book by The Cover..
Jangan menilai orang dari luar- nya saja.
(jadi periksa dalem dulu yaaa...).

4. Jadilah Bengkoang.
Walaupun hidup dalam kompos sampah, tetapi umbinya, isinya putih bersih.
Artinya : Jagalah hati tetap bersih, jangan kau nodai, dimanapun kau berada.

5. Jadilah Tandan Pete, bukan Tandan Rambutan.
Tandan pete membagi makanan sama rata ke biji petenya, semua seimbang, tidak seperti rambutan.. ada yang kecil ada yang gede.
Artinya : Selalu adil dalam bersikap.

6. Jadilah Cabe.
Makin tua makin pedas.
Artinya : Makin tua makin bijaksana.
7. Jadilah Buah Manggis.
Bisa ditebak isinya dari pantat buahnya.
Artinya : Jangan Munafik.
(Isi hatimu harus sama tergambar dari wajahmu..bukan dari pantatmu).

8. Jadilah Buah Nangka.
Selain buahnya, nangka memberi getah kepada penjual atau yg memakannya.
Artinya : Berikan kesan (baik) yang sama kepada semua orang.

”Sakola” Sunda Kuno

Garut adalah salah satu kabupaten di wilayah Provinsi Jawa Barat yang
terletak ± 63 kilometer di sebelah tenggara Kota Bandung dengan
ketinggian ± 717 meter di atas permukaan laut sehingga wilayah Garut
ini rata-rata berhawa sejuk. Adapun batas wilayah Kabupaten Garut di
sebelah barat ialah Kabupaten Bandung dan Cianjur, di sebelah utara
ialah Kabupaten Sumedang, di sebelah timur ialah Kabupaten
Tasikmalaya, dan di sebelah selatan ialah Samudra Indonesia.

Kabupaten Garut termasuk salah satu daerah yang memiliki peninggalan
tradisi budaya masa lampau cukup kaya. N.J. Krom dalam laporannya yang
berjudul Rapporten van den Oudheidkundigen Diens in Nederlandsch Indie
(ROD, 1914), antara lain mencatat tentang adanya benda-benda sisa
kepurbakalaan budaya megalitik, benda-benda tinggalan masa pra-Islam
dan masa awal Islamisasi, dan salah satunya adalah situs Kabuyutan
Ciburuy.

Situs Kabuyutan Ciburuy dikenal karena berada di Kampung Ciburuy, Desa
Pamalayan, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut. Kabuyutan Ciburuy
ini dapat ditempuh dari Terminal Ciawitali Kota Garut dengan kendaraan
angkutan kota jurusan Bayongbong antara 30-50 menit, kemudian dari
jalan raya ke lokasi situs Kabuyutan Ciburuy berjarak sekitar 3
kilometer yang dapat ditempuh melalui jalan kecamatan/desa menggunakan
ojek dengan ongkos Rp 5.000.

Situs Kabuyutan Ciburuy ini terletak di sebuah perbukitan di kaki
Gunung Cikuray dengan batas arah, Desa Saderang di barat, Desa
Sindangsari di utara, Desa Batuageung di timur, dan Desa Cicayur di
Selatan. Situs Kabuyutan Ciburuy ini pun dilewati tiga aliran sungai
kecil, yaitu Sungai Ciburuy di sebelah barat, Sungai Cisaat di sebelah
timur, dan Sungai Baranangsiang di sebelah utara.

Luas area lokasi situs Kabuyutan Ciburuy sekitar satu hektare,
berpagar kawat berduri. Pintu gerbang utamanya terbuat dari tembok dan
besi yang berada di sebelah selatan, serta dilengkapi dengan sarana
mandi cuci kakus. Area lokasi situs ini pernah dilakukan pemugaran
yang selesai pada tanggal 21 Mei 1982 dan diresmikan oleh Prof.
Haryati Soebadio yang ketika itu menjabat sebagai Direktur Jenderal
Kebudayaan Departeman Pendidikan dan Kebudayaan.

**

Keberadaan Kabuyutan Ciburuy Garut telah sejak lama diberitakan,
antara lain oleh K.F. Holle (1867) bahwa di situ tersimpan
naskah-naskah Sunda Kuno yang berbahan lontar dan daun nipah, ditulis
menggunakan aksara dan bahasa Sunda Kuno, serta isinya cenderung
menyangkut hal-hal kehidupan yang berkaitan dengan masa pra-Islam di
wilayah Sunda. Pada masa lalu, Kabuyutan Ciburuy merupakan sebuah
mandala, yaitu sebuah model lembaga pendidikan sebelum berdirinya
tradisi pesantren di Tatar Sunda.

Kabuyutan Ciburuy bukan hanya sebagai tempat koleksi naskah semata,
tetapi dapat dipastikan merupakan skriptorium Sunda, yaitu salah satu
tempat kegiatan kaum intelektual untuk belajar serta mengembangkan
beragai bidang ilmu pengetahuan dalam bentuk tradisi tulis berupa
bundelan naskah-naskah berbahan lontar dan nipah. Hal ini didukung
dengan adanya tinggalan benda budaya yang masih tersimpan berupa
sebilah péso pangot, rangka kaca mata berbahan tanduk, gunting, piring
logam, tabung logam berkaki, yang semuanya termasuk kelengkapan alat
tulis masa itu.

C.M. Pleyte dalam kunjungannya pada tahun 1904 mendapat informasi dari
lurah di situ bahwa menurut cerita rakyat dahulu Cikuray itu biasa
disebut Srimanganti, berdasarkan nama sebuah kampung di lereng sebelah
barat gunung tersebut. Di samping itu, Pleyte pun pernah berkirim
surat kepada asisten residen di Garut, C.F.K. van Huis van Taxis.
Dalam surat jawabannya, asisten residen itu menerangkan bahwa Cikuray
itu memang disebut pula Srimanganti, sebuah nama kampung yang termasuk
Desa Cigedug. Namun, kampung itu sudah tidak ada lagi karena sudah
ditinggalkan penduduknya.

Situs Kabuyutan Ciburuy ini adalah salah satu saksi pernah adanya
”produsen kaum intelektual” di Tatar Sunda di masa lampau sehingga
membuat para pakar Belanda pada paruh kedua akhir abad ke-19 dan awal
abad ke-20, antara lain K.F. Holle dan C.M. Pleyte tertarik
memfokuskan penelitian mereka ke wilayah tersebut.

Di lokasi Kabuyutan Ciburuy ini ditempati lima bangunan berdinding
bilik bambu beratap daun rumbia (Sunda: hateup kiray) yang
masing-masing adalah:

1. Patamon merupakan bangunan berkolong ± 40 sentimeter yang berukuran
8 meter x 6 meter berserambi 8 meter x 4 meter dengan empat tiang
utama berukuran sekitar 4 meter dan berlantaikan palupuh. Bangunan ini
berfungsi sebagai tempat musyawarah adat dan menerima tamu.

Di dalam patamon ini tersimpan sebuah peti berisi beberapa lembaran
naskah berbahan saeh beraksara pegon dan benda-benda pusaka berupa
sebatang rotan ± 40 sentimeter dibungkus kain warna merah-putih, dua
bilah golok panjang, beberapa buah keris, sebuah cambuk, rantai logam
keemasan, alat kecantikan, bokor tembaga, dan gamelan. Menurut
penuturan kuncen Ujang Suryana, benda-benda budaya tersebut merupakan
peninggalan Prabu Siliwangi dan putranya, yakni Prabu Keansantang.

2. Leuit atau lumbung padi berkolong ± 1 meter yang berukuran 4 meter
x 2fi meter.

3. Saunglisung adalah bangunan tempat menumbuk padi yang berukuran 9
meter x 3 meter, berdinding bilik bambu setengah terbuka tanpa daun
pintu, dan berlantai tanah.

4. Padaleman, yaitu sebuah lahan berpagar dinding anyaman bambu
berukuran sekitar 10 meter x 50 meter, terbagi ke dalam tiga ruangan
berundak sama besar yang disekat dengan dinding anyaman bambu pula dan
tiap-tiap ruangan itu dihubungkan dengan pintu anyaman bambu. Pada
ruangan ketiga, yakni ruangan terdalam yang menempati lokasi paling
atas di lokasi itu terdapat sebuah bangunan berkolong ± 40 sentimeter
- 100 sentimeter, berukuran 9 meter x 5 meter. Di dalam bangunan ini
tersimpan tiga peti kayu yang masing-masing berisi kropak dan bundelan
naskah berbahan lontar dan nipah beserta benda pusaka berupa kujang,
trisula, genta, dan sebagainya.

Lahan padaleman ini merupakan inti dari situs kabuyutan yang berfungsi
sebagai sebuah mandala, semacam lembaga pendidikan sebelum adanya
tradisi pesantren pada masa Islam atau tradisi sekolah pada masa kini.
Pada tingkat bawah, yaitu ruang pertama tempat para pelajar yang biasa
disebut catrik atau sastrim; tingkat kedua, yaitu ruang tengah tempat
para pelajar yang biasa disebut ajar; dan tingkat ketiga, yaitu ruang
atas tempat para pelajar yang biasa disebut resi. Ketiga tingkat
pelajar tersebut biasanya diasuh atau dibimbing oleh resiguru atau
mahakawi.

5. Panyarangan atau pasigaran adalah sebuah bangunan berkolong ± 75
sentimeter yang berukuran 1,5 meter x 1,5 meter, berdinding palupuh
bambu dan bagian mukanya ditutup daun enau bertangkai dijepit bilahan
bambu. Bangunan ini berada di luar lokasi padaleman dan terletak pada
tempat paling atas/tinggi. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat
penyimpanan sementara seluruh peti sambil mengganti anyaman janur yang
dinamakan sinjang/samping sebagai pembungkus kropak bundelan naskah
lontar/nipah, khususnya yang terdapat di dalam peti ke-2, menjelang
dilakukan upacara tradisional.

**

Setiap tahun diselenggarakan rangkaian upacara tradisional yang
dinamakan upacara séba, sejenis upacara tradisi tahunan. Waktunya
jatuh pada setiap hari Rabu minggu ketiga pada bulan Muharam yang
dilangsungkan pada malam Kamis (Rabu malam) setelah waktu salat Isya.
Seluruh kropak dan bundelan naskah dikeluarkan dari dalam peti
penyimpanannya. Hal itu dimaksud untuk mengganti anyaman daun kelapa
muda (janur) pembungkus naskah yang dibuat setahun yang lalu dengan
anyaman janur yang masih segar. Upaya perawatan tradisional terhadap
naskah semacam ini agak mengkawatirkan karena cenderung dapat
meningkatkan kelembapan temperatur dalam setiap peti tempat
penyimpanan naskah.

Upacara séba yang dipimpin oleh kuncen Ujang Suryana, putra bungsu
Engkon, putra Aki Cudi, putra Aki Rasdi, putra Aki Rasidi, dan kuncen
yang sebelumnya tidak dapat ditelusuri lagi. Sementara Ujang Suryana
saat ini mengaku sebagai kuncen ke-149.

Dalam upacara séba dilakukan pencucian benda-benda atau barang-barang
pusaka yang dianggap sebagai benda peninggalan dari masa Prabu
Siliwangi dan Prabu Keansantang. Acara ini dilakukan sebagai tanda
penghormatan kepada kedua tokoh itu yang telah mewariskan harta
pusaka, di samping mendoakan arwah mereka beserta arwah para leluhur
lainnya, sekaligus sebagai wujud permohonan maaf apabila terdapat
kekurangan dan kealpaan selama menjaga serta merawat pusaka budaya
tersebut. (Undang Ahmad Darsa, dosen/peneliti Filologi Fakultas Ilmu
Budaya Universitas Padjadjaran) ***

Keberadaan Naskah Ciburuy Garut

Ada sebagian benda budaya berupa pusaka dan lembaran naskah di
Kabuyutan Ciburuy yang bernuansa islami, yakni yang tersimpan dalam
sebuah peti kayu di patamon. Sementara itu, keberadaan kropak dan
bundelan naskah Sunda kuno berbahan lontar dan nipah yang bernuansa
pra-Islam tersimpan di dalam tiga peti berjajar arah timur-barat pada
pago dalam bangunan tradisional di lokasi padaleman. Tidak ada
penomoran peti secara eksplisit di situ, tetapi peti yang terletak
paling timur biasa disebut sebagai peti pertama, peti kedua yang
terletak di tengah, dan peti yang ketiga yang terletak paling barat.

Penulis sendiri pertama kali mengenal Situs Kabuyutan Ciburuy pada
bulan Juni 1984, sebagai anggota tim peneliti naskah-naskah Lontar
Sunda Kuno yang diketuai (alm.) Saleh Danasasmita.

Kuncen saat itu adalah Engkon (65). Memang, tidak sembarang orang bisa
masuk ke dalam lokasi padaleman tanpa seizin kuncen, tetapi berhubung
kondisi penyimpanan yang kurang memenuhi standar sangat berpengaruh
terhadap kondisi fisik naskah di dalamnya. Bahkan, ada salah satu peti
tempat penyimpanan kropak-kropak naskah sudah rusak karena termakan
usia dan kena gigitan tikus hingga berlubang. Tidak heran jika ada
bundelan naskah yang rusak dimakan tikus.

Namun sekitar dua tahun yang lalu, alhamdulillah berkat seorang
dermawan dari Bandung yang sangat menaruh perhatian terhadap warisan
nenek moyang dengan secara tulus telah menyumbangkan dua peti kayu
yang salah satunya untuk mengganti peti pertama yang rusak itu dan
yang satunya lagi dipergunakan untuk menyimpan benda-benda pusaka di
ruang patamon.

Pada 16 Juli 2009 dilakukan kunjungan bersama Kapolwil Priangan saat
itu, Komisaris Besar Drs. Anton Charliyan, M.P.K.N. bersama
jajarannya. Setelah kunjungan itu, beliau menyumbang peti pelat besi
sesuai ukuran yang bisa diisi peti-peti kayu yang ada.

Secara kuantitatif, jumlah naskah yang terdapat dalam ketiga peti
tersebut, masing-masing: dalam peti pertama berisi sebelas kropak
triplek yang masing-masing terbungkus sarung kain putih. Kesebelas
kropak ini semuanya berisi naskah berbahan lontar digores dengan pisau
pangot. Kropak triplek ini tampak dibuat sekitar tahun 1990-an.

Dalam peti kedua berisi enam kropak kayu aslinya yang bercat warna
merah jingga, tigakropak di antaranya berhias motif tanaman rambat.
Adapun bahan naskahnya terdiri atas dua kropak berbahan lontar digores
dengan pisau pangot beraksara Sunda, dan empat kropak berbahan nipah
ditulis dengan tinta beraksara Budis/Gunung.

Dalam peti ketiga berisi empat kropak berwarna merah jingga bermotif
tanaman rambat, dan empat bundel naskah dengan penjepit kayu, jadi
berjumlah delapan naskah yang semuanya berbahan lontar digores dengan
pisau pangot beraksara Sunda. Selain berisi delapan naskah, peti
ketiga berisi pula benda-benda budaya berupa sebilah péso pangot,
sebilah kujang, satu gunting, satu kerangka kaca mata berbahan tulang
tanduk binatang, satu genta, satu piring besi, satu dudukan tombak,
dan dua trisula.

Dengan demikian, total ada 25 kropak naskah yang dianggap masih
”utuh”. Namun sesungguhnya, apabila dicermati secara lebih teliti
naskah-naskah dalam koleksi kabuyutan Ciburuy ini berjumlah 27 buah
karena terdapat dua bundel naskah yang tersimpan dalan satu kropak.
Jumlah tersebut masih tetap sejak penulis melakukan penelitian tahun
1984 hingga sekarang.

Bundel-bundel naskah dalam koleksi kabuyutan Ciburuy memang sudah
tidak memiliki benang/tali pengikat sehingga kemungkinan terjadinya
perbauran lempir-lempir halaman lontar sangat besar. Hal ini akan
mengakibatkan kesulitan untuk dilakukannya rekonstruksi teks tiap-tiap
naskah.

Koleksi naskah dalam Kabuyutan Ciburuy ini keberadaannya kurang begitu
dikenal masyarakat masa kini. Padahal Kabuyutan Ciburuy-Bayongbong
Garut merupakan peninggalan satu-satunya skriptorium Sunda Kuno yang
masih bertahan hingga sekarang. Kondisi naskah-naskah Sunda Kuno yang
berada di kabuyutan tersebut saat ini agak mengkhawatirkan dari segi
perawatannya, berbeda dengan kondisi naskah Sunda kuno yang berada di
Perpustakaan Nasional Jakarta yang tersimpan dalam ruangan dengan
temperatur yang standar. (Undang Ahmad Darsa)***

Pendidikan Sang Pemimpi dari Sukadamai

Membayangkan saung pos ronda kebanyakan, tak akan jauh berbeda dengan
saung yang satu ini. Keduanya sama-sama terbuat dari kayu dan bambu.
Jika berada di kedua saung itu pun, semilir angin begitu terasa dan
air hujan dengan bebas masuk ke dalamnya karena tak ada dinding yang
menahannya.

Hanya bedanya, saung ini lebih luas, kira-kira 7 x 5 meter persegi
dengan lantai yang lebih rendah dari saung pos ronda kebanyakan.
Lantai yang terbuat dari bambu itu pun sebagian terserak. Atapnya
keropos. Letak saung yang satu ini pun jauh dari permukiman warga,
meskipun dekat dengan sejumlah rumah.

Saung itu adalah Sekolah Dasar Islam Cita Madani. Jangan menebak
sekolah sangat sederhana ini berada di pedalaman Kalimantan bahkan
Papua. Saung ini berada di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Lebih tepatnya
di Lereng Gunung Sieum, Desa Sukadamai, Kecamatan Sukamakmur,
Kabupaten Bogor.

Lebih tepatnya lagi sekolah ini berjarak 74 kilometer dari ibu kota
negara Indonesia dan 35 kilometer dari Cikeas, kediaman Presiden
Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono.

Meski demikian, bagi Anda yang begitu fanatik dengan HP harus siap
gelisah karena sinyal HP di sana naik turun berkisar nol hingga dua
batang sinyal. Bahkan, listrik belum bisa dinikmati.

Untuk menuju ke sekolah ini, Anda harus menempuh tujuh belas kilometer
dari jalan utama, Jalan Mengker, Kab. Bogor. Jalannya tidak sepenuhnya
beraspal. Sekitar tujuh kilometer menuju Cita Madani, jalan berbatu
dan tanah menanjak menjadi satu-satunya pilihan. Tidak ada angkutan
umum, alias harus berjalan kaki.

Untuk mengantisipasi keterlambatan, siswanya pun berangkat pada pukul
12.00 WIB, setelah pagi hari mereka membantu orang tuanya. Kegiatan
belajar dimulai pukul 14.00 WIB dan berakhir pada pukul 16.30 WIB.

Petang itu bisa dikatakan penulis beruntung karena hari hanya gerimis
sehingga masih ada anak-anak yang datang. Itu pun sebenarnya jumlah
anak sudah berkurang cukup banyak. Ada tujuh puluh siswa yang
seharusnya hadir.

Di sek0lah itu, setiap hari hanya empat guru yang bertugas mengajar.
Semuanya adalah honorer dengan rata-rata penghasilan sebesar Rp
450.000 setiap bulan.

Setiap hari tidak semua siswa hadir ke sekolah itu. ”Karena beberapa
hari terakhir hujan, jalannya pasti susah. Apalagi di RT 1 dan 2,
jalannya masih berupa tanah merah. Jadi sekitar lima belas anak dari
sana pasti tidak bisa lewat, meskipun ini sekolah terdekat mereka,”
kata Zayyadi, pendiri sekolah itu.

Namun, hal itu tidak berarti belajar-mengajar diliburkan. Mereka
tetap belajar sesuai ”ruang kelas” masing-masing yaitu taman
kanak-kanak, kelas II, dan IV. Saat itu, siswa kelas I dan III tidak
ada yang hadir.

Imajinasi para siswa pun cukup kuat, terutama saat harus membayangkan
di sekitar mereka ada dinding pembatas antarkelas. Tentunya dinding
imajinasi itu akan membuat mereka tidak terlalu terganggu oleh suara
dari ”ruang kelas” lain.

Bagi Zayyadi, sedih rasanya melihat generasi Indonesia menyongsong
masa depan dengan fasilitas serba terbatas. Apalagi, dari hasil
pantauan para guru, murid-murid tadi mempunyai daya tangkap, daya
serap, dan respons yang baik. Tidak kalah dengan murid sekolah
berdinding tembok. Hal menonjol dari mereka yaitu punya daya juang
yang tinggi.

”Makanya, saya sedang berusaha mendapatkan bantuan bangunan fisik.
Saya sudah menyelesaikan syarat administrasi untuk mengurus izin di
Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor, tetapi entah kenapa sampai sekarang
tidak ada tindak lanjut. Padahal, saya sudah punya izin dari
Kementerian Pendidikan Nasional,” tutur Ketua Himpunan Pendidikan Anak
Usia Dini (Himpaudi) Kabupaten Bogor itu.

**

Itu hanyalah sekelumit gambaran pendidikan anak-anak daerah terpencil
di Indonesia. Pemerataan layanan dan akses pendidikan di Indonesia
belum dirasakan benar oleh semua penerus bangsa, sekalipun begitu
dekat dengan ibu kota negara atau tidak terlalu jauh dari rumah
Presiden Yudhoyono. Bagi mereka, pendidikan masih menjadi barang elite
alias mahal.

Di Indonesia, ada 2,15 juta anak usia 7-15 tahun belum mengecap
pendidikan pada 2008. Jabar menyumbang 35 persennya (lihat tabel).
Salah satu penyebabnya adalah minimnya layanan pendidikan dan sulitnya
akses pendidikan.

Padahal, Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun (untuk usia
tersebut) adalah program pemerintah yang dicanangkan sejak 1994.
Melihat kondisi pendidikan seperti itu, tak heran jika target
penuntasan program itu ngaret. Awalnya ditargetkan selesai pada 2004,
lalu 2008, sekarang diperpanjang lagi hingga 2014.

Selain tidak memungkinkan anak-anak mengenyam pendidikan, minimnya
layanan dan akses pendidikan juga menambah angka putus sekolah dan
keterlambatan usia masuk sekolah.

Seperti yang terjadi di Desa Sukadamai tadi, dengan akses yang sulit,
calon siswa baru masuk ke sekolah pada usia tidak ideal. Biasanya
mereka duduk di kelas III atau IV pada usia 17 tahun. Karena minder
atas usia atau tubuh yang lebih besar, mereka cenderung memilih
keluar.

Kalaupun tamat SD, mereka harus berhitung untuk melanjutkan. Pasalnya,
sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas biasanya terletak
di ibu kota kecamatan.

Ketua Lembaga Advokasi Pendidikan Dan Satriana menuturkan, layanan
pendidikan tak melulu berbicara tentang sekolah formal dengan bangunan
lengkapnya. Pemerintah sebaiknya menyusun program pendidikan yang
kreatif dan fleksibel dengan kondisi anak di daerah terpencil.

”Jangan berpikir harus selalu membangun sekolah formal. Itu tidak akan
efisien karena jumlah siswa pun relatif sedikit dan kenyataannya belum
didukung oleh kemudahan akses transportasi,” ujarnya.

Menurut dia, akan lebih baik pemerintah mendorong pusat kegiatan
belajar masyarakat (PKBM) dengan melibatkan masyarakat atau mendorong
guru kunjung.

**

Sayangnya, tindak lanjut Wajar Dikdas Sembilan Tahun tidak tersentuh
dalam program seratus hari Menteri Pendidikan Nasional 2009-2014.
Sesuai dengan program seratus hari itu, beberapa waktu lalu Kepala
Dinas Pendidikan Jawa Barat Wachyudin Zarkasyi mengatakan, untuk
daerah terpencil akan digunakan pendekatan informasi dan teknologi
(IT) karena sedikitnya jumlah siswa dan sulitnya distribusi guru.

”Untuk IT, SDM-nya (sumber daya manusia) sedang ditatar bekerja sama
dengan LPMP (lembaga penjaminan mutu pendidikan),” ujarnya.

Sementara itu, untuk masalah guru di daerah terpencil (gurdacil), kata
dia, pemerintah pusat sedang menyusun kebijakan khususnya.

Menurut Dan Satriana, pendekatan IT bukanlah langkah yang tepat untuk
daerah terpencil. ”Sinyal dan listriknya saja tidak ada,” katanya.
(Amaliya/”PR”)***

Mencari Paris di Bandung

Mencari Paris di Bandung
Oleh Jamaludin Wiartakusumah
.
Beberapa waktu lalu saya berkesempatan mengunjungi Paris ibukota Perancis. Sebuah kota di Eropa yang mengundang penasaran karena dijadikan julukan untuk kota Bandung, Parijs van Java. Julukan yang muncul pada masa kolonial Belanda dan tetap populer atau dikenang hingga kini. Tentu kunjungan singkat pada musim dingin di kota itu dipergunakan untuk mengidentifikasi julukan tersebut, dengan cara mencari kesamaan, kedekatan dan perbedaan antara Paris dengan  Bandung.
Dari segi geografis, ada dua kesamaan dalam skala yang berbeda. Pertama, Paris dan Bandung berada di pedalaman, bukan di tepi pantai atau kota pelabuhan. Meskipun begitu, keduanya berkembang seperti kota pelabuhan, yaitu menjadi kota yang menarik untuk didatangi orang dari berbagai tempat lain dan profesi termasuk seniman. Vincent Van Gogh dari Belanda atau Pablo Picasso dari Spanyol misalnya, merintis karir, berkarya dan pernah mukim di Paris. Demikian halnya Bandung, pernah menjadi tempat perintisan karir  seniman besar Indonesia seperti Affandi dan Hendra dan tempat domisili banyak seniman ternama.
Namun, bila di Paris karya seniman tersebut dikoleksi berbagai museum negeri seperti museum Louvre atau d’Orsay, sampai kini Bandung belum memiliki museum negeri serupa. Di Bandung, beberapa seniman sendirilah yang membuat museum karya-karyanya.
Kedua, adanya sungai yang melintasi kedua kota tersebut. Di tengah Paris mengalir sungai Seine yang lebar dan dilalui perahu, sedang di Bandung ada Cikapundung. Karena lebar, bersih dan di kedua sisinya terbentang jalan raya, kehadiran sungai Siene sangat terasa dan menjadi bagian penting dari kota Paris. Beberapa gedung penting berlokasi dekat sungai itu sehingga paket wisata menyusuri Siene sebagian besar berisi informasi mengenai gedung-gedung yang dilewati.  Sementara Cikapundung yang mengalir di tengah Kota Bandung, hanya tampak di beberapa kawasan saja seperti Viaduct dan di samping Gedung Merdeka. Selebihnya tampak hilang terhalang pemukiman. Di jembatan Jalan Suniaraja, wajah Cikapundung malah ditutup papan iklan besar karena kondisinya tidak elok sebagai bagian dari panorama kota dan kita belum cukup mampu membuatnya lebih baik. Sungai yang lebih mendekati ukuran dan fungsi Siene di seputar Bandung adalah Citarum.
Tata Kota
Salah satu ciri Paris adalah desain jaringan jalan yang banyak menggunakan sistem aksis atau sumbu yang memusat pada jalan melingkar seperti Bunderan HI di Jakarta.  Sebagian besar jalan utama, taman atau gedung penting tertentu berada dalam satu garis lurus atau memusat pada suatu monumen atau landmark kota.
Di Bandung sumbu aksis ini juga terlihat di sekitar Gedung Sate. Sebagian jalan di kawasan itu melingkar atau  mengarah pada Gedung Sate sebagai pusat aksis. Sementara Jalan Oto Iskandardinata yang membentang dari selatan, berujung di utara menghadap bangunan bekas pembesar Belanda kolonial yang sekarang disebut Gedong Pakuan, rumah dinas Gubernur Jawa Barat.
Selain menggunakan bangunan besar sebagai titik pusat, aksis di Bandung juga menggunakan landmark alam. Gedung Sate dan pendopo bekas kabupaten, menghadap ke gunung Tangkubanparahu di utara. Gerbang Institut Teknologi Bandung menghadap selatan dan kawasan tengah kampus dibiarkan terbuka sehingga Gunung Tangkubanparahu di utara masih terlihat.
Transportasi umum Paris terdiri dari metro, bis kota, trem, RER dan taksi. Metro adalah sistem mass rapid tranport berupa kereta di dalam kota yang sebagian besar berada di bawah tanah (terowongan) . Kereta ini memiliki  jalur rel dengan panjang keseluruhan sekitar 221 km dan jumlah stasiun 380. Dari stasiun bawah tanah ke permukaan kota, dihubungkan dengan tangga yang muncul di sekitar perempatan jalan, trotoar atau di tengah komplek perkantoran.  Jalur pertama Metro ini mulai dibangun pada tahun 1900 dan selesai pada 1939. Perpindahan penumpang dari satu stasiun ke stasiun jurusan lain dilakukan di bawah tanah melalui terowongan penghubung. Metro adalah sistem transportasi yang efisien, mengantar penumpang, warga Paris atau turis, ke dan dari penjuru kota Paris.
Trem adalah kereta listrik antar kawasan pinggiran Paris sementara kereta RER melayani tujuan Paris dan kota-kota di sekitarnya. Dengan trem, bepergian dari  satu kawasan pinggiran ke pinggiran lain, tidak perlu masuk ke tengah Paris dahulu.
200 Tahun
Di banding dengan Paris yang konon berumur lebih dari dua ribu tahun, Bandung sebagai kota tahun ini baru akan genap 200 tahun. Tentu usia Bandung bisa lebih dari itu bila melihat laporan Julian da Silva bahwa pada 1614 ada sebuah perkampungan bernama Bandung yang dihuni sekitar 25-30 rumah dan jauh lebih tua lagi bila merujuk pada temuan arkeologi yang menunjuk pada angka tahun 1488.
Sebagai kota yang dibangun Belanda pada masa kolonial, Bandung memiliki warisan khas berupa jejak desain awal. Mulai dari sebagai kota kecil tempat para preanger planter (londo pemilik perkebunan di sekeliling Bandung) berakhir pekan, dengan kawasan Braga sebagai pusat hiburan dan belanja. Sementara itu, di tengah kota banyak kawasan pemukiman satu lantai khas rumah model pedesaan Belanda jaman dahulu dan masih ada hingga sekarang. Kondisi ini menjadikan kota Bandung sebagai kota dengan nuansa pedesaan yang kental. Ini, saya kira, salah satu yang membuat Bandung menjadi kota yang khas pulau Jawa dan Indonesia umumnya.
Kondisi ini berbeda dengan Paris atau kota-kota Eropa lainnya karena desain hunian di sana seluruhnya model apartemen atau flat. Kepadatan populasi kota Bandung telah mulai diantisipasi. Para pengembang dewasa ini, yang sebelumnya mengikuti model hunian model pedesaan warisan Belanda, mulai membangun hunian model apertemen atau rumah susun.
Perbedaan skala kota terletak pada kondisi Paris yang ibukota sebuah negara dengan kondisi ekonomi, politik dan budaya yang mapan, sedang Bandung ibu kota provinsi negara dengan kondisi yang masih bergerak tumbuh. Meskipun itu bukan halangan untuk membangun Bandung menjadi kota yang lebih nyaman dihuni, lebih indah dinikmati.
Paris sejak lama dikenal dengan cafe-cafenya. Bandung sebagai kota tempat plesiran di akhir pekan sebagaimana jadi ciri khas Bandung tempo dulu, masih berlaku hingga sekarang. Bedanya kalau dulu pendatangnya adalah para juragan perkebunan, sekarang warga Jakarta dan kota di sekitar Bandung. Kondisi ini menumbuhkan bermacam kegiatan ekonomi terutama wisata belanja termasuk kuliner dalam bentuk rumah makan dan cafe. Tinggal bagaimana membuat solusi dari konsekuensi itu karena pada akhir pekan sering terjadi kemacetan luar biasa.
Sebagai Paris di pulau Jawa, tentu Bandung tidak harus meniru Paris, namun memang masih diperlukan lebih banyak upaya untuk membuatnya lebih terasa sebagai rumah yang nyaman bagi warganya dan ramah pada mereka yang datang untuk berakhir pekan.
        .
Jamaludin Wiartakusumah
Dosen Desain Itenas